RSS

Arti Penting Komunikasi dalam Keluarga

23 Feb

lesson7-00100

Komunikasi tidak terbatas hanya pada penyampaian pesan dari satu pihak kepada pihak lain saja. Ada hal mendasar yang harus ada agar komunikasi berjalan lancar, yaitu kepercayaan. Sebaik apa pun materi komunikasi jika tidak dilandasi kepercayaan, maka komunikasi akan menjadi sulit dan tidak efektif. Kunci komunikasi adalah kepercayaan, dan kunci kepercayaan adalah layak dipercaya. Nah, di sini integritas diri memainkan peranan penting. Integritas adalah fondasi utama untuk membangun komunikasi yang efektif. Integritas diri menggambarkan kesesuaian antara perbuatan dengan apa yang dikatakan. Di dalamnya terkandung pula unsur kejujuran. Masalah komunikasi di keluarga tak lepas dari peran orang tua yang sangat dominan. Kualitas komunikasi anak sangat dipengaruhi oleh sejauh mana orang tua berkomunikasi kepadanya. Komunikasi akan sukses apabila orang tua memiliki kredibilitas di mata anaknya. Begitu pula, komunikasi suami istri akan efektif bila keduanya telah saling percaya.

Bagaimana caranya agar komunikasi dalam keluarga bisa efektif? Ada lima hal yang harus diperhatikan, yaitu:

  1. Penghargaan (respect). Komunikasi harus diawali dengan sikap saling menghargai. Adanya penghargaan biasanya akan menimbulkan kesan serupa (timbal balik) dari si lawan diskusi. Orang tua akan sukses berkomunikasi dengan anak jika ia melakukannya dengan penuh penghargaan. Jika ini dilakukan, maka anak pun akan melakukan hal yang sama ketika berkomunikasi dengan orang tua atau orang di sekitarnya.
  2. Empati. Empati adalah kemampuan untuk menempatkan diri kita pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang lain. Syarat utama dari sikap empati adalah kemampuan untuk mendengar dan mengerti orang lain, sebelum didengar dan dimengerti oleh orang lain. Orang tua yang baik tidak akan menuntut anaknya untuk mengerti keinginannya, tapi ia akan berusaha memahami anak atau pasangannya terlebih dulu. Ia akan membuka dialog dengan mereka, mendengar keluhan dan harapannya. Mendengarkan di sini tidak hanya melibatkan indera saja, tapi melibatkan pula mata hati dan perasaan. Cara seperti ini dapat memunculkan rasa saling percaya dan keterbukaan dalam keluarga.
  3. Audible. Audible berarti dapat didengarkan atau dapat dimengerti dengan baik. Sebuah pesan harus dapat disampaikan dengan cara atau sikap yang bisa diterima oleh si penerima pesan. Raut muka yang cerah, bahasa tubuh yang baik, kata-kata yang sopan, atau cara menunjuk, termasuk dalam komunikasi yang dapat dimengerti dengan baik.
  4. Kejelasan. Pesan yang disampaikan harus jelas maknanya dan tidak menimbulkan banyak pemahaman, selain harus terbuka dan transparan. Ketika berkomunikasi dengan anak, orang tua harus berusaha agar pesan yang disampaikan bisa jelas maknanya. Salah satu caranya adalah berbicara sesuai bahasa yang mereka pahami dengan melihat tingkatan usia.
  5. Ketepatan. Dalam membahas suatu masalah hendaknya proporsi yang diberikan tepat baik waktunya, tema maupun sasarannya. Waktu yang tepat untuk membicarakan masalah anak misalnya pada waktu makan malam. Pada waktu sarapan pagi, karena ketergesaan maka yang dibicarakan umumnya masalah yang ringan saja.
  6. Kerendahan hati. Sikap rendah hati dapat diungkapkan melalui perlakuan yang ramah, saling menghargai, tidak memandang diri sendiri lebih unggul ataupun lebih tahu, lemah lembut, sopan, dan penuh pengendalian diri. Dengan sikap rendah hati ini maka lawan diskusi kita memjadi lebih terbuka, sehingga banyak hal yang dapat diungkapkan dari diskusi tersebut.

Komunikasi sebagai Sebuah Kebutuhan

komunikasiSemua pasangan yang telah menikah tentunya mendambakan keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah. Atau dengan kata lain, pasangan suami istri menginginkan baiti jannati (rumahku surgaku), yaitu pernikahan yang bahagia dan bukan rumah tangga yang penuh pertengkaran. Komunikasi suami-istri akhirnya menjadi bagian yang sangat dominan dimana unsur paling penting bagi kaum wanita dalam kepuasan akan hubungan mereka adalah adanya perasaan bahwa pasangan suami istri mempunyai komunikasi yang bagus. Dan sebaliknya, sebagian besar ketidakpuasan pernikahan bersumber dari kegagalan berkomunikasi. Komunikasi juga mempunyai pengaruh terhadap pendidikan anak.

Dalam kondisi yang wajar, kita cenderung menghabiskan sebagian besar waktu dengan berkomunikasi. Karena berkomunikasi merupakan sebuah kebutuhan dimana dengan komunikasi kita bisa mengekspresikan apa yang kita rasakan atau pikirkan, dengan komunikasi kita memahami cara pandang pasangan kita, ikut merasakan kesedihan dan kegembiraan anak kita, dan dengan komunikasi kita saling bertukar informasi. Akan tetapi sering kali dalam kehidupan hubungan keluarga, komunikasi antara suami dan istri lebih bertujuan untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat psikis daripada informatif.

Ketika seorang suami menceritakan kisah di lingkungan kerjanya, boleh jadi semua informasi itu sudah diketahui karena seringnya diceritakan/diulang-ulang, tetapi titik beratnya justru bukan pada substansi atau isi ceritanya semata, melainkan lebih kepada bagaimana memperhatikan dan diperhatikan, lebih kepada kebutuhan untuk mendengarkan dan didengar satu sama lain. Apakah masing-masing dari kita (suami/istri) sudah berperan menjadi pendengar yang baik? Atau jangan-jangan kita malah merespon secara emosional dengan menolak mendengarkannya karena merasa cerita tersebut pernah dikisahkan?

Ada sikap emosi yang berbeda signifikan dalam melihat suatu masalah, yaitu bahwa anak perempuan lebih cepat trampil berbahasa dan lebih cakap dalam mengutarakan perasaannya daripada anak laki-laki. Ternyata masalah-masalah dalam keluarga, seperti bagaimana mendidik anak, berapa banyak utang atau berapa banyak tabungan atau biaya sekolah anak, bukanlah menjadi hal utama yang menyebabkan retak atau tidak harmonisnya hubungan antara suami-istri. Namun bagaimana pasangan tersebut membahas masalah-masalah kaluarga itulah yang lebih berpengaruh terhadap nasib sebuah hubungan dalam ikatan pernikahan. Ada benang merah, bagaimana membuka komunikasi dalam keluarga hingga tercapai kata mufakat atau solusi dari sebuah masalah keluarga merupakan kunci keberlangsungan pernikahan yang lebih langgeng.

Ketika ada masalah, seharusnya masing-masing berpikir dan melihat segala sesuatu sebagaimana apa adanya secara obyektif. yang sering terjadi justru sebaliknya, kita melihat permasalahan bukan sebagaimana apa adanya adanya, melainkan sebagaimana kita adanya atau subyektif. Bahwa cara kita melihat dunia (paradigma/persepsi/prasangka) adalah sumber sikap dan perilaku kita dalam menanggapi suatu persoalan. Sikap mudah menyalahkan pasangan muncul lantaran perbedaan persepsi atau sudut pandang, misalnya suami menduga istri tidak lagi setia/sayang kepadanya, sedangkan istri menyangka suami sudah bosan kepadanya. Komunikasi antara keduanya (suami-istri) akan gagal jika masing-masing menafsirkan sebuah pernyataan atau kejadian dengan kerangka persepsinya sendiri (subyektif). Ketika suami sering pulang terlambat dari kantor dan langsung beristirahat, dengan persepsi masing-masing, suami menganggap biasa hal tersebut karena faktor kelelahan, tetapi sang istri justru menyangka bahwa suami sudah tidak setia lagi. Ketika tidak ada komunikasi satu dengan yang lainnya dan larut dengan prasangka/persepsi masing-masing, maka bukan tidak mungkin hubungan dalam keluarga akan semakin tidak baik dan dapat berujung pada sebuah perceraian. Dengan demikian, faktor komunikasi menjadi sangat penting dalam rangka menyatukan pandangan secara obyektif terhadap suatu masalah dalam keluarga.

Saling Menyalahkan Pasangan

conflict_resolutionSikap menyalahkan pasangan (patner blaming) merupakan bentuk pertahanan diri, ego, ketidakmauan dikoreksi atau karena ingin melegitimasi sebuah kesalahan sebagai sesuatu yang wajar dibandingkan kesalahan pasangannya. Masalahnya memang ada, tetapi apa yang dipersalahkan pasangan mungkin perkara yang tidak salah. Kita terlanjur memvonis salah sebelum mencari kejelasan (tabayyun) atau klarifikasi dan memandang masalah tersebut dari persepsi/prasangka kita sendiri. Bahkan juga terkadang kita tidak percaya atau tidak mau mendengar penjelasan yang disampaikan. Menyalahkan pasangan cenderung kepada tindakan menilai negatif (buruk sangka / negative thinking) pada pribadinya, bukan menunjukkan pada tindakan yang keliru secara spesifik. Oleh karena itu, sikap atau tindakan seperti ini lebih mudah menyulut kemarahan atau tindakan balasan karena merasa dipersalahkan atau tidak dipercaya.

Terkadang kita tidak bermaksud menyalahkan, tetapi ternyata ditafsirkan sebagai sikap menyalahkan karena sedang sensitif emosinya atau karena cara kita berkomunikasi bisa menimbulkan bersifat memaksakan kehendak. Contoh kasus, ketika seorang istri dalam kondisi capek karena seharian mengasuh anak mengambil sikap mendiamkannya saat rewel atau menangis. Suami yang bekerja tentu tidak banyak tahu tentang apa yang istrinya kerjakan selama ia tinggalkan. Pada saat sang suami baru pulang malam, ketika itu anaknya menangis. Istri membiarkannya untuk beberapa saat karena masih tanggung sedang memasak di dapur. Suami bereaksi dengan berkata, “Seorang ibu mestinya menyayangi anaknya. Kalau ibu sendiri tidak mau memperhatikan apakah ia harus mencari perhatian dari ibu teman-temannya. Cobalah kamu beri perhatian dan diamkan anakmu itu.” Kalimat suami tidak salah, hanya saja waktu penyampaian dan tujuan penggunaannya yang tidak tepat. Meskipun sang istri menyayangi anak sepenuh hati, tetapi bisa merasa terpaksa pada saat memeluk dan mendiamkan anaknya gara-gara ucapan suami. Bahkan istri bisa meledak-ledak marah kepada anak secara berlebihan sebagai bentuk pelampiasan atas kejengkelan terhadap suaminya. Jika suami mendengar atau membaca situasi tersebut, kemarahannya bisa tersulut karena ia merasa tidak marah pada sang istri. Suami merasa istri menyalahkannya, sementara sang istri sebenarnya hanya ingin memberitahu bahwa ia menyayangi dan memperhatikan anak, tetapi kondisinya sedang kecapekan dan suami tidak sepenuhnya memahami hal tersebut.

Hubungan antara suami-istri akan bertambah buruk jika keduanya sudah saling menyalahkan pasangan. Masing-masing kadang mudah terpancing dan langsung bereaksi oleh sikap yang ditunjukkan pasangan, sehingga berbalas menyalahkan. Masing-masing merasa sebagai pihak yang benar, di sisi lain ada yang tidak mau mengerti, padahal sebenarnya belum mencoba untuk saling terbuka dan saling memahami satu sama lainnya. Sikap saling menyalahkan ini rentan terhadap percekcokan, bahkan menimbulkan sikap saling menyarang antar pasangan. Ketika kita tidak lagi mengeluh berdasarkan nalar tetapi kritik tajam terhadap pribadi pasangan kita, kita membuka serangan yang mempunyai pengaruh emosional yang merusak.

Ada perbedaan antara keluhan dan kritik dimana dalam keluhan, secara spesisifik mengungkapkan perihal apa yang membuatnya tidak senang, sedangkan kritik diarahkan kepada tindakan -bukan pribadi- dari pasangan yang tidak menyenangkan. Kritik pribadi cenderung akan membuat orang merasa malu, tidak disukai, dipersalahkan dan tidak cakap yang dapat menimbulkan respon yang membela diri atau defensif daripada upaya untuk memperbaiki situasi.

Jika sudah terjadi saling menyalahkan pasangan, maka masing-masing akan memilih cara untuk menyelesaikan pertengkaran dengan cara lanjut bertempur atau kabur. Biasanya ada kecenderungan untuk mengambil langkah lanjut bertempur dengan marah-marah atau adu teriak yang tidak ada gunanya. Ada juga yang memilih kabur atau lari dengan cara menarik diri dan diam seribu bahasa. Sikap diam adalah benteng terakhir, yaitu tanpa berbicara yang ditandai oleh wajah tanpa ekspresi dan tidak memberi tanggapan apapun. Sikap diam membuat pihak lain menjadi bingung karena bisa berarti sikap menjauh, mengalah, merasa menang atau malah acuh tak acuh alias melecehkan. Dengan demikian, sikap diam ini dapat merusak suatu hubungan, dimana tindakan tersebut memutuskan semua kemungkinan untuk penyelesaian atas suatu perselisihan atau pertengkaran. Di sisi lain, sikap diam untuk mengalah dan menenangkan diri adalah suatu cara meredakan marah yang paling efektif meskipun tidak banyak orang yang bisa melakukannya. Seseorang cenderung untuk melampiaskan amarah hingga titik puncaknya.

Hadapi Kemarahan dengan Perilaku yang Baik

forgiveIbnu Baththol mengatakan, “Ketahuilah bahwa tutur kata yang baik dapat menghilangkan permusuhan dan dendam kesumat.

Lihatlah firman Allah Ta’ala,

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

Tolaklah (kejelekan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushilat: 34-35).

Menolak kejelekan di sini bisa dengan perkataan dan tingkah laku yang baik.” (Syarh al Bukhari, 17: 273)

Sahabat yg mulia, Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– mengatakan, “Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini.” Apalagi jika hal ini menyangkut permasalahan keluarga, tentu harus mengutamakan kemaslahatan yang lebih besar, yaitu keutuhan mahligai rumah tangga.

Keutamaan menahan marah pun disebutkan dalam hadits dari Mu’adz bin Anas, ia berkata bahwa Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا – وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ – دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ

Siapa yang dapat menahan marahnya padahal ia mampu untuk meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari kiamat sehingga orang itu memilih bidadari cantik sesuka hatinya.” (HR. Abu Daud no. 4777 dan Ibnu Majah  no. 4186. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergelut. Yang kuat, itulah yang kuat menahan marahnya. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Yang namanya kuat bukanlah dengan pandai bergelut. Yang disebut kuat adalah yang dapat menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609).

Komunikasi yang juga harus lancar adalah ketika suami memuliakan, bergaul dan berinteraksi dengan baik, melakukan apa yang dapat membahagiakan istri semampunya serta menahan diri dan bersabar dari keburukan yang ada pada istrinya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

Dan bergaullah dengan mereka secara patut, bila kamu tidak menyukai mereka, bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An Nisa” 19).

Salah satu cara memuliakan istri adalah dengan bersikap lembut dan bersanda gurau, mengangkatnya pada tempat yang semestinya dan tidak menyakitinya walaupun hanya dengan kata-kata kasar. Hal-hal yang dibenci oleh suami dari istri antara lain: istri yang menentang, tidak hormat dan tidak taat kepada suaminya, khususnya di depan orang lain; istri yang banyak mengomel dan menggerutu; istri yang boros dan suka berfoya-foya dalam hal-hal yang tidak penting; bodoh dalam berpikir, berbicara dan memberikan perhatian; tampil apa adanya di depan suami tetapi berhias untuk orang lain; berlebihan dalam memuliakan keluarganya dan meremehkan keluarga suaminya; sering berbohong, memuji pria lain di depan suami, atau membocorkan rahasia keluarga kepada keluarganya atau orang lain.

Sebaliknya hal-hal yang tidak disukai istri pada suaminya adalah suami yang jarang memperhatikannya, jarang mengajak bicara, tidak memperhatikan kecantikannya, tidak bisa memenuhi kebutuhan pokoknya, punya sifat pelit, sering pergi malam tidak dalam kerangka menegakkan dien, memandang dan berbicara dengan wanita bukan mahram di hadapan istri, kurang menghormati istrinya, khususnya di depan orang lain, kurang menghormati kerabat dan teman istrinya, atau sering menyepelekan kebutuhan pokok rumah tangga.

Ada hal yang sering diabaikan oleh suami atas hak seorang istri misalnya menuntut ilmu syariat dan dibantu dalam menuntut ilmu. Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Seorang suami mempunyai kewajiban menuntut ilmu dan kewajiban mengajarkan kepada istrinya, sehingga terdapat persamaan pemahaman antara suami dan istri mengenai dien Allah. Beberapa hal yang wajib dipelajari oleh seorang wanita adalah tauhid, mengenal Allah SWT, dengan keesaan-Nya dan sifat-sifat-Nya serta membenarkan Rasul-Nya, mengetahui halal dan haram, mengetahui tatacara shalat, bersuci, shaum, haji, dan zakat, mengetahui cara berinteraksi dengan suami serta hal-hal yang disukai dan dibencinya serta memahami kiat-kiat mendidik anak dengan benar.

Saling Memuji

Salah satu yang sering dilupakan dalam rangka menjalin komunikasi dan hubungan suami istri adalah saling memuji satu dan lainnya. Padahal pujian seperti ini bisa membangkitkan hubungan yang mungkin makin redup. Pujian pada istri adalah bagian dari berbuat maruf yang diperintahkan dalam ayat Al-Qur’an,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan bergaullah dengan mereka (istri-istri kalian) dengan baik.” (QS. An Nisa’: 19).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata mengenai surat An Nisa’ ayat 19 di atas, “Berkatalah yang baik kepada istri kalian, perbaguslah amalan dan tingkah laku kalian kepada istri. Berbuat baiklah sebagai engkau suka jika istri kalian bertingkah laku demikian.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 400)

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (QS. Al Baqarah: 228).

Pujian terhadap istri merupakan tanda kebaikan seorang suami kepada istrinya yang telah mendidik anak-anak, mengelola berbagai urusan rumah tangga seperti mencuci, memasak serta memperhatikan kebutuhan suami.

Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

Sebaik-baik kalian adalah yang berbuat baik kepada keluarganya. Sedangkan aku adalah orang yang paling berbuat baik pada keluargaku” (HR. Tirmidzi no. 3895, Ibnu Majah no. 1977, Ad Darimi 2: 212, Ibnu Hibban 9: 484. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Berbuat ma’ruf adalah kalimat yang sifatnya umum, tercakup di dalamnya seluruh hak istri. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, sang istri tercinta dengan panggilan Humaira, artinya wahai yang pipinya kemerah-merahan. Karena putihnya ‘Aisyah, jadi pipinya biasa nampak kemerah-merahan. Panggilan sayang tetap melekat pada suri tauladan kita yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan kata-kata jelek atau merendahkan yang keluar dari mulut seorang suami.

Dari Mu’awiyah Al Qusyairi radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kewajiban suami pada istri, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ – أَوِ اكْتَسَبْتَ – وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ

Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah” (HR. Abu Daud no. 2142. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Pujian dari suami pada istrinya tidak butuh biaya mahal, hanya dibutuhkan ketulusan dan rasa cinta pada pasangan. Memberi pujian dapat diungkapkan dengan kalimat-kalimat ringan, seperti: “Sayang, masakanmu hari ini luar biasa, loh!”

Ingatlah bahwa pujian sangat signifikan berpengaruh terhadap perasaan pasangan baik suami maupun istri, yang akan memberikan rasa dihargai, dipercayai dan dihormati. Tanpa pujian atau perhatian, mungkin yang ada hanya kecenderungan untuk saling mencela dan merendahkan pasangan. Semoga dengan kata pujian yang tulus dari hati semakin merekatkan hubungan mesra yang ada.

Komunikasi dan Pendidikan Anak

Komunikasi dapat berlangsung setiap saat, kapan saja, oleh siapa saja dan dengan siapa saja. Kelompok pertama yang dialami oleh seorang individu yang baru lahir adalah keluarga. Hubungan yang dilakukan oleh individu adalah dengan ibunya, bapaknya dan anggota keluarga lainnya. Karena tanggung jawab orang tua adalah mendidik anak, maka komunikasi yang berlangsung dalam keluarga, terutama antara suami dan istri bernilai pendidikan bagi anak-anaknya. Dalam komunikasi, ada sejumlah norma yang ingin diwariskan oleh orang tua kepada anaknya dengan pengandalan pendidikan. Norma-norma tersebut mencakup norma agama, akhlak, sosial, etika-estetika dan moral.

Sebagai contoh kasus, sifat manja sering kali dihubungkan dengan kasih sayang yang berlebihan, sehingga orang tua cenderung menjadi ekstra hati-hati dalam memberikan kasih sayang, bahkan kadang bersikap keras yang tidak pada tempatnya. Manja sebenarnya tidak berhubungan dengan banyak sedikitnya kasih sayang yang diterima anak. Sikap manja ternyata lebih banyak berhubungan dengan komunikasi orang tua dengan anak. Secara sederhana komunikasi orang tua dengan anak ada dua macam, yaitu komunikasi kepada anak secara langsung, berupa nasehat atau teguran dan komunikasi bersama anak berupa komunikasi antara suami-istri yang ikut didengar atau disaksikan oleh anak. Gaya bicara istri yang merajuk manja dan berisi keluh kesah bisa membawa anak untuk cengeng dan manja. Dari cara pengucapan, anak akan belajar cengeng dan manja, terlebih lagi isi keluhan membuat anak menghayati hidup sehari-hari sebagai beban, tidak mensyukuri karunia Allah, anak belajar memaknai rasa capek, ganjalan, dsb. sebagaimana ia mengidentifikasi dari orang tuanya. Ini hanya sebagai bentuk penyederhanaan atau simplifikasi dari kompleksitas faktor-faktor yang mempengaruhi sikap anak menjadi manja. Tetapi perlu kita cermati bahwa apa yang orang tua lakukan atau katakan adalah cermin pertama bagi anak untuk mengidentifikasi dan belajar memaknai apa yang terjadi di sekelilingnya.

Pola Komunikasi dalam Keluarga

teknik-berkomunikasiKeluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan manusia yang ia belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial, dalam interaksi mereka dengan kelompoknya. Dalam keluarga yang sesungguhnya, komunikasi merupakan sesuatu yang harus dibina, sehingga anggota keluarga merasakan ikatan yang dalam serta saling membutuhkan. Keluarga merupakan kelompok primer paling penting dalam masyarakat, yang terbentuk dari hubungan laki-laki dan perempuan, yang setidaknya berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan anak-anak. Keluarga dalam bentuk yang murni merupakan kesatuan sosial yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.

Pola komunikasi dalam keluarga adalah suatu pengorganisasian yang menggunakan kata-kata, sikap tubuh (gesture), intonasi suara, tindakan untuk menciptakan harapan image, ungkapan perasaan serta saling membagi pengertian. Dari pengertian ini, terkandung maksud mengajarkan, mempengaruhi dan memberikan pengertian. Sedangkan tujuan pokok dari komunikasi adalah memprakarsai dan memelihara interaksi antara satu anggota dengan anggota lainnya sehingga tercipta komunikasi yang efektif.

Komunikasi dalam keluarga juga dapat diartikan sebagai kesiapan membicarakan dengan terbuka setiap hal dalam keluarga baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, juga siap menyelesaikan masalah-masalah dalam keluarga dengan pembicaraan yang dijalani dalam kesabaran dan kejujuran serta keterbukaan.

Terlihat dengan jelas bahwa dalam keluarga adalah pasti membicarakan hal-hal yang terjadi pada setiap individu, komunikasi yang dijalin merupakan komunikasi yang dapat memberikan suatu hal yang dapat diberikan kepada setiap anggota keluarga lainnya. Dengan adanya komunikasi, permasalahan yang terjadi di antara anggota keluarga dapat dibicarakan dengan mengambil solusi terbaik.

Sumber:

> www.ukhuwah-i.tripod.com

www.rumaysho.com

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2015 in cintanya cinta

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: