RSS

Meringankan Beban Seorang Muslim

11 May

Melepaskan-Kesusahan-Seorang-Mukmin-300x300

Seorang yang membantu meringankan beban saudaranya sesama muslim, baik dengan bantuan harta, tenaga maupun pikiran atau nasehat untuk kebaikan memiliki keutamaan yang agung. Memenuhi kebutuhan kaum muslimin dan berusaha membantu mereka di dalamnya -terlebih mereka yang lemah dan kekurangan- merupakan amalan yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, dan Allah menjanjikan bagi pelakunya pahala yang sangat besar dan jaminan hidup di dunia dan di akhirat. Balasan disesuaikan dengan jenis amalan. Karenanya siapa saja yang berbuat baik kepada saudaranya, maka Allah akan berbuat baik kepada dirinya. Siapa saja yang memaafkan saudaranya, maka Allah akan memaafkan dosa-dosanya. Siapa saja yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang melepaskan kesulitan saudaranya, maka Allah akan melepaskannya dari kesulitan, dan demikian seterusnya. Yang jelas Allah Ta’ala akan senantiasa menolong seorang hamba selama dia masih memikirkan nasib saudaranya yang membutuhkan pertolongan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam salah satu hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barangsiapa yang melepaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah akan melepaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa yang memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama muslim. Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu rumah (masjid) dari rumah-rumah Allah untuk membaca Al Qur’an dan saling mengajari di antara mereka, melainkan ketenangan akan turun kepada mereka, mereka akan diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya. Barang siapa yang ketinggalan amalnya (untuk masuk surga), maka nasabnya (keturunannya) tidak akan bisa mempersegera dia (untuk masuk ke surga).” (HR. Muslim no. 2699)

Beberapa Faidah Penting

1) Hadits yang mulia ini menjelaskan keutamaan-keutamaan besar yang akan diraih seorang hamba apabila ia selalu menolong saudara-saudaranya kaum mukminin.

Ia akan meraih pertolongan Allah jalla wa ‘ala di dunia dan akhirat dan sungguh seorang hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah ta’ala, tidak akan mungkin seorang hamba meraih kebaikan apa pun tanpa pertolongan-Nya, apakah kebaikan di dunia terlebih di akhirat kelak, di hari yang tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya, di hari ketika harta benda dan jabatan tiada lagi bermanfaat kecuali amal-amal shalih.

Sahabat yang Mulia Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata,

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْرَى مَا كَانُوا قَطُّ، وَأَجْوَعُ مَا كَانُوا قَطُّ، وَأَظْمَأُ مَا كَانُوا قَطُّ، وَأَنْصَبُ مَا كَانُوا قَطُّ، فَمَنْ كَسَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَسَاهُ اللَّهُ، وَمَنْ أَطْعَمَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَطْعَمَهُ اللَّهُ، وَمَنْ سَقَى لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سَقَاهُ اللَّهُ، وَمَنْ عَفَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعْفَاهُ اللَّهُ.

Manusia akan dikumpulkan di hari kiamat dalam keadaan sangat membutuhkan pakaian, sangat kelaparan, sangat kehausan dan sangat kepayahan melebihi yang pernah mereka rasakan (di dunia), maka siapa yang (ketika di dunia) pernah memberi pakaian karena Allah ‘azza wa jalla, Allah akan memakaikan pakaian kepadanya, siapa yang pernah memberi makan karena Allah ‘azza wa jalla, Allah akan memberi makan kepadanya, siapa yang pernah memberi minum karena Allah ‘azza wa jalla, Allah akan memberi minum kepadanya, siapa yang pernah memaafkan karena Allah ‘azza wa jalla, Allah akan menjadikan manusia memaafkan kezalimannya.” [Jaami’ul ‘Uluumi wal Hikam, 2/287]

• Seorang Muslim hendaknya berupaya untuk membantu Muslim lainnya. Membantu bisa dengan ilmu, harta, bimbingan, nasehat, saran yang baik, dengan tenaga dan lainnya. Bila seorang Muslim membantu Muslim lainnya dengan ikhlas, maka Allâh Azza wa Jalla akan memberikan balasan terbaik yaitu dilepaskan dari kesulitan terbesar dan terberat yaitu kesulitan pada hari Kiamat. Oleh karena itu, seorang Muslim mestinya tidak bosan membantu sesama Muslim. Semoga Allâh Azza wa Jalla akan menghilangkan kesulitan kita pada hari Kiamat.

• Hadits ini juga menunjukkan makna sebuah kaidah besar dalam Islam, yaitu ‘al-jaza-u min jinsil ‘amal (balasan yang didapat seorang hamba adalah sesuai dengan jenis perbuatannya), karena meringankan beban seorang muslim berarti berbuat kebaikan kepadanya, dan balasan kebaikan adalah kebaikan yang semisalnya.

Allah Ta’ala berfirman:

{هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلا الإحْسَانُ}

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)” (QS ar-Rahmaan: 60).

• Melakukan perbuatan yang menyebabkan bahagianya hati seorang muslim adalah suatu kebaikan dan bernilai pahala, meskipun perbuatan tersebut dianggap sepele.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, meskipun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria.” (HR Muslim no. 2626)

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu.” [HR at-Tirmidzi (no. 1956), Ibnu Hibban (no. 474 dan 529) dll, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, dan dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani dalam “ash-Shahihah” (no. 572)].

• Kesusahan dan penderitaan yang dialami manusia dalam kehidupan dunia sangat kecil, bahkan tidak ada artinya, jika dibandingkan dengan dasyatnya kesusahan pada hari kiamat, sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih, oleh karena itu, barangsiapa yang diringankan baginya kesulitan di hari kiamat maka sungguh dia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.

2) Menolong seorang mukmin dan menghilangkan kesusahannya adalah amalan yang dicintai Allah tabaraka wa ta’ala, menunjukkan bahwa itu termasuk amal shalih yang sangat agung, yang menyebabkan kecintaan Allah subhanahu wa ta’ala kepada orang yang mengamalkannya.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ, أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً, أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا, أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا

Amalan yang paling dicintai Allah ta’ala adalah engkau menyenangkan seorang muslim, atau engkau mengatasi kesulitannya, atau engkau menghilangkan laparnya, atau engkau membayarkan hutangnya.” (HR. Abusy Syaikh dalam Ats-Tsawaab dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Shahihut Targhib: 955)

• Menghilangkan kesusahan seekor anjing saja menjadi sebab seorang pelacur mendapatkan ampunan Allah ta’ala, terlebih lagi menghilangkan kesusahan seorang mukmin.

• Apabila menghilangkan kesusahan seorang mukmin di dunia keutamaannya sangat besar, maka menghilangkan kesusahannya di akhirat tentu lebih besar lagi, yaitu dengan mengajarkan tauhid dan sunnah kepadanya, serta melarangnya dari melakukan syirik dan bid’ah.

• Sebagai contoh memberi kemudahan kepada yang kesulitan misalnya dalam hal utang. Ini dapat dilakukan dengan dua cara:

Pertama: Memberikan tempo dan kelonggaran waktu sampai ia berkecukupan dan mampu membayar utang. Ini hukumnya wajib, karena Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya,

Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu lebih bagimu, jika kamu mengetahui.” [al-Baqarah/2:280]

Kedua: Dengan membebaskan hutangnya, jika ia sudah tidak mampu lagi membayar hutangnya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَانَ تَاجِرٌ يُدَايِنُ النَّاسَ ، فَإِذَا رَأَى مُعْسِرًا قَالَ لِفِتْيَانِهِ : تَـجَاوَزُوْا عَنْهُ لَعَلَّ اللهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا ، فَتَجَاوَزَ اللهُ عَنْهُ

Dahulu ada seorang pedagang yang selalu memberikan pinjaman kepada manusia. Jika ia melihat orang itu kesulitan membayar hutangnya, ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Bebaskanlah hutangnya, mudah-mudahan Allâh memaafkan kita (dari dosa-dosa),’ maka Allâh pun memaafkannya.” [HR. al-Bukhâri (no. 2078, 3480), Muslim (no. 1562), an-Nasâi (7/318), dan Ibnu Hibbân (no. 5041, 5042)]

Dari Abu Qatâdah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُـنْجِيَهُ اللهُ مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ؛ فَلْيُنَفِّسْ عَنْ مُعْسِرٍ أَوْ يَضَعْ عَنْهُ

Siapa ingin diselamatkan oleh Allâh dari kesulitan-kesulitan hari Kiamat, hendaklah ia meringankan orang yang kesulitan (hutang) atau membebaskan hutangnya.” [HR. Muslim (no. 1563)]

Dari Abu Yasar Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ ، أَظَلَّهُ اللهُ فِـيْ ظِلِّهِ

Barangsiapa memberi kelonggaran waktu kepada orang yang kesulitan membayar hutang atau menghapus hutangnya, maka Allâh akan menaunginya dalam naungan-Nya.” [HR. Muslim (no. 3006)]

3) Kewajiban menjaga dan menguatkan persaudaraan antara kaum mukminin dengan saling memperhatikan dan tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” [Al-Hujurat: 10]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ المُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Seorang mukmin dengan mukmin yang lain bagaikan sebuah bangunan, satu dengan yang lainnya saling menguatkan.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu’anhu]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi dan berlemah lembut di antara mereka bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh tubuh akan ikut merasa sakit hingga tidak bisa tidur dan merasa demam.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu]

4) Hadits yang mulia ini juga menerangkan keutamaan ilmu dan penuntut ilmu serta hubungannya yang sangat erat dengan iman dan kasih sayang terhadap kaum mukminin.

• Bahwa menuntut ilmu agama, yaitu ilmu tentang Allah ta’ala, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya dan syari’at-Nya, akan mengokohkan keimanan dalam diri seorang hamba, kemudian melahirkan amal shalih, kemudian dengan iman dan amal shalih, seorang hamba akan meraih rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga ia selamat dari azab neraka dan masuk surga.

• Apabila menguat keimanan dalam diri seseorang, menguat pula kecintaannya kepada kaum mukminin.

Sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ

Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, menyayangi dan berlemah lembut bagaikan satu tubuh.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhuma)

5) Peringatan untuk tidak tertipu dengan kemuliaan nasab dan kehebatan nenek moyang, karena yang meninggikan derajat seseorang adalah amal-amal shalihnya sendiri, bukan karena nasab dan keturunan.

Al-Hafiz Ibnu Rajab rahimahullah berkata,

قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ، لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ» : مَعْنَاهُ أَنَّ الْعَمَلَ هُوَ الَّذِي يَبْلُغُ بِالْعَبْدِ دَرَجَاتِ الْآخِرَةِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: {وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا}، فَمَنْ أَبْطَأَ بِهِ عَمَلُهُ أَنْ يُبْلَغَ بِهِ الْمَنَازِلَ الْعَالِيَةَ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى، لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ، فَيُبَلِّغَهُ تِلْكَ الدَّرَجَاتِ، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى رَتَّبَ الْجَزَاءَ عَلَى الْأَعْمَالِ، لَا عَلَى الْأَنْسَابِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: {فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ}

“Sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang lambat amalannya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya”,

Maknanya adalah amalanlah yang dapat mengantarkan seseorang meraih ketinggian derajat di akhirat, sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا

Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (sesuai) dengan apa yang dikerjakannya.” (Al-An’am: 132)

Maka siapa yang lambat dalam beramal untuk meraih kedudukan yang tinggi di sisi Allah ta’ala, tidak akan dipercepat oleh nasabnya untuk sampai kepada kedudukan tersebut, karena Allah ta’ala menetapkan adanya balasan karena amalan, bukan karena nasab, sebagaimana firman-Nya,

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ

Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.” (Al-Mukminun: 101).

[Jaami’ul ‘Uluumi wal Hikam, 2/308]

Sumber:

http://sofyanruray.info/

http://manisnyaiman.com/

http://al-atsariyyah.com/

http://almanhaj.or.id/

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 11, 2015 in mutiaranya dakwah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: