RSS

13 Kesalahan dalam Mendidik Anak

16 May

kesalahan-mendidik-anakAnak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua bertanggung jawab terhadap amanah ini, terutama untuk mendidiknya dengan baik. Tidak sedikit kesalahan dan kelalaian dalam mendidik anak. Adapun rumah, adalah sekolah pertama bagi anak. Sebelum mendapatkan pendidikan di sekolah dan masyarakat, ia akan mendapatkan pendidikan di rumah dan keluarganya. Ia merupakan prototype kedua orang tuanya dalam berinteraksi sosial. Oleh karena itu, di sinilah peran dan tanggung jawab orang tua, dituntut untuk tidak lalai dalam mendidik anak-anak.

Orang tua memiliki hak yang wajib dilaksanakan oleh anak-anaknya. Anak juga mempunyai hak yang wajib ditunaikan oleh kedua orang tuanya. Di samping memerintahkan anak untuk berbakti kepada kedua orang tua, Allah Ta’ala juga memerintahkan kita untuk berbuat baik (ihsan) kepada anak-anak serta bersungguh-sungguh dalam mendidiknya. Demikian ini termasuk bagian dari menunaikan amanah Allah. Sebaliknya, melalaikan hak-hak mereka termasuk perbuatan khianat terhadap amanah Allah. Banyak nash-nash syar’i yang mengisyaratkannya, antara lain:

Allah berfirman,

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” [An-Nisa : 58]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَخُونُوا اللهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” [Al-Anfal : 27]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ كُلُّكُمْ مَسْؤُوْ لٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالإِمَامُ رَاعٍ وَ مَسْؤُوْ لٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ و رَجُلُ رَاعٍ في أَهْلِهِ وَ مَسْؤُوْ لٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban terhadap yang dipimpin. Maka, seorang imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya.” [Hadits Riwayat Al-Bukhari]

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعيْهِ اللهُ رَعِيَّةً يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ وَ هُوَ غَاشٍ لِرَعِيَّتِهِ إلاَّ حّرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الجَنَّةَ

Barangsiapa diberi amanah oleh Allah untuk memimpin lalu ia mati (sedangkan pada) hari kematiannya dalam keadaan mengkhianati amanahnya itu, niscaya Allah mengharamkan surga bagiya.” [Hadits Riwayat Al-Bukhari]

Ada beberapa bentuk kesalahan yang sering dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya dan sering kali dianggap sepele, padahal sebenarnya memiliki dampak yang signifikan bagi perkembangan atau psikologis anak. Apa sajakah kesalahan tersebut, simak uraiannya berikut ini.

1. Tidak memperhatikan ketika anak bicara

Ini adalah kesalahan fatal. Orang tua asyik menonton ketika anak mengajak bicara. Atau, orang tua seru dengan gadget ketika anak ingin diperhatikan. Malah terkadang menghardik anak karena merasa mereka sungguh mengganggu.

Sebaiknya ketika anak mengajak berbicara, tataplah matanya dan beri ia perhatian dengan benar-benar menyimak perkataannya. Beri sentuhan dan pelukan jika diperlukan. Memang anak-anak sering kali terlalu cerewet dan terus-menerus mengulang pertanyaan yang sama atau terkadang justru sebaliknya, tidak merespon perintah/permintaan yang kita sampaikan berkali-kali. Mungkin orang tua merasa jengkel, tapi sadarilah bahwa waktu itu tak akan kembali. Mereka akan segera tumbuh dewasa dan kita kehilangan momen kecil mereka. Oleh karena itu, segera hentikan dulu kegiatan menonton, mendengar musik atau bermain sosmed ketika anak mengajak kita untuk berbicara atau bercerita. Orang tua yang mau mendengarkan anak-anaknya berbicara atau bercerita, kelak akan merasakan manfaatnya.

Ketika anak tumbuh remaja, mereka akan merasa nyaman untuk bercerita pada orang tuanya ketimbang teman di sekolah. Mereka akan tumbuh menjadi anak yang cukup kasih sayang dan perhatian serta menjadi anak yang percaya diri karena mendapat dukungan penuh dari orang tua sejak kecil. Maka mulai sekarang, beri perhatian ketika anak mengajak mengobrol.

2. Memberikan pernyataan negatif

Kadang-kadang orang tua merasa marah kepada anak-anak mereka yang tidak melakukan apa yang mereka katakan. Kemudian muncul kata-kata atau pernyataan negatif dalam hal menilai anaknya, misalnya: “Kamu seperti orang yang pemalu!”; “Kamu begitu malas!”; “Kamu bodoh!”; “Kamu nakal!”; dan lain sebagainya. Jenis pernyataan atau penilaian yang tersampaikan langsung melalui kata-kata semacam itu dapat menyakiti perasaan anak-anak. Bisa jadi mereka akan menjadi seperti yang orang tua mereka katakan.

Sebaliknya, lebih baik katakan hal-hal yang positif kepada anak-anak anda. Jika anak-anak mendapatkan nilai buruk pada salah satu mata pelajaran di sekolah, maka jangan mengatakan, “Kamu bodoh!” atau sejenisnya, tapi sampaikan pernyataan dengan kata-kata yang positif, seperti contoh, katakanlah, “Jika kamu belajar lebih giat, kamu akan mendapatkan nilai yang lebih baik daripada ini karena kamu sebetulnya anak pintar.

3. Membantu anak mencari ‘kambing hitam’

Sering kali ada ucapan ketika anak jatuh atau terkena sesuatu, “Uuuh, dedek jatuh yaa. Ini lantainya nakal, mama pukul nih lantainya!

Cara seperti ini mungkin terlihat lucu dan membuat anak berhenti menangis, tapi secara psikologis anak akan segera menirunya. Anak cepat belajar bahwa ketika ada sesuatu yang tidak beres, mesti ada ‘kambing hitam’ untuk dipersalahkan. Tidak mengherankan suatu saat anak tumbuh besar, ia akan menjadi pribadi yang selalu mencari-cari kesalahan pada orang lain ketimbang diri sendiri ketika menjumpai masalah dalam kehidupannya.

Jadi, daripada berbuat demikian, lebih baik orang tua langsung memeluk anak dan menasehatkan kepadanya agar berhati-hati, “Kalau adik lebih hati-hati berlarinya, insyaAllah tidak akan terjatuh! Lain kali lebih hati-hati ya sayang…

4. Menasehati anak terlalu banyak/sering

Nasehat adalah sesuatu yang baik. Dengan nasehat, orang tua ingin menunjukkan hal yang baik dan yang buruk, sehingga anak bisa melakukan hal-hal positif serta menghindari hal-hal negatif yang bersifat merugikan. Namun, jika nasehat itu diberikan terlalu mendetail dan dalam intensitas yang terlalu sering, justru dikhawatirkan nasehat tersebut tidak bisa dimengerti oleh anak. Bahkan anak yang cerdas sekalipun, belum tentu mampu untuk menangkap maksud dari penjelasan yang terlalu banyak. Tidak sepantasnya pula orang tua memberikan perintah atau nasehat kepada anak, namun justru orang tua melakukan hal sebaliknya atau kontradiktif. Hal ini akan menyebabkan anak menjadi pembangkang dan tidak menuruti perintah atau nasehat orang tua.

Jika kondisi orang tua dalam keadaan lelah dan marah, dikhawatirkan nasehat yang baik akan bercampur dengan luapan emosi. Hal inilah yang bisa menyebabkan kesalahpahaman. Ketika orang tua pulang kerja atau setelah beraktifitas yang menguras tenaga dan pikiran, kemudian menemukan tingkah anak yang tidak baik, maka sebaiknya jangan tergesa-gesa memberikan nasehat pada anak. Tunggulah hingga kondisi fisik dan mental kita siap untuk menyampaikan suatu nasehat secara santun dan mengena di hati sang anak, dimana anak cenderung memiliki perasaan yang peka atau sensistif.

5. Mudah memberikan pujian dan hadiah

Mudah memberikan pujian atau bahkan hadiah bukan hal yang baik. Memberikan pujian atau hadiah dengan mudah memberikan kesan diobral atau murah. Oleh karena itu, orang tua perlu memberikan pujian atau hadiah yang tepat dan sesuai dengan kadar prestasi sang anak. Jika seorang anak melakukan sesuatu yang sederhana, tidak perlu memujinya dengan mengatakan, “Luar Biasa! Luar Biasa!” atau memberinya hadiah yang berlebihan. Karena anak secara alamiah akan menilai bahwa hal-hal yang dia lakukan merupakan sesuatu yang biasa-biasa saja atau luar biasa dengan presepsi yang salah.

6. Kurang menghargai anak

Salah satu kewajiban anak adalah menghargai dan menghormati kedua orang tuanya. Namun di sisi lain, orang tua juga harus menyadari bahwa anak mempunyai hak untuk dihargai. Satu hal yang perlu menjadi catatan bahwasanya seorang anak juga merupakan manusia biasa yang juga memerlukan suatu penghargaan terhadap apa yang mereka lakukan, baik secara lahirnya maupun batin atau perasaan. Hargai dan jagalah juga perasaan mereka dengan bersikap dan berkata secara halus, tetapi jangan berlebihan atau orang sekarang bilang “lebay” .Jadilah tauladan, karena apa yang dilakukan orang tua akan terekam dalam memori anak dan mereka akan sangat mudah untuk mencontohnya atau bahkan menceritakannya kepada orang lain.

7. Merapikan barang yang habis dimainkan anak

Memang cara ini lebih cepat dan efektif membuat rumah rapi, tapi sadarilah bahwa terus-terusan membereskan mainan anak yang berhamburan di lantai sama saja membentuk kebiasaan anak untuk tidak disiplin. Sebagai orang tua, kita perlu mendidik anak agar memiliki karakter disiplin. Boleh mainan terhambur berantakan, tapi setelah selesai harus dirapikan sendiri. Ajari anak untuk membereskan barang-barangnya dengan cara yang menyenangkan.

Jangan selalu menjadikan diri orang tua sebagai superhero yang selalu membereskan masalah anak-anak. Makanan berantakan, kita yang membereskan. Mainan berhamburan, kita juga yang membereskan. Kapan anak-anak diajarkan untuk mandiri dan bertanggung jawab? Kita perlu menyadari bahwa suatu saat kita tidak akan ada lagi di dunia ini. Jangan sampai meninggalkan anak-anak yang lemah dan tidak bisa apa-apa ketika ditinggalkan atau tanpa orang tua mereka.

8. Menyelak/menyerobot antrian

Pada saat bersama anak mereka, tidak sedikit orang tua yang justru mengajarkan kepada anak untuk menyelak atau menyerobot suatu antrian, misalnya ketika memasuki angkutan umum, antri membeli tiket, antri membayar di kasir, antri di SPBU, atau bahkan menerobos lampu merah di jalan raya atau palang pintu kereta padahal sedang membonceng anak. Sesungguhnya ini adalah hal yang terlihat lumrah di Indonesia, tapi menjadi akar ketertinggalan kita dibandingkan negara maju. Anak-anak di negara maju justru diajarkan untuk tertib mengantri, mereka malahan malu jika menyelak atau menerobos antrian.

Sadarilah bahwa mendidik anak perlu dengan mencontohkan langsung. Katakan kepada mereka untuk belajar bersabar dan menghargai hak orang lain dengan mengantri dan menunggu giliran.

9. Selalu membandingkan antar anak

Memiliki lebih dari satu anak mungkin berakibat membandingkan anak anda satu sama lain. Dalam hal memberi motivasi kepada salah satu anak agar seperti anak yang lain, pada kondisi tertentu mungkin bisa diterapkan. Tetapi ingat, mestinya hal tersebut tidak dilakukan setiap saat, perlu melihat situasi dan kondisi.

Kerap kali memperbandingkan hanya akan membuat anak merasa bingung dan menjadi kurang percaya diri. Anak-anak bahkan mungkin membenci orang tua mereka karena sering mendapatkan perlakuan buruk atau pada posisi yang disalahkan dari perbandingan tersebut (terhadap kakak, adik, atau anak-anak lain), sedangkan perkembangan setiap anak bisa saja berbeda-beda. Ada kalanya orang tua harus membantu untuk menyelesaikannya. Misalnya, ketika anak mengalami masalah ketika salah satu anak mengenakan pakaian, sementara saudara mereka yang lain bisa melakukannya dengan lebih cepat, maka orang tua membantu atau mengarahkan agar melakukannya secara benar.

10. Hampir selalu meminta sang kakak mengalah kepada adik

Satu hal lagi yang terlihat sepele padahal berdampak besar adalah kebiasaan menyuruh seorang kakak untuk mengalah kepada adiknya. Ketika kakak sedang asyik bermain boneka dan kemudian adik memintanya, biasanya orang tua akan cenderung memenangkan adik atau dengan kata lain meminta sang kakak untuk mengalah dan akhirnya sang kakak merasa kecewa atau dongkol karena ia selalu di-nomor-dua-kan. Terkadang pada kasus tertentu, sikap ini justru memberikan kesan kepada anak, bahwa orang tuanya membela atau melindungi yang salah.

Cobalah untuk mengajarkan kepada anak bahwa siapa pun yang sudah duluan bermain, maka yang ingin memakai mainan tersebut harus sabar menunggu giliran. Hal ini justru lebih adil daripada terus-menerus menyuruh sang kakak mengalah tanpa ia paham mengapa dirinya harus selalu mengalah, padahal ia tidak pernah meminta dilahirkan duluan. Biarkan kakak dan adik saling menyayangi dan berbagi, juga ajarkan mereka untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Kakak tidak harus selalu mengalah, adik tidak harus selalu dimanja. Keduanya bisa diposisikan sesuai situasi dan kondisi yang tepat.

11. Membesar-besarkan kesalahan anak

Orang tua hendaknya tidak membesar-besarkan kesalahan yang dilakukan oleh seorang anak. Orang tua harus memberikan penilaian yang proporsional terhadap suatu kesalahan dan menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang terlepas dari yang namanya kesalahan atau kekhilafan, termasuk sang anak. Begitupun ketika harus memberikan hukuman kepada anak. Tentu saja hukuman yang diberikan orang tua kepada anaknya bertujuan untuk kebaikan anak. Oleh karena itu, dalam menghukum anak harus tetap dengan cinta, bukan dengan emosi atau kekerasan dan hukuman fisik. Karena kekerasan secara fisik pada anak dapat menyebabkan keseimbangan emosi sang anak terganggu atau tidak jarang justru perilaku anak menjadi semakin liar.

12. Mendidik anak menjadi penakut

Metode menakut-nakuti ketika anak sedang menangis atau ketika menolak mengerjakan sesuatu bisa berakibat anak tumbuh menjadi pribadi yang penakut. Misal menakut-nakuti dengan gambaran sosok raksasa atau hantu, sehingga ia pun menjadi gemetar bila melihat bayangannya sendiri dan takut kepada sesuatu yang tidak semestinya.

Yang lebih berbahaya, tanpa sadar kadang kala orang tua justru membelokkan pemahaman sang anak dari perasaan takut karena diawasi Allah Ta’ala kepada ketakutan karena diawasi atau dilihat manusia atau makhluk lain. Sebagai contoh, anak akan mudah meninggalkan ibadah karena jauh dari kontrol orang-orang di sekitarnya serta hilangnya perasaan diawasi oleh Allah Ta’ala. Sudah semestinya, orang tua harus menanamkan pada diri anak akan rasa diawasi oleh Allah dalam setiap keadaan, baik keadaan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, sepi atau ramai, serta sedih maupun senang.

13. Mendidik anak dengan kemewahan

Orang tua yang selalu memenuhi semua permintaan anak serta mendidiknya dalam kemewahan akan menyebabkan anak tidak mempedulikan nilai harta, tidak pandai mengelolanya, bertingkah manja dan suka hura-hura serta cenderung mementingkan diri sendiri tanpa peduli orang lain.

Sudah seharusnya, orang tua bersikap selektif dalam memenuhi setiap keinginan anak dimana tidak semuanya bisa dipenuhi, tetapi disesuaikan dengan tingkat kebutuhan dan kepentingannya. Bahwa seorang anak harus dididik bahwa apa yang menjadi permintaan anak adalah sesuatu yang benar-benar dibutuhkannya dengan kadar atau jumlah secukupnya.

Itulah uraian mengenai beberapa kesalahan dalam mendidik dan memperlakukan anak. Tentunya masih banyak hal lain yang belum terbahas dalam poin-poin di atas. Prinsipnya bahwa perlakuan dan didikan orang tua kepada anaknya semasa kecil akan menentukan karakter mereka ketika beranjak remaja atau dewasa. Meskipun sebagian besar orang tua mengetahui bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab yang besar, tetapi masih banyak orang tua yang lalai dan menganggap remeh masalah ini dan bahkan mengabaikan masalah pendidikan anak serta tidak menaruh perhatian terhadap perkembangan anak-anaknya. Ketika anak-anak berbuat durhaka, melawan orang tua atau menyimpang dari aturan agama dan tatanan sosial, banyak orang tua mulai kebakaran jenggot atau justru menyalahkan anaknya. Tragisnya, banyak yang tidak sadar, bahwa sebenarnya orang tuanyalah yang menjadi penyebab utama munculnya sikap durhaka itu.

Semoga bermanfaat.

Sumber:

http://www.ummi-online.com/

http://www.satuislam.org/

http://www.tipsanakbayi.com/

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 16, 2015 in indahnya dunia

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: