RSS

Kultwit – Sumber Masalah Kesulitan Belajar pada Anak

15 Feb

sulit belajarOleh Rr. Dwi Estiningsih, S.Psi., M.Psi (Psikolog)

Jelang ujian kenaikan/kelulusan sekolah, biasanya orang tua sering menghadapi masalah, merasa anaknya tidak siap menghadapi; UTS, UAS, UAN, dll. Masalahnya selalu sama, sulit konsentrasi, malas belajar, kurang motivasi dan serangkaian perilaku lainnya. Saya akan menggunakan contoh-contoh kasus pada orang tua-anak yang sering terjadi (atau sejenisnya).

Kasus 1, seorang anak tak tahan belajar lama (5 menit misalnya). Selanjutnya lebih suka jalan-jalan di kelas & mengganggu teman. Anak ini juga tidak suka mengerjakan tugas-tugas sekolah; tidak mengerjakan PR dan menghindar tugas baca tulis. Anak ini sering kedapatan lemas di dalam kelas, tidak antusias mengikuti pelajaran dan sering mengantuk. Tingkat kecerdasan anak ini ternyata di atas rata-rata meski terdapat indikasi masalah belajar dan konsentrasi. Setelah ditelusuri, ternyata orang tua sibuk. Ia hanya ditemani pengasuh, sepupu yang remaja & neneknya. Kegiatan sehari-hari adalah nonton TV. Tontonannya macam-macam, infotainment bersama pengasuh, sinetron bersama nenek, film barat bareng sepupunya. Ia biasa tidur jam 11 malam.

Kasus 2, seorang anak laki-laki. Ibu gurunya mengeluhkan bahwa anak ini tidak memahami instruksi dan peraturan. Anak ini kesulitan mengungkapkan perasaannya. Seringkali hanya bisa menangis dan marah-marah jika ada hal yang tdk sesuai dengan maksudnya. Meski kesulitan dalam berhubungan sosial dan mengikuti pelajaran, ia mempunyai kecerdasan di atas rata-rata, umur 6 tahun sudah bisa baca tulis. Hal itu sering dibanggakan oleh orang tuanya. Mereka juga berkisah bahwa anaknya pernah melafalkan lagu bahasa Inggris yang sering dilihat di video. “Sekarang sudah hilang hafalan Inggrisnya. Saya sengaja tidak kasih nonton TV, tapi saya beri tontonan video-video pendidikan” kata sang Ibu. “Dia sebetulnya pintar, tapi kok perilaku aneh ya bu. Saya lihat di kelas cuma diam saja, seperti nggak nyambung” kata orang tuanya. Ini tentang anak.

Kasus 3, seorang anak laki-laki. Guru mengatakan bahwa anak ini sering tidak konsentrasi, lambat berpikir dan sering melamun. Anak ini juga sering malas-malasan dan semaunya di sekolah, sehinga pelajarannya tertinggal. Hasil asesmen menyebutkan bahwa selain ada masalah konsentrasi dan motivasi belajar, ternyata anak mengalami gangguan kecemasan. Anak ini suka main game. “Main game apa, nak?” “Hungry Shark, bu” Setelah saya lihat ternyata ada adegan hiu memakan manusia, dll.

Tiga kasus yang berbeda dan gejala yang berbeda, tapi polanya sama dimana TV, VIDEO, GAME menjadi sumber segala masalah KESULITAN BELAJAR pada anak! Hampir semua kasus kesukaran belajar dan perilaku pada anak non kebutuhan khusus terkait dengan 3 hal ini: TV, VIDEO, GAME. Saya sering dengar dalih orang tua ketika diberi saran “singkirkan TV”. “Nggak bisa nonton berita dong, nggak update dong, gimana nonton bola”, dll. Saya cuma prihatin & ‘ngelus dada’. Mengapa mengorbankan kecerdasan intelektual, emosional & spiritual anak hanya demi “hiburan”.

Perlu diketahui bahwa perkembangan kecerdasan anak sangat cepat di awal kehidupan dimana usia 0-4 tahun mencapai 50%, sampai usia 8 tahun 80% dan titik kulminasi di usia 18 tahun. Artinya “golden age“-nya adalah di usia 0-6 tahun (masa pra sekolah) dan finishing di usia 6-18 tahun (masa sekolah). Setelah usia 18 tahun, kecerdasan tidak berkembang lagi. Di atas usia 18 tahun, kecerdasan tidak berkembang lagi, hanya penambahan pengetahuan dan pemantapan pola belajar saja. TV, VIDEO dan GAME menghambat perkembangan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual? YA!

Bagaimana hal-hal ini menghambat kecerdasan intelektual?

Disajikannya banyak stimulus: SUARA, WARNA, GERAK, CAHAYA, BENTUK. Otak manja, tidak terlatih menyerap satu/dua stimulus. Pasti yang bersangkutan tidak suka membaca (hanya satu/dua stimulus – bentuk & warna). Kalau pingin contoh, lihatlah yang asal repply maki-maki tweet tanpa baca kultwit secara keseluruhan. Itu salah satu hasil dewasanya. Pasti yang gemar TV, VIDEO, GAME tidak suka atau kesulitan mendengarkan (hanya satu/dua stimulus – suara).

Lack of Critical Analysis. Nonton TV, VIDEO, GAME. Aktivitas otak kiri (pemikiran logis) pindah ke otak kanan (perasaan). Otak kanan (perasaan) dipaksa melakukan analisis kritis. Duh! Jelas menumpulkan pemikiran logis karena otak kanan tidak dapat dengan baik menganalisis informasi logis yang datang. Otak kanan malah akan merespon informasi secara emosional. Artinya hanya sedikit atau tidak ada analisis sewaktu datangnya informasi. Otak kiri tumpul ~ Kecerdasan intelektual terhambat!

Bagaimana hal-hal ini menghambat kecerdasan emosional?

Pada saat bersama TV, VIDEO dan GAME, seorang anak tidak mengembangkan “heart intelligence” / kecerdasan hati. Heart Intelligence terkait dengan mengenali diri, kepekaan intuisi, hubungan erat diri & orang lain. Heart Intelligence merupakan sumber emosi: love, care, appreciation, compassionHeart Intelligence adalah kemampuan mengatasi kendala. Daya juang. Emosi yang terbentuk adalah emosi manja dan semaunya. Hubungkan saja dengan orang yang tidak suka membaca. Mulai masuk akal? Individualistis, yaitu asik dengan dunianya sehingga tidak memerlukan orang lain. Sekalipun bersosialisasi sebatas memenuhi kebutuhan saja. Tidak kreatif dan cenderung plagiat. Tidak punya pikiran dan perasaan orisinil. Ingat! Otak kanan dikendalikan oleh TV, VIDEO dan GAME!

Bagaimana hal-hal ini menghambat kecerdasan spiritual?

Jelas ketika kecerdasan Intelektual dan Emosional terhambat, pasti mempengaruhi kecerdasan spiritual, apalagi jenis tontonan tidak mendidik. Tontonan mendidik sekalipun jangan terlalu sering, hanya sebagai informasi dan hiburan saja, bukan PEMAHAMAN! Pemahaman perlu pelajaran yang mendalam disertai pembiasaan dan contoh teladan. Pemahaman ilmu bukan dengan tontonan! Satu hal yang harus disadari di era perang pemikiran seperti sekarang.

Pernahkah kita bertanya: Mengapa kebanyakan tempat/negara mengalami penurunan luar biasa sedang pada “kaum tertentu” meningkat luar biasa? Pernahkah anda berpikir mengapa para bos Yahudi menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah yang bebas dari barang elektronik? Perang pemikiran yang luar biasa, karena salah satu senjatanya adalah TV, VIDEO dan GAME. TV, VIDEO dan GAME ini berpengaruh dalam hal:

  1. Hypnotic states ~ Menciptakan efek hipnotis, sehingga tercipta jalan yang mudah untuk memasuki alam bawah sadar.
  2. Physical addiction ~ Aktivitas otak kanan menyebabkan keluar kelenjar endorphin, penenang alami yang sifatnya seperti narkoba, pasti ketagihan!

Perang pemikiran yang canggih mampu memprogram pikiran lawan dengan memastikan otak selalu terbuka dan terkendali. Kasihan anak-anak kita (dan yang sudah dewasa) jika sejak kecil sudah dilemahkan dengan TV, VIDEO dan GAME, sehingga akhirnya membentuk mereka sebagai pecundang.

Sumber: TL @estiningsihdwi

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on February 15, 2015 in dunianya anak

 

Tags: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: