RSS

Berniat Baik Saja Berpahala, Tapi Belum Cukup…

27 Mar

Abdullah bin Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata kepada ayahnya: ‘Berilah wasiat kepadaku wahai ayah’, lalu ayahku berkata:

 يَا بُنَيَّ انْوِ الْخَيْرَ فَإِنَّكَ لَا تَزَالُ بِخَيْرٍ مَا نَوَيْتَ الْخَيْر

Wahai anakku niatkanlah kebaikan, engkau senantiasa berada dalam kebaikan selama engkau terus meniatkan kebaikan“.

Ibnu Muflih Al-Hambali rahimahullah berkata:

وَهَذِهِ وَصِيَّةٌ عَظِيمَةٌ سَهْلَةٌ عَلَى الْمَسْئُولِ سَهْلَةُ الْفَهْمِ وَالِامْتِثَالِ عَلَى السَّائِلِ ، وَفَاعِلُهَا ثَوَابُهُ دَائِمٌ مُسْتَمِرٌّ لِدَوَامِهَا وَاسْتِمْرَارَهَا ، وَهِيَ صَادِقَةٌ عَلَى جَمِيعِ أَعْمَالِ الْقُلُوبِ الْمَطْلُوبَةِ شَرْعًا سَوَاءٌ تَعَلَّقَتْ بِالْخَالِقِ أَوْ بِالْمَخْلُوق

Ini adalah wasiat yang agung, mudah (diucapkan) oleh orang yang ditanya, mudah dipahami serta mudah diamalkan oleh orang yang bertanya. Seorang yang mengamalkan wasiat ini, pahalanya akan terus mengalir selama ia terus mengulang dan mengamalkan wasiat ini. Seluruh amalan hati yang dituntut dalam syariat termasuk dalam wasiat ini, baik berkaitan dengan Al-Khaliq (Allah) maupun makhluk.” [Al-Adab Asy-Syar’iyyah, 1/139]

Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa Allah ta’ala berfirman:

فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ، كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، وَإِنْ هَمَّ بِـهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهُ اللّـهُ عَزَّوَجَلَّ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ

Barangsiapa yang meniatkan kebaikan, namun tidak sempat melakukannya, Allah tetap menuliskannya sebagai kebaikan sempurna di sisi-Nya. Dan barangsiapa yang meniatkan kebaikan, lalu melakukannya, Allah ‘azza wajalla menuliskannya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kebaikan sampai kelipatan yang banyak...” [HR. Al-Bukhari no. 6491 dan Muslim no. 131]

Betapa besar rahmat Allah bagi orang-orang yang beriman. Hanya dengan niat yang jujur dan ikhlas akan memperoleh sekian banyak pahala tanpa merasakan letih dan lelah. Mulai hari ini, buatlah catatan amal shalih yang akan engkau kerjakan di esok hari, semoga tercatat di sisi Allah sebagai niat baik yang berpahala.

Pada tataran niatan, hal tersebut sudah berpahala, tetapi apakah cukup hanya dengan niat baik? Tentu saja belum cukup karena itu baru merupakan awal dari suatu amalan. Implementasi dari suatu niatan adalah dalam bentuk pengamalan dan syaratnya harus sesuai dengan petunjuk Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Fudhail bin Iyadh ditanya apa yang dimaksud amalan yang ikhlas dan benar?

Beliau jawab:

إن العمل إذا كان خالصا ولم يكن صوابا لم يقبل وإذا كان صوابا ولم يكن خالصا لم يقبل حتى يكون خالصا وصوابا فالخالص أن يكون لله والصواب أن يكون على السنة

“Yang namanya amalan jika niatannya ikhlas namun tidak benar, maka tidak diterima. Sama halnya jika amalan tersebut benar namun tidak ikhlas, juga tidak diterima. Amalan tersebut barulah diterima jika ikhlas dan benar. Yang namanya ikhlas, berarti niatannya untuk menggapai ridho Allah saja. Sedangkan disebut benar jika sesuai dengan petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam Jamiul Ulum wal Hikam)

Kami katakan bahwa amalan itu bisa diterima tidak hanya dengan niat yang ikhlas, namun juga harus sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini telah kami jelaskan pada pembahasan awal di atas. Jadi, syarat diterimanya amal itu ada dua yaitu [1] niatnya harus ikhlas dan [2] harus sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, amal seseorang tidak akan diterima tatkala dia melaksanakan shalat shubuh empat raka’at walaupun niatnya betul-betul ikhlas dan ingin mengharapkan ganjaran melimpah dari Allah dengan banyaknya rukuk dan sujud. Di samping ikhlas, dia harus melakukan shalat sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al Fudhail bin ‘Iyadh tatkala berkata mengenai firman Allah,

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk [67] : 2),

Beliau mengatakan, “yaitu amalan yang paling ikhlas dan showab (mencocoki tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

Lalu Al Fudhail berkata,

“Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima.” (Jami’ul Ulum wal Hikam)

Sekelompok orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka beralasan di hadapan Ibnu Mas’ud,

وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ.

Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.” Lihatlah orang-orang ini berniat baik, namun cara mereka beribadah tidak sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Mas’ud menyanggah perkataan mereka sembari berkata,

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid)

Kesimpulannya, bahwa tidak cukup seseorang melakukan ibadah dengan dasar karena niat baik, tetapi dia juga harus melakukan ibadah dengan mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga kaedah yang benar “Niat baik semata belum cukup.”

Referensi: 

http://abul-harits.blogspot.com

http://rumaysho.com

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on March 27, 2015 in mutiaranya dakwah

 

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: