RSS

Resume Materi Rakorda PPLH Provinsi Kaltara

Resume Materi Rakorda PPLH Provinsi Kaltara

Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan (PPLH) Provinsi Kalimantan Utara dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 29 Maret 2017 di Gedung Universitas Kaltara Lantai 3 (Jl. Sengkawit, Tanjung Selor) serta Orientasi Lapangan pada hari Kamis – Minggu, 30 Maret – 02 April 2017 di Daerah Istimewa Yogyakarta

 

Materi I

Rencana Aksi Daerah di Dalam Penyusunan dan Pelaporan Data GRK Daerah untuk Mendukung RAN-GRK

(disampaikan oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan)

Perpres Nomor 71 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Inventarisasi GRK Nasional

Definisi Inventarisasi GRK:

  • Merupakan kegiatan memperoleh data dan informasi tingkat, status, dan kecenderungan perubahan emisi GRK secara berkala
  • Dari berbagai sumber emisi (source) dan penyerapnya (sink) termasuk simpanan karbon (carbon stock).
  • Meliputi : (1) Pertanian, Kehutanan, Lahan Gambut, dan Penggunaan Lahan Lainnya; (2) Pengadaan dan Penggunaan Energi; (3) Proses Industri dan Penggunaan Produk.; dan (4) Pengelolaan Limbah.

Prinsip Dasar Inventarisasi GRK:

  • Transparan (Transparancy): semua dokumen dan sumber data yang digunakan dalam penyusunan inventarisasi GRK tersedia dan terdokumentasi dengan baik.
  • Akurat (Accuracy): inventori yang disusun harus diupayakan tidak under atau over estimate.
  • Komplit (Completeness): mencakup semua jenis gas dari semua sumber dan rosot, jika tidak diduga harus disertai justifikasi.
  • Konsisten (Consistency): inventarisasi GRK untuk semua tahun menggunakan metode yang sama, sehingga perbedaan emisi antar tahun benar merefleksikan perubahan emisi dari tahun ke tahun.
  • Komparabel (Comparability): Inventarisasi GRK harus dilaporkan sedemikian rupa sehingga dapat diperbandingkan dengan iventarisasi GRK negara lain.

Tugas dan Wewenang Daerah dalam Inventarisasi GRK:

Provinsi:

  • Menyelenggarakan inventarisasi GRK di tingkat provinsi.
  • Mengoordinasikan penyelenggaraan inventarisasi GRK di kabupaten dan kota di wilayahnya.
  • Menunjuk unit pelaksana teknis daerah yang lingkup tugasnya di bidang lingkungan hidup.
  • Melaporkan hasil kegiatan inventarisasi GRK dari kabupaten dan/atau kota kepada Menteri LHK satu kali dalam setahun.

Kabupaten/Kota:

  • Menyelenggarakan inventarisasi GRK di kabupaten dan kota.
  • Menunjuk unit pelaksana teknis daerah yang lingkup tugasnya di bidang lingkungan hidup.
  • Melaporkan hasil kegiatan inventarisasi GRK kepada Gubernur secara berkala, satu kali dalam setahun.

Ilustrasi pengelompokan sektor inventarisasi GRK:

grk1 

Pedoman dan Rujukan Metodologi Inventarisasi GRK:

  • Inventory GRK Nasional Yang disetujui COP:
    • IPCC Guideline 2006 for National GHG Inventories (all parties are encouraged to use).
    • IPCC Guideline Revised 1996 for National GHG Inventories (mandatory for all parties).
    • IPCC Good Practice Guidance and Uncertainty Management in National GHG Inventories 2000 (Mandatory for Annex I Parties and Non-Annex I Parties encouraged to use).
    • IPCC Good Practice Guidance for LUCF 2003 (Mandatory for Annex I Parties and Non-Annex I Parties encouraged to use).
  • WRI 2004a. GHG Protocol – A Corporate Accounting and Reporting Standard.
  • WRI 2004b. GHG Protocol Initiative – GHG Estimation Tools.
  • ISO 14064/14065 GHG Inventory.

Perpres Nomor 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Gas Rumah Kaca (RAN-GRK)

Tujuan Umum:

  • Berkontribusi terhadap upaya global dalam rangka penurunan emisi.

Penjelasan Umum:

  • Terintegrasi dengan Rencana Pembangunan Nasional dan ter- update secara rutin.
  • Kegiatan utama/inti à terintegrasi dengan  berbagai sektor guna penurunan emisi, mencakup 5 (lima) bidang : Pertanian, kehutanan dan lahan gambut, energi dan transportasi, industri, dan limbah; serta aktivitas pendukung untuk memperkuat kerangka kebijakan, peningkatan kapasitas, dan penelitian.
  • Disusun berdasarkan proposal kegiatan dari K/L dan sesuai dengan kegiatan yang telah ada, serta memiliki manfaat tambahan untuk penurunan emisi gas rumah kaca.

Prinsip Dasar:

  • Tidak menghambat pertumbuhan ekonomi.
  • Meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui pembangunan yang berkelanjutan.
  • Perlindungan terhadap masyarakat miskin dan rentan.

Ketentuan Umum:

  • RAN-GRK merupakan pedoman bagi Kementerian/Lembaga untuk melakukan perencanaan, pelaksanaan serta monitoring dan evaluasi rencana aksi penurunan emisi GRK; dan bagi Pemerintah daerah dalam menyusun RAD-GRK.
  • RAN-GRK menjadi acuan bagi masyarakat dan pelaku usaha dalam pelaksanaan perencanaan dan pelaksanaan penurunan emisi GRK.
  • Pelaksanaan dan pemantauan RAN-GRK dikoordinasikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
  • RAN-GRK dapat dikaji ulang secara berkala (dikoordinasikan oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas) dan dilaporkan kepada Menteri Koordinator Perekonomian dengan tembusan kepada Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.
  • Pelaksanaan kegiatan RAN-GRK dilaporkan oleh Menteri/Kepala Lembaga kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian à tembusan kepada Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Menteri PPN/Kepala Bappenas, dan Menteri Lingkungan Hidup secara berkala à paling sedikit satu tahun sekali/sewaktu-waktu apabila diperlukan.
  • Sumber dana RAN-GRK bersumber pada APBN, APBD, dan sumber sah lainnya dan tidak mengikat sesuai peraturan perundangan.

Ilustrasi Pembagian Tugas RAN-GRK:

grk2.png

Kehutanan dan Lahan Gambut

Kebijakan:

  • Penurunan emisi GRK sekaligus meningkatkan kenyamanan lingkungan, mencegah bencana, menyerap tenaga kerja, dan menambah pendapatan masyarakat serta negara.
  • Pengelolaan sistem jaringan dan tata air pada rawa.
  • Pemeliharaan jaringan reklamasi rawa (termasuk lahan bergambut yang sudah ada).
  • Peningkatan produktivitas dan efisiensi produksi pertanian pada lahan gambut dengan emisi serendah  mungkin dan mengabsorbsi CO2 secara optimal.

Sasaran:

  • Menekan laju deforestasi dan degradasi hutan untuk menurunkan emisi GRK.
  • Meningkatkan penanaman untuk meningkatkan penyerapan GRK.
  • Meningkatkan upaya pengamanan kawasan hutan dari kebakaran dan pembalakan liar dan penerapan Sustainable Forest Management.
  • Melakukan perbaikan tata air (jaringan) dan blok-blok pembagi, serta menstabilkan elevasi muka air pada jaringan tata air rawa.
  • Mengoptimalisasikan sumberdaya lahan dan air tanpa melakukan deforestasi.
  • Menerapkan teknologi pengelolaan lahan dan budidaya pertanian dengan emisi GRK serendah mungkin dan mengabsorbsi CO2 secara optimal.

Energi dan Transportasi

Kebijakan:

  • Peningkatan penghematan energi.
  • Penggunaan bahan bakar yang lebih bersih (fuel switching).
  • Peningkatan penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT).
  • Pemanfaatan teknologi bersih baik untuk pembangkit listrik, dan sarana transportasi.
  • Pengembangan transportasi massal nasional yang rendah emisi, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.

Sasaran:

  • Menghemat penggunaan energi final baik melalui penggunaan teknologi yang lebih bersih dan efisien maupun pengurangan konsumsi energi tak terbarukan (fosil).
  • Mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan skala kecil dan menengah.
  • (Avoid) – mengurangi kebutuhan akan perjalanan terutama daerah perkotaan (trip demand management) melalui penata-gunaan lahan mengurangi perjalanan dan jarak perjalanan yang tidak perlu.
  • (Shift) – menggeser pola penggunaan kendaraan pribadi (sarana transportasi dengan konsumsi energi yang tinggi) ke pola transportasi rendah karbon seperti sarana transportasi tidak bermotor, transportasi publik, transportasi air.
  • (Improve) – meningkatkan efisiensi energi dan pengurangan pengeluaran karbon pada kendaraan bermotor pada sarana transportasi.

Pertanian

Kebijakan:

  • Pemantapan ketahanan pangan nasional dan peningkatan produksi pertanian dengan emisi GRK yang rendah.
  • Peningkatan fungsi dan pemeliharaan sistem irigasi.

Sasaran:

  • Mengoptimalisasikan sumber daya lahan dan air.
  • Menerapkan teknologi pengelolaan lahan dan budidaya pertanian dengan emisi GRK serendah mungkin dan mengabsorbsi CO2 secara optimal.
  • Menstabilkan elevasi muka air dan memperlancar sirkulasi air pada jaringan irigasi.

Industri

Kebijakan:

  • Peningkatan pertumbuhan industri dengan mengoptimalkan pemakaian energi.

Sasaran:

  • Melaksanakan audit energi khususnya pada industri-industri yang padat
  • Memberikan insentif pada program efisiensi energi.

Limbah

Kebijakan:

  • Meningkatkan pengelolaan sampah dan air limbah domestik

Sasaran:

  • Peningkatan kapasitas kelembagaan dan peraturan di daerah (Perda).
  • Peningkatan pengelolaan air limbah di perkotaan.
  • Pengurangan timbulan sampah melalui 3R (reduce, reuse, recycle).
  • Perbaikan proses pengelolaan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
  • Peningkatan/pembangunan/rehabilitasi TPA.
  • Pemanfaatan limbah/sampah menjadi produksi energi yang ramah lingkungan

Pelaksanaan Pemantauan, Evaluasi, dan Pelaporan RAN/RAD-GRK

Tujuan:

  • Mengetahui capaian pelaksanaan kegiatan RAN-GRK dan RAD-GRK;
  • Meningkatkan efisiensi pengumpulan data dan informasi pelaksanaan kegiatan dalam upaya pencapaian target penurunan emisi dan penyerapan GRK;
  • Menyiapkan bahan evaluasi untuk pengambilan kebijakan/tindakan yang diperlukan dalam rangka penyempurnaan pelaksanaan RAN-GRK dan RAD-GRK di tahun-tahun berikutnya;
  • Menyediakan laporan tahunan capaian penurunan emisi GRK

Pelaksana:

  • Koordinator Umum à Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
  • Koordinator Teknis à Menteri PPN/Kepala BAPPENAS Berdasarkan hasil PEP dari RAN-GRK dan RAD-GRK, Menteri PPN/Kepala BAPPENAS melakukan koordinasi kaji ulang sedangkan Menteri LH melakukan koordinasi verifikasi capaian penurunan emisi GRK.
  • Pejabat pelaksana kegiatan PEP RAN-GRK di tingkat nasional à Menteri/Kepala Lembaga terkait.
  • Pejabat pelaksana dan koordinator PEP RAD-GRK di wilayah provinsi à Gubernur
  • Pejabat pelaksana kegiatan PEP RAD-GRK per bidang di wilayah provinsi (termasuk kabupaten/kota) à Kepala SKPD tingkat Provinsi sesuai bidang terkait à Dikoordinasikan oleh Bappeda/BLH (Pokja RAD-GRK).

Pelaporan:

  • Terdiri atas: 1. Rencana dan Realisasi Aksi Mitigasi; 2. Anggaran (Target, Realisasi, Sumber pendanaan dll); dan 3. Hasil Penurunan Emisi GRK (Target, Realisasi dll).
  • Periode laporan pelaksanaan setiap 1 tahun.
  • Disertai dengan narasi/penjelasan mengenai masalah/kendala serta langkah penyelesaiannya.

Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN PPI)

Pendahuluan:

  • Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai National Focal Point UNFCCC telah melakukan Launching Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN PPI) untuk pendataan aksi dan sumber daya adaptasi dan mitigasi perubahan yang mengikuti kaidah clarity, transparency, dan understanding (CTU).
  • Launching SRN oleh Menteri Lingkungan LHK di Jakarta tanggal 1 Nopember 2016.
  • Launching SRN oleh Dirjen PPI, tangal 16 Nopember 2016 di Pavilion Indonesia COP 22 Marrakech-Maroko.
  • Dapat diakses melalui koneksi internet dengan alamat:

http://www.ditjenppi.menlhk.go.id/srn

Pengertian:

  • Sistem pengelolaan dan penyediaan data dan informasi berbasis web tentang aksi dan sumber daya untuk Adaptasi dan Mitigasi perubahan iklim di Indonesia.

Tujuan:

  • Pendataan aksi dan sumber daya Adaptasi dan Mitigasi perubahan iklim di Indonesia.
  • Pengakuan pemerintah atas kontribusi berbagai pihak terhadap upaya pengendalian perubahan iklim di Indonesia.
  • Penyediaan data dan informasi kepada publik tentang aksi dan sumber daya Adaptasi dan Mitigasi serta capaiannya.
  • Menghindari penghitungan ganda (double counting) terhadap aksi dan sumber daya Adaptasi dan Mitigasi sebagai bagian pelaksanaan prinsip clarity, transparency, dan understanding (CTU).

Gambaran Umum Alur SRN PPI:

srnppi1

Model Pengembangan Sistem dan Akses ke SRN:

  • Sistem dibangun agar bisa digunakan secara mudah dengan perangkat seperti komputer, laptop, tablet maupun smartphone.
  • Sistem dirancang dengan teknologi berbasis web agar dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat dan penanggung jawab aksi.
  • Sistem ditempatkan di dalam ruang server yang dikelola secara professional dengan internet dan listrik yang terjamin 24 jam.

Alur Proses:

srnppi2

Materi II

Kriteria Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) Industri dan Pertambangan

(disampaikan oleh Direktorat Pemulihan Kerusakan Lahan Akses Terbuka, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan)

Pendahuluan

  • Instrumen untuk mendorong pentaatan dan Peningkatan kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup, melalui penyebaran informasi kepada publik dan stakeholder (public information disclosure).
  • Peringkat PROPER terdiri dari 5 (lima) peringkat warna yang menggambarkan insentif dan disinsentif reputasi.
  • PROPER merupakan instrumen kebijakan alternatif untuk meningkatkan tingkat penaatan perusahaan dan mengurangi tingkat pencemaran melalui mekanisme penyebaran tingkat kinerja penaatan perusahaan secara nasional.

Acuan Penilaian Peraturan Pemerintah

proper1

Diagram Alir Pelaksanaan PROPER

proper2

Prinsip Dasar Penilaian PROPER

proper3

Pelaksanaan Dokumen Lingkungan / Izin Lingkungan

BIRU

  1. Memiliki dokumen lingkungan/izin lingkungan;
  2. Melaksanakan ketentuan dalam dokumen lingkungan/izin lingkungan:
    1. Luasan area dan kapasitas produksi masih sesuai Dokumen Lingkungan/Izin Lingkungan,
    2. Jika pengelolaan lingkungan terutama aspek pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, dan Pengelolaan LB3 memiliki dasar ketentuan dalam AMDAL/UKL-UPL/RKL-RPL/Laporan pelaksanaan UKL-UPL.
  3. Melaporkan pelaksanaan dokumen lingkungan/izin lingkungan (terutama aspek pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, dan Pengelolaan LB3).

MERAH

  1. Tidak melaksanakan ketentuan dalam dokumen lingkungan/izin lingkungan:
    1. Luasan area dan/atau kapasitas produksi tidak sesuai Dokumen Lingkungan/izin lingkungan,
    2. Jika Pengelolaan lingkungan terutama aspek pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, dan Pengelolaan LB3 tidak memiliki dasar ketentuan dalam AMDAL/UKL-UPL/RKL-RPL/Laporan pelaksanaan UKL-UPL.
  2. Tidak melaporkan pelaksanaan dokumen lingkungan/izin lingkungan (terutama aspek pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, dan Pengelolaan LB3).

HITAM

  • Tidak memiliki dokumen lingkungan.

Aspek Penilaian Pengendalian Pencemaran Air

  1. Ketaatan terhadap Izin IPLC:
  • Mempunyai izin pembuangan air limbah ke badan air/laut/aplikasi pada lahan
  • Izin dalam proses akhir akhir (persyaratan izin sudah lengkap)
  1. Ketaatan terhadap Titik Penaatan:
    • lokasi yang dijadikan acuan untuk pemantauan dalam rangka penaatan baku mutu air limbah.
  2. Ketaatan terhadap ParameterBaku Mutu Air Limbah:
  • 100% parameter baku mutu air limbah dipantau.
  • > 90% parameter dipantau khusus untuk industri sawit yang menerapkan aplikasi lahan (pH dan BOD harus terpantau).
  • Melakukan pengukuran parameter baku mutu air limbah harian sesuai jenis industrinya.
  • Menghitung beban pencemaran.
  1. Ketaatan terhadap Pelaporan Data per Parameter:
  • ≥ 90% data dilaporkan secara lengkap sesuai dengan persyaratan.
  • > 90% data pemantauan rata-rata harian dalam 1 bulan tersedia dari seluruh data pemantauan dalam 1 tahun.
  1. Ketaatan terhadap Pemenuhan Baku Mutu:
    • Data swapantau
    • ≥ 90% data pemantauan memenuhi baku mutu.
    • ≥ 95% data pemantauan parameter harian memenuhi baku mutu.
    • ≥ 95% data pemantauan parameter TSS dan kekeruhan kegiatan offshore memenuhi baku mutu dan titik penaatan  ambien sesuai dengan dokumen lingkungan.
    • ≥ 90% memenuhi ketaatan beban pencemaran.
    • 100% data pemantauan Tim PROPER memenuhi baku mutu.
  2. Ketaatan terhadap Ketentuan Teknis:
  • Menggunakan jasa laboratorium (eksternal atau internal) terakreditasi atau ditunjuk oleh Gubernur
  • Memisahkan saluran aliran limbah dengan limpasan air hujan
  • Membuat saluran air limbah kedap air
  • Memasang alat pengukur debit
  • Tidak melakukan pengenceran
  • Tidak melakukan by pass
  • Memenuhi seluruh ketentuan yang dipersyaratkan dalam sanksi administrasi
  • Untuk industri kelapa sawit yang melakukan aplikasi lahan harus memenuhi ketentuan teknis sesuai KepMenLH No. 28 Tahun 2003

Aspek Penilaian Pengendalian Pencemaran Udara

  1. Ketaatan terhadap Sumber Emisi dan Ambien:
  • Memantau 100% seluruh cerobong emisi.
  • Memantau udara ambien sesuai dokumen lingkungan.
  1. Ketaatan terhadap Parameter Baku Mutu:
    • Memantau 100% parameter sesuai peraturan.
  2. Ketaatan terhadap Jumlah Data per Parameter yang dilaporkan:
  • Melaporkan Secara Periodik :
  • Data pemantauan CEMS, setiap 3 bulan tersedia data ≥75% dari seluruh data pemantauan, dengan pengukuran harian minimal 18 jam.
  • Data pemantauan manual sesuai dengan peraturan yang berlaku selama periode penilaian.
  • Melaporkan hasil perhitungan beban emisi #kriteria baru 2017.
  • Melaporkan hasil perhitungan efesiensi kinerja pembakaran dari setiap sumber emisi #kriteria baru 2017.
  1. Ketaatan terhadap Pemenuhan Baku Mutu Emisi Udara:
  • Memenuhi BME Konsentrasi untuk:
  • Data hasil pemantauan CEMS memenuhi ≥ 95% ketaatan dari data rata-rata harian yang dilaporkan dalam kurun waktu 3 bulan waktu operasi.
  • Pemantauan manual memenuhi baku mutu 100% tiap sumber emisi.
  • Memenuhi BM beban emisi sesuai peraturan.
  1. Ketaatan terhadap Ketentuan Teknis:
  • Menaati semua persyaratan teknis cerobong
  • Bagi industri yang wajib memasang CEMS, peralatan CEMS beroperasi normal.
  • Semua sumber emisi non fugitive emisi harus dibuang melalui cerobong.
  • Menggunakan jasa laboratorium yang terakreditasi atau yang ditunjuk oleh Gubernur.
  • Memenuhi sanksi administrasi sampai batas waktu yang ditentukan.
  • Jika CEMS rusak wajib melaksanakan pemantauan manual setiap 3 bulan sekali selama 1 tahun periode penilaian.
  • Peralatan CEMS wajib memiliki sistem jaminan mutu (Quality Assurance) dan Pengendalian Mutu (Quality Control) #kriteria baru 2017.
  • Pengukuran emisi dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku (isokinetik) #kriteria baru 2017.
  • Melakukan audit energi bagi perusahaan dengan konsumsi energi ≥6000 TOE/tahun #kriteria baru 2017.

Aspek Penilaian Pengendalian Kerusakan Lahan Pertambangan

  1. Aspek Manajemen

K1. Perencanaan:

  • Menyediakan peta rencana dengan skala > 1:2000 yang mendapat persetujuan dari manajemen terkait.
  • Konsisten dgn rencana yg sudah ditetapkan.

K2. Kesinambungan Tahapan:

  • Tidak meninggalkan lahan terbuka terlalu lama.
  1. Aspek Teknis

K3. Stabilitas Geoteknik:

  • Mengatur ketinggian dan kemiringan lereng/jenjang agar
  • Acuan adalah kestabilan lereng dalam kajian FS.

K4. Potensi Pencemaran (AAT):

  • Mengidentifikasi potensi pembentukan AAT setiap jenis batuan  dan penyusunan strategi pengelolaan  batuan penutup.

K5. Erosi:

  • Membuat dan memelihara sarana pengendali erosi.
  • Membuat sistem penyaliran (drainage) yang baik supaya kualitas air limbah memenuhi baku mutu.

K6. Kebencanaan:

  • Memilih daerah timbunan dengan resiko kebencanaan paling kecil.

Penilaian

  • Nilai Total yang didapat untuk masing-masing tahapan memberikan kesimpulan dan status pengelolaan lingkungan untuk aspek pengendalian kerusakan lahan pertambangan.
  • Kriteria dibedakan menjadi :
  • Tidak Potensi Rusak ( X ≥ 😯 )        : BIRU
  • Potensi Rusak Ringan ( 55 ≤ X < 😯 ) : MERAH
  • Potensi Rusak Berat ( X < 55)         : HITAM

Materi III

Pengenalan Sistem Manifes Limbah B3 Secara Elektronik

(disampaikan oleh Direktorat Verifikasi Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dan Limbah Non Bahan Berbahaya dan Beracun)

Manifes Online

Aplikasi berbasis web yang digunakan untuk :

  • Proses pengajuan manifes limbah B3 secara online.
  • Proses approval manifes secara online.
  • Proses pencetakan form manifes secara online.
  • Proses pelaporan ke KLHK secara online.

Fase Perubahan via Manifes Elektronik (Festronik)

Tools:

  • Aplikasi terbangun
  • Peraturan Dirjen Tentang Uji Coba Manifes Elektronik Pengangkutan Limbah B3
  • Surat Edaran Dirjen Tentang Pelaksanaan Uji Coba Manifes Elektronik Pengangkutan Limbah B3

Progress:

  • Permohonan hak akses sudah dapat diterima KLHK
  • Sudah diberikan hak akses sebanyak 550 yang terdiri dari: 89 hak akses untuk penerima, 237 untuk pengirim, dan 224 untuk pengangkut
  • Pelatihan

To Do:

  • Penyebarluasan ke pihak pengguna
  • Optimalisasi aplikasi:
    • Hak akses BLH kab/kota dan Provinsi
    • Hak akses Penilaian Kinerja
    • Modul pelaporan
    • Integrasi Server

Pengangkutan Limbah B3 (Pergerakan Manifes LB3)

lb31

Bagan Alir Perjalanan Festronik

lb32

Akses ke Sistem Festronik

lb33

Tata Cara Permohonan Festronik Limbah B3

  • Untuk mendapatkan hak akses masuk ke sistem Festronik
  • Mengajukan permohonan tertulis.
  • Melakukan pendaftaran hak akses secara online di menlhk.go.id
  • Pemohon mendapat informasi mengenai persetujuan hak akses FESTRONIK

Persyaratan untuk Mendapatkan Hak Akses

Pengirim Limbah B3:

  • Identitas pemohon;
  • Fotokopi Akta Pendirian Badan Usaha;
  • Fotokopi Izin Lingkungan; dan
  • Surat Kuasa penunjukan administrator.

Pengangkut Limbah B3:

  • Identitas pemohon;
  • Fotokopi Akta Pendirian Badan Hukum terbaru;
  • Fotokopi Surat Rekomendasi Pengangkutan Limbah B3 yang masih berlaku;
  • Fotokopi Izin Pengangkutan Limbah B3;
  • Surat Kuasa penunjukan administrator.

Penerima Limbah B3:

  • Fotokopi Identitas pemohon;
  • Fotokopi Akta Pendirian Badan Usaha yang terbaru;
  • Fotokopi Izin Pengelolaan Limbah B3; dan
  • Surat Kuasa penunjukan administrator.

Diagram Alir Hak Akses

lb34

Diagram Alir Pengajuan Manifes Online

lb35

Input Aplikasi

  • Input aplikasi sesuai dengan Form Manifes Manual.
  • Data input terbagi menjadi 4, yaitu :
  • Pengirim Limbah,
  • Jenis Limbah dan Kemasan,
  • Pengangkut Limbah,
  • Penerima Limbah.

Output Aplikasi

  • Form Cetakan Manifes yang sudah disetujui Stakeholder.
  • Rekapitulasi dan History data pengiriman dan Penerimaan manifes.
  • Pelaporan manifes ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Tata Cara Pengisian

  • Tata cara pengisian dan persetujuan bagian I dilakukan dengan ketentuan:
    1. pengisian data dilakukan oleh Pengangkut Limbah B3;
    2. dalam hal terjadi ketidaksesuaian data sebagaimana dimaksud pada huruf a, pengirim Limbah B3 dapat meminta Pengangkut Limbah B3 untuk melakukan perubahan data; dan
    3. persetujuan dilakukan oleh pengirim Limbah B3 dengan cara menyetujui data sebagaimana dimaksud pada huruf a atau huruf b.
  • Tata cara pengisian dan persetujuan bagian II dilakukan dengan ketentuan:
    1. pengisian data dilakukan oleh Pengangkut pertama Limbah B3;
    2. dalam hal terjadi ketidaksesuaian data sebagaimana dimaksud pada huruf a, Pengangkut Limbah B3 kedua dan selanjutnya dapat meminta Pengangkut Limbah B3 untuk melakukan perubahan data; dan
    3. persetujuan dilakukan oleh Pengangkut Limbah B3 kedua dan selanjutnya dengan cara menyetujui data sebagaimana dimaksud pada huruf a atau huruf b.
  • Tata cara pengisian dan persetujuan bagian III dilakukan dengan ketentuan:
    1. pengisian data dilakukan secara otomatis oleh sistem;
    2. dalam hal terjadi ketidaksesuaian data sebagaimana dimaksud pada huruf a, penerima Limbah B3 dapat menolak manifes dan memberikan keterangan penolakan manifes;
    3. persetujuan dilakukan oleh penerima Limbah B3 dengan cara menyetujui data sebagaimana dimaksud pada huruf a.

Pencabutan Hak Akses Festronik

  • habis masa berlakunya – Izin PLB3,
  • terbukti melakukan pelanggaran – penyalahgunaan hak akses; dan
  • permintaan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan pengguna Festronik.

Tujuan Penerapan Festronik

  • Mempercepat proses administrasi pengiriman Limbah B3.
  • Memastikan penerimaan Limbah B3 kepada Pengelola Limbah B3 yang legal.
  • Pemantauan Pengiriman Limbah B3 oleh Penghasil Limbah B3.
  • Penyederhanaan aplikasi manifes manual, terutama antar moda.
  • Mempercepat proses pelaporan pengiriman Limbah B3.
  • Memudahkan pembuatan Laporan Limbah B3.
  • Membantu proses penyusunan Neraca LimbahB3.
  • Memudahkan sistem pemantauan dan pengawasan pengiriman Limbah B3.
  • Mengurangi beban ekonomi atas penerbitan stiker QR Code.

Contact

Website: http://www.festronik.menlhk.go.id

E-mail: festronik@menlhk.go.id

URL Aplikasi Training (Login untuk Ujicoba)

http://festronik.menlhk.go.id/training

URL Aplikasi Real Production (Login Utama)

http://festronik.menlhk.go.id

ORIENTASI LAPANGAN

Kunjungan I

Jpeg

Kantor Badan Lingkungan Hidup (BLH) DIY

Jl. Tentara Rakyat Mataram No. 53, Yogyakarta

Perda DIY No. 3 Tahun 2015 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Ketentuan Umum PPLH, antara lain:

  1. Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan peri kehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
  2. Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang selanjutnya disingkat PPLH, adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan dan penegakan hukum.
  3. Ekoregion adalah wilayah geografis yang memiliki kesamaan ciri iklim, tanah, air, flora, dan fauna asli, serta pola interaksi manusia dengan alam yang menggambarkan integritas sistem alam dan lingkungan hidup.
  4. Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh-menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup.
  5. Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang selanjutnya disebut RPPLH, adalah perencanaan tertulis yang memuat potensi, masalah lingkungan hidup, serta upaya perlindungan dan pengelolaannya dalam kurun waktu tertentu.
  6. Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup adalah rangkaian upaya untuk memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan.
  7. Pencemaran Lingkungan Hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia, sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan.
  8. Kerusakan Lingkungan Hidup adalah perubahan langsung dan/atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup, yang melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.
  9. Daya Dukung Lingkungan Hidup adalah kemampuan lingkungan untuk mendukung perikehidupan manusia, makhluk hidup lain, dan keseimbangan antar keduanya.
  10. Daya Tampung Lingkungan Hidup adalah kemampuan lingkungan untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya.
  11. Kajian Lingkungan Hidup Strategis, yang selanjutnya disebut KLHS adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh, dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program.
  12. Kebijakan, Rencana, dan/atau Program, yang selanjutnya disingkat KRP, adalah dokumen dalam bentuk rancangan atau telah berstatus hukum yang memuat tindakan pemerintahan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan tertentu termasuk didalamnya urusan perencanaan tata ruang serta rencana pembangunan.
  13. Rencana Tata Ruang Wilayah DIY, yang selanjutnya disingkat RTRW DIY, adalah hasil perencanaan kesatuan ruang geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional.
  14. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, yang selanjutnya disingkat RPJPD, adalah dokumen perencanaan pembangunan untuk periode 20 (dua puluh) tahun.
  15. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, yang selanjutnya disingkat RPJMD, adalah dokumen perencanaan pembangunan untuk periode 5 (lima) tahun.
  16. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup yang selanjutnya disebut Amdal adalah kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
  17. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup, yang selanjutnya disebut UKL-UPL, adalah pengelolaan dan pemantauan terhadap usaha dan/atau kegiatan yang tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
  18. Perubahan Iklim adalah berubahnya iklim yang diakibatkan langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia sehingga menyebabkan perubahan komposisi atmosfir secara global dan perubahan variabilitas iklim alamiah yang teramati pada kurun waktu yang dapat dibandingkan.

….

Tujuan PPLH :

  1. mewujudkan upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang konsisten dan konsekuen, untuk mencegah terjadinya penurunan kualitas lingkungan hidup;
  2. menumbuhkan kesadaran masyarakat dan pelaku usaha dalam kegiatan PPLH;
  3. melestarikan fungsi lingkungan hidup melalui upaya mencegah, menanggulangi, dan memulihkan lingkungan hidup yang tercemar dan/atau rusak;
  4. memelihara lingkungan hidup melalui upaya konservasi, pencadangan dan/atau pelestarian fungsi atmosfir terhadap perubahan iklim; dan
  5. memberikan kepastian hukum bagi setiap usaha dan kegiatan yang menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup.

Penjelasan

Umum:

  • Pembangunan di Daerah Istimewa Yogyakarta yang dinamis dengan meningkatnya berbagai usaha dan kegiatan mengakibatkan terjadinya perubahan ekologi yang cepat ternyata telah berdampak merusak lingkungan hidup. Meningkatnya pencemaran air, pencemaran udara, kerusakan lahan, dan tanah merupakan dampak dari pembangunan yang tidak memperhatikan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
  • Dari hasil inventarisasi permasalahan lingkungan hidup di Daerah Istimewa Yogyakarta yang dilakukan Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta diperoleh beberapa permasalahan lingkungan hidup yaitu: pencemaran air tanah, pencemaran udara, permasalahan sampah, kerusakan lahan akibat penambangan galian golongan C, kerusakan kawasan pantai akibat abrasi dan alih fungsi lahan, dan semakin menurunnya keanekaragaman hayati.
  • Kualitas air tanah dan air permukaan Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami penurunan, terutama di wilayah perkotaan diperkirakan terus mengalami ancaman pencemaran seiring terus bertambahnya jumlah penduduk serta berkembannya usaha atau kegiatan masyarakat. Sumber pencemaran air berasal dari limbah rumah tangga, peternakan, dan industri yang masih banyak membuang limbahnya langsung ke sungai tanpa diolah lebih dulu. Kondisi tersebut akibat masih kurangnya pemahaman, pengetahuan, dan ketrampilan dari berbagai pihak terkait dengan permasalahan pencemaran air tanah dan air permukaan.
  • Pencemaran udara di Daerah Istimewa Yogyakarta terutama di wilayah perkotaan yang ditunjukkkan dengan semakin mningkatnya kadar polutan udara untuk parameter CO2, NO2, HC, dan partikulat sebagai akibat meningkatnya usaha/kegiatan masyarakat dan juga bertambah pesatnya jumlah kendaraan bermotor baik roda empat maupun roda dua, serta akibat kondisi emisi gas buang dari kendaraan angkutan umum, terutama yang masih belum memenuhi baku mutu emisi gas buang menjadi penyebab memburuknya kualitas udara pada ruas-ruas jalan terutama di lokasi padat lalu-lintas, meskipun sampai saat ini kualitas udara ambien di Daerah Istimewa Yogyakarta relatif masih jauh di bawah baku mutu udara ambien yang ditetapkan.
  • Kerusakan lahan akibat penambangan galian golongan C terjadi di wilayah pesisir seperti di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo yang mempunyai potensi pasir besi meliputi Kecamatan Galur, Panjatan, Wates, dan Temon yang terdiri atas 10 desa wilayah pesisir yaitu Desa Kranggan, Banaran, Karangsewu, Bugel, Pleret, Karangwuni, Glagah, Palihan, Sindutan, dan Jangkar. Di pantai wilayah Kabupaten Gunung Kidul terjadi penambangan pasir putih pada sempadan pantai. Penambangan galian golongan C juga terjadi pada kawasan perbukitan karst di Kabupaten Gunung Kidul. Sedangkan di Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman marak terjadi penambangan pasir pada wilayah terlarang dan tidak melakukan upaya reklamasi pasca penambangan.
  • Kerusakan kawasan pantai akibat abrasi kawasan pantai selatan yang berada di Kabupaten Bantul terutama di kecamatan Srandakan, Sanden, dan Kretek dengan garis pantai kurang lebih 12 Km. Rusaknya ekosistem pantai dikhawatirkan mendorong terjadinya abrasi pantai. Dari ketiga kawasan pantai tersebut saat ini telah mengalami abrasi walaupun tingkat kerusakannya berbeda-beda. Pantai Parangtritis tingkat abrasinya lebih kecil dibandingkan dengan Pantai Samas, Pandansimo dan Kuwaru. Hal ini disebabkan adanya gumuk pasir yang lebih banyak dibandingkan dengan pantai lainnya sehingga dapat menghalangi terjadinya gelombang pasang. Abrasi terbesar tahun 2011 terjadi di pantai Kuwaru, Srandakan yang mengikis habis bangunan pelestari penyu, mercu suar, dan hanyutnya cemara udang. Akan tetapi keberadaan gumuk pasir juga mulai terancam adanya kegiatan lain yang ada di pesisir pantai selatan Bantul, padahal gumuk pasir ini merupakan laboratorium alam dan kekayaan alam yang sangat urgen untuk dilestarikan keberadaannya.
  • Kelembagaan dan kebijakan dalam pengelolaan lingkungan hidup selama ini menunjukkan kesungguhan komitmen Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta dalam upaya memperbaiki lingkungan hidupnya. Komitmen Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta di bidang pengelolaan lingkungan hidup cukup tampak nyata, terutama dengan misinya menjadi Provinsi Ramah lingkungan. Sebagai bukti kesungguhan komitmen Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta dalam mengupayakan dan memperbaiki lingkungan hidup, telah ditetapkan Peraturan Bersama Gubernur, Kapolda, Kajati, PPEJ dalam penegakan hukum, yaitu Peraturan Bersama Gubernur DIY, Kepala Kejaksaan Tinggi DIY, Kepala Kepolisian daerah DIY dan Kepala Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Jawa Nomor 25 Tahun 2006, Kep 76/04.1/09/06,B/2836/X/2006, Kep 23/PPLH Reg.4/09/2006 tentang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup Terpadu. Hanya saja kelembagaan dan kebijakan di bidang pengelolaan lingkungan tersebut masih mendapat tantangan yang berat untuk menciptakan lingkungan hidup yang baik di Yogyakarta.

Pasal per pasal:

  • Yang dimaksud dengan dampak dan resiko lingkungan hidup meliputi:
    1. perubahan iklim;
    2. kerusakan, kemerosotan, dan/atau kepunahan keanekaragaman hayati;
    3. peningkatan intensitas dan cakupan wilayah bencana banjir, longsor, kekeringan, dan/atau kebakaran hutan dan lahan;
    4. penurunan mutu dan kelimpahan sumber daya alam;
    5. peningkatan alih fungsi kawasan hutan dan/atau lahan;
    6. peningkatan jumlah penduduk miskin atau terancamnya keberlanjutan penghidupan sekelompok masyarakat; dan
    7. peningkatan resiko terhadap kesehatan dan keselamatan manusia.
  • Kriteria perubahan yang berpengaruh terhadap lingkungan hidup meliputi :
    1. perubahan dalam penggunaan alat-alat produksi yang berpengaruh terhadap lingkungan hidup;
    2. penambahan kapasitas produksi;
    3. perubahan spesifikasi teknik yang memengaruhi lingkungan;
    4. perubahan sarana Usaha dan/atau Kegiatan;
    5. perluasan lahan dan bangunan Usaha dan/atau Kegiatan;
    6. perubahan waktu atau durasi operasi Usaha dan/atau Kegiatan;
    7. Usaha dan/atau kegiatan di dalam kawasan yang belum tercakup di dalam Izin Lingkungan;
    8. terjadinya perubahan kebijakan pemerintah yang ditujukan dalam rangka peningkatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup; dan
    9. terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena akibat lain, sebelum dan pada waktu Usaha dan/atau Kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan.

Perda DIY No. 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Habitat Alami

Ketentuan Umum, antara lain:

  1. Habitat Alami adalah lingkungan tempat satwa dan tumbuhan dapat hidup dan berkembang secara alami.
  2. Pelestarian Habitat Alami adalah upaya dinamis untuk mempertahankan keberadaan Habitat Alami dan nilainya dengan cara melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkannya.
  3. Habitat Alami In Situ adalah lingkungan tempat satwa dan tumbuhan dapat hidup dan berkembang secara alami di tempat aslinya.
  4. Habitat Alami Ek Situ adalah lingkungan tempat yang dibentuk oleh manusia sebagai tempat satwa dan tumbuhan dapat hidup dan berkembang secara alami.
  5. Ekosistem adalah hubungan timbal balik antara unsur dalam alam baik hayati maupun non hayati yang saling tergantung dan pengaruh-mempengaruhi.
  6. Keanekaragaman Hayati adalah keanekaragaman makhluk hidup di muka bumi dan peranan ekologisnya yang meliputi keanekaragaman ekosistem, keanekaragaman spesies, dan keanekaragaman genetik.
  7. Satwa adalah semua jenis sumber daya alam hewani yang hidup di darat, air, dan udara.
  8. Tumbuhan adalah semua jenis sumber daya alam nabati yang hidup di darat dan air.
  9. Pelindungan adalah upaya mencegah dan menanggulangi dari kerusakan, kehancuran, atau kemusnahan Habitat Alami dengan cara melakukan konservasi dan rehabilitasi.
  10. Pengembangan adalah peningkatan kualitas, kuantitas, informasi, dan promosi Habitat Alami melalui Penelitian, Revitalisasi, dan Adaptasi secara berkelanjutan serta tidak bertentangan dengan tujuan Pelestarian.
  11. Pemanfaatan adalah pendayagunaan Habitat Alami untuk kepentingan masyarakat dengan tetap mempertahankan kelestariannya.
  12. Inventarisasi adalah kegiatan pencatatan dan/atau pengumpulan data Habitat Alami dan Keanekaragaman Hayati.
  13. Identifikasi adalah penentuan atau penetapan identitas Habitat Alami dan Keanekaragaman Hayati.
  14. Penetapan adalah pemberian status tempat satwa dan tumbuhan sebagai Habitat Alami oleh Pemerintah Daerah berdasarkan rekomendasi dari Tim Habitat Alami.
  15. Konservasi adalah upaya melakukan pemeliharaan Habitat Alami In Situ dan pembentukan Habitat Alami Ek Situ.
  16. Rehabilitasi adalah upaya pemulihan kembali terhadap Habitat Alami yang mengalami kerusakan atau penurunan fungsi dan kualitasnya.
  17. Penelitian adalah kegiatan ilmiah yang dilakukan menurut kaidah dan metode yang sistematis untuk memperoleh informasi, data, dan keterangan bagi kepentingan Pelestarian Habitat Alami, ilmu pengetahuan, dan pengembangan budaya.
  18. Revitalisasi adalah kegiatan pengembangan yang ditujukan untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai penting Habitat Alami dengan penyesuaian fungsi ruang baru yang tidak bertentangan dengan prinsip Pelestarian dan nilai budaya masyarakat.
  19. Adaptasi adalah upaya pengembangan Habitat Alami untuk kegiatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masa kini dengan melakukan perubahan terbatas yang tidak akan mengakibatkan kemerosotan nilai pentingnya atau kerusakan pada bagian yang mempunyai nilai penting.

Tujuan pengaturan pelestarian Habitat Alami adalah:

  1. melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan Habitat Alami secara lestari dan berkelanjutan;
  2. melindungi satwa dan tumbuhan yang hidup di Habitat Alami;
  3. menciptakan sinergi antara Pemerintah, Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota, dan Pemerintah Desa dalam Pengelolaan Habitat Alami;
  4. memberikan pedoman kepada Pemerintah Kabupaten/Kota dalam melakukan Pelestarian Habitat Alami; dan
  5. memperkuat peran serta masyarakat dalam melestarikan Habitat Alami.

Penjelasan

Umum:

  • Bangsa Indonesia dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Esa kekayaan alam yang sangat luar biasa, berupa keanekaragaman sumber daya alam baik hayati maupun non hayati. Potensi keanekaragaman sumber daya hayati perlu dikelola dan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat di masa kini maupun masa mendatang dengan menerapkan prinsip-prinsip kelestarian dan keberlanjutan.
  • Filosofi Daerah Istimewa Yogyakarta “Hamemayu Hayuning Bawono” mempunyai makna yang dalam, yakni membuat dunia menjadi semakin hayu “indah”. Pemerintah Daerah bersama setiap orang yang menjadi warga DIY mempunyai tanggung jawab menjadikan dunia, berupa manusia, Satwa, Tumbuhan, alam, dan lingkungan sekitarnya menjadi indah. Untuk memberikan daya dukung terhadap Keanekaragaman Hayati yang merupakan anugerah luar biasa dari Tuhan Yang Maha Kuasa diperlukan Habitat Alami yang baik. Filosofi Hamemayu Hayuning Bawana merupakan konsep yang diterapkan untuk pengelolaan lingkungan dan masyarakat yang mengedepankan harmoni antara manusia dengan lingkungannya.
  • Tradisi masyarakat Yogyakarta dengan keunikannya secara sadar dipelihara dan dikembangkan. Pelestarian tradisi dan budaya memerlukan sarana (uba rampe) yang berasal dari alam baik Satwa maupun Tumbuhan.
  • Undang Undang Nomor 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Convention On Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Keanekaragaman Hayati) mengarahkan untuk adanya Habitat Alami sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya setiap makhluk hidup secara alami.
  • Memperhatikan perkembangan lingkungan hidup yang merupakan Habitat Alami Satwa dan Tumbuhan semakin terdesak karena perkembangan pemenuhan kebutuhan manusia maupun kerusakan yang disebabkan oleh bencana alam yang mengancam kelestarian Habitat Alami sebagai faktor penting kelestarian Keanekaragaman Hayati, maka dipandang perlu mengatur Habitat Alami.
  • Pelestarian Habitat Alami dengan memperhatikan prinsip tata pemerintahan yang baik, serta harmonisasi berbagai aspek Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan ekosistemnya bagi kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan.

Pasal per pasal:

  • Kelestarian adalah usaha pengendalian/pembatasan dalam Pelindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan Habitat Alami dan ekosistemnya.
  • Keterpaduan adalah pengintegrasian kebijakan dengan perencanaan berbagai sektor pemerintahan secara horizontal dan secara vertikal antara Pemerintah, Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa.
  • Partisipasi Masyarakat adalah bentuk tanggung jawab masyarakat terhadap upaya Pelestarian Habitat Alami, yang dapat berupa menyebarluaskan informasi, melakukan pengawasan, memantau dan mencegah terjadinya pelanggaran, meminta informasi kepada instansi atau pihak terkait, memberi masukan kepada Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa dan/atau melaporkan terjadinya pelanggaran terhadap Pelestarian Habitat Alami.
  • Pengakuan Terhadap Kearifan Lokal adalah kecerdikan, kebijaksanaan, kecerdasan setempat yang diperoleh berdasarkan pengalaman manusia menghadapi alam lingkungannya, merupakan sesuatu yang didambakan sebagai hal yang paling ideal dan melekat pada obyek, gagasan, dan pengalaman manusia dalam bercipta, berasa, dan berkarya.
  • Keberlanjutan adalah bahwa Habitat Alami dapat dimanfaatkan untuk masa kini dan masa yang akan datang guna peningkatan kesejahteraan rakyat khususnya yang berkaitan dengan budaya dengan mengutamakan kelestariannya.
  • Manfaat adalah bahwa Habitat Alami dapat dimanfaatkan untuk masa kini dan masa yang akan datang guna peningkatan kesejahteraan rakyat khususnya yang berkaitan dengan budaya dengan mengutamakan kelestariannya.

Perda DIY No. 7 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Air Limbah

Ketentuan Umum, antara lain:

  1. Air limbah adalah sisa dari suatu usaha dan/atau kegiatan yang berwujud cair.
  2. Baku Mutu Air Limbah adalah ukuran batas atau kadar unsur pencemar dan/atau jumlah unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam air limbah yang akan dibuang atau dilepas ke dalam sumber air dari suatu usaha dan/atau kegiatan yang meliputi kegiatan industri, pelayanan kesehatan dan jasa pariwisata.
  3. Usaha dan/atau kegiatan adalah usaha dan/atau kegiatan yang berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan hidup.
  4. Industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi dan/atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya termasuk kegiatan rancang bangunan dan perekayasaan industri yang meliputi industri tekstil, industri pelapisan logam, industri penyamakan kulit, industri pulp dan kertas, industri karet, industri gula, industri tapioka, industri ethanol, industri mono sodium glutamate, industri kayu lapis, industri pengolahan susu, industri bir, industri minuman ringan, industri cat, industri farmasi, industri sabun, industri pengolahan buah, industri pengolahan sayuran, industri tahu, industri tempe, industri kecap, industri pengalengan ikan, udang dan lainnya, industri soda kostik/khlor, industri pupuk, industri baterai kering, industri batik, industri percetakan, industri lampu listrik, industri wig, industri Virgin Coconut Oil, industri genteng beton, industri potong batu, industri minyak kayu putih, industri laundry, kegiatan terminal/stasiun/bandara, industri mie, bihun, dan soun, industri biskuit dan roti, industri meubel/furniture, industri lem, industri jamu, industri kacang garing, industri keramik dan ubin, industri rumah pemotongan hewan, industri rumah pemotongan unggas, industri otomotif/karoseri, kegiatan tempat pembuangan akhir sampah, kegiatan depo minyak bumi dan Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum, kegiatan Instalasi Pengolahan Air Limbah domestik komunal, Instalasi Pengolahan Air Limbah tinja komunal, kegiatan bengkel dan/atau cuci mobil/motor, kegiatan peternakan babi dan sapi, industri perakitan logam alat pertanian dan kesehatan dan kegiatan industri lainnya.
  5. Pelayanan Kesehatan adalah sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat berfungsi sebagai tempat pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian.
  6. Jasa Pariwisata adalah jasa yang diberikan dalam bentuk pelayanan pariwisata yang meliputi hotel berbintang, hotel melati, dan jasa pariwisata lainnya.

Pengaturan penetapan Baku Mutu Air Limbah bertujuan untuk:

  1. pedoman bagi Bupati/Walikota dalam mengeluarkan izin pembuangan air limbah;
  2. pedoman bagi Bupati/Walikota dalam memberikan saran, arahan, petunjuk dan pembinaan kepada penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan;
  3. mencegah terjadinya pencemaran air;
  4. mewujudkan kualitas air yang sesuai dengan peruntukannya;
  5. menjamin pelestarian fungsi lingkungan hidup;
  6. penilaian dokumen lingkungan, rekomendasi dan izin lingkungan; dan
  7. instrumen pengendalian pencemaran lingkungan.

Penjelasan

Umum:

  • Manusia dan lingkungan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Dalam sebagian besar aktivitasnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, manusia membutuhkan lingkungan untuk memenuhi kebutuhannya. Interaksi antara manusia dan lingkungan tersebut jika dilakukan dengan tidak bertanggung jawab akan mengganggu keseimbangan dan kelestarian alam, yang pada akhirnya akan berdampak pada kehidupan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, perlu upaya menjaga kelestarian lingkungan supaya lingkungan dapat berfungsi sebagaimana mestinya dan dapat dimanfaatkan manusia secara optimal.
  • Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Pasal 28H ayat (1) disebutkan bahwa “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”, sehingga lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak asasi dan hak konstitusional bagi setiap warga negara. Oleh karena itu pemerintah dan pemangku kepentingan wajib untuk melakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan agar lingkungan hidup tetap menjadi penunjang hidup bagi rakyat Indonesia serta makhluk hidup lainnya.
  • Kegiatan pembangunan yang didukung ilmu pengetahuan dan teknologi, selain meningkatkan kualitas hidup dan merubah gaya hidup manusia, juga mengandung resiko terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan apabila tidak arif bijaksana dalam melaksanakannya. Dalam konteks pembangunan di Daerah Istimewa Yogyakarta yang sangat dinamis, muncul beragam usaha dan kegiatan oleh manusia, diantaranya dalam bentuk industri, pelayanan kesehatan, dan jasa pariwisata. Ketiga jenis kegiatan tersebut berpotensi
  • menghasilkan air limbah. Air limbah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air diperbolehkan dibuang ke media lingkungan, dalam hal ini air sungai dengan izin tertulis dari Bupati/Walikota dan telah memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan.
  • Air sungai merupakan sumber daya alam yang memenuhi hajat hidup orang banyak sehingga perlu dilindungi agar terus memberikan manfaat bagi kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya. Penurunan kualitas air sungai akan menurunkan daya guna, hasil guna, produktivitas, daya dukung, dan daya tampung dari sumber daya air tersebut. Untuk menjaga kualitas air agar sungai dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, maka perlu upaya pelestarian dan/atau pengendalian pencemaran. Salah satu upaya pengendalian pencemaran air sungai adalah dengan menetapkan Baku Mutu Air Limbah kegiatan industri, pelayanan kesehatan, dan jasa pariwisata yang air limbahnya akan dibuang ke sungai tersebut.
  • Sejak tahun 2010, Pemerintah Daerah telah memiliki Peraturan Gubernur Nomor 7 Tahun 2010 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi Kegiatan Industri, Pelayanan Kesehatan, dan Jasa Pariwisata sebagai dasar penentuan kualitas air limbah yang boleh dibuang ke badan air. Peraturan Gubernur Nomor 7 Tahun 2010 tersebut merupakan aturan untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan mendesak di Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya baku mutu air limbah. Namun dalam pelaksanaannya ditemui kendala sehingga perlu dilakukan evaluasi terhadap peraturan tersebut. Kendala tersebut antara lain meliputi nilai ambang batas yang lebih ketat sehingga sulit untuk dipenuhi pelaku usaha/kegiatan, serta kendala perangkat laboratorium yang belum mampu menguji jenis parameter tertentu.
  • Dalam rangka menindaklanjuti evaluasi terhadap Peraturan Gubernur Nomor 7 Tahun 2010 tersebut dan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air dalam Pasal 12 ayat (2) yang berbunyi “Baku Mutu Air Limbah di Pemerintah Daerah Provinsi ditetapkan dengan Peraturan Daerah Provinsi” serta dalam Peraturan Daerah DIY Nomor 3 Tahun 2015 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 20 ayat (4) yang berbunyi “Ketentuan lebih lanjut mengenai baku mutu air limbah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (3) ditetapkan dengan Peraturan Daerah”, maka dipandang perlu untuk menetapkan Peraturan Daerah tentang Baku Mutu Air Limbah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan ditetapkannya Peraturan Daerah ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan yang sesuai dengan situasi kondisi di daerah, selanjutnya air limbah lebih terkendali, pencemaran lingkungan dapat diturunkan, serta kondisi lingkungan hidup menjadi semakin baik.

Kunjungan II

Jpeg

IPAL Komunal di Sewon, Bantul, DIY

(dikelola oleh Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral Daerah Istimewa Yogyakarta)

Pendahuluan

  • Balai IPAL Sewon merupakan unit pelaksana teknis (UPT) dari Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral DIY.
  • Dibangun mulai awal Januari 1994 – Desember 1995 dan beroperasi tahun 1996.
  • Hibah dari Pemerintah Jepang senilai Rp. 59 M.
  • Dibangun di atas lahan seluas 6,7 Ha di Dusun Cepit, Desa Pendowoharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, DIY.
  • Digunakan untuk mengolah limbah rumah tangga tipe black water dan grey water (kamar mandi, air cucian, WC, dapur).
  • Proses pengolahan secara Biologi dengan sistem Laguna Aerasi Fakultatif.
  • Bertujuan untuk mencegah bibit penyakit yang ditimbulkan oleh kotoran-kotoran yang mencemari air permukaan tersebut.
  • Air limbah rumah tangga yang berasal dari Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY) dialirkan melalui jaringan perpipaan secara gravitasi menuju ke IPAL Sewon.
  • Air Limbah rumah tangga yang telah diolah/dimurnikan di IPAL Sewon akan dikeluarkan ke Sungai Bedog melalui pipa beton dan kanal saluran terbuka dimana Sungai Bedog termasuk dalam Pengendalian Saluran Limbah golongan II yang dinyatakan dalam KepMen LH dan BOD keluaran berada di bawah nilai 50 mg/L.
  • Di IPAL Sewon juga ada Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) dengan kapasitas 60 m3/hari.
  • Dibangun pada tahun 2014-2015 dan mulai dioperasikan tahun 2016.
  • Sebelum masuk ke IPLT truck Tangki tinja yang membuang lumpur tinjanya masuk melalui alat untuk memisahkan antara padatan dan cairan (Sludge Acceptance Plant/SAP Huber), dan baru cairannya masuk ke IPLT.
  • Outlet dari IPLT dimasukkan ke pretreatment IPAL dan bercampur dengan air limbah yang berasal dari jaringan air limbah terpusat.

Standard Rancangan

  • Rerata debit : 15,500 m3/hari (179 L/detik)
  • Debit maksimum : 30,768 m3/hari (356 L/detik)
  • Beban BOD : 5,103 kg/hari (46 g/org/hari)
  • BOD Influent : 332 mg/L
  • BOD Effluent : 30 – 40 mg/L

Realisasi

  • Rerata Debit Masuk : 750 m3/hari

Data Teknis

 ipal1

Daerah Pelayanan

  • Meliputi hampir seluruh wilayah Kota Yogyakarta (13 Kecamatan dari 14 Kecamatan yang ada).
  • Sebagian wilayah di Kab. Sleman bagian selatan (3 Kecamatan) meliputi: Kec. Depok, Kec. Mlati, dan Kec. Ngaglik.
  • Sebagian wilayah di Kab. Bantul bagian utara (3 Kecamatan) meliputi: Kec. Banguntapan, Kec. Kasihan, dan Kec. Sewon.

Regulasi

  • Pergub No 7 tahun 2010. tentang Baku mutu limbah cair untuk kegiatan industri lainnya.
  • Keputusan Gubernur DIY no 214/KPTS/1991 tentang Baku mutu air, badan air golongan C.
  • Peraturan Daerah DIY No.2 tahun 2013 Tentang Pengelolaan Air Limbah Domestik.
  • Pergub Diy No.82 Tahun 2014 Tentang Organisasi Dan Tatakerja Unit Pelaksana Teknis Dinas Dan UPT Lembaga Teknis Daerah
  • Perda No. 4 Tahun 2016 Tentang perubahan kedua atas Peraturan Daerah Provinsi DIY No.12 Tahun 2011 Tentang retribusi Jasa Usaha.

Foto-foto

ipal9

ipal10

ipal11

ipal12

 

Kunjungan III

Jpeg

Kampung Proklim di Padukuhan Pendulan, Desa Sumberagung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, DIY

Sekilas tentang Program Kampung Iklim

A. Pengertian

  1. Kampung adalah wilayah administrasi yang terdiri atas rukun warga, dusun atau dukuh, kelurahan arau desa, dan wilayah administrasi lain yang dipersamakan dengan itu.
  2. Program Kampung Iklim (Proklim) adalah program berlingkup nasional yang dikelola oleh Kementrian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong masyarakat untuk melakukan peningkatan kapasitas adaptasi terhadap dampak perubahan iklim dan penurunan emisi gas rumah kaca serta memberikan penghargaan terhadap upaya-upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang telah dilaksanakan di tingkat lokal sesuai dengan kondisi wilayah.
  3. Adaptasi perubahan iklim adalah upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim, termasuk keragaman iklim dan kejadian iklim ekstrim sehingga potensi kerusakan akibat perubahan iklim berkurang, peluang yang ditimbulkan oleh perubahan iklim dapat dimanfaatkan, dan konsekuensi yang timbul akibat perubahan iklim dapat diatasi.
  4. Mitigasi perubahan iklim adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam upaya menurunkan tingkat emisi gas rumah kaca sebagai bentuk upaya penanggulangan dampak perubahan iklim.

B. Tujuan

Umum

Program Kampung Iklim dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai perubahan iklim dan dampak yang ditimbulkannya sehingga seluruh pihak terdorong untuk melaksanakan aksi nyata yang dapat memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim serta memberikan kontribusi terhadap upaya pengurangan emisi GRK. Hal lain yang diharapkan dapat tercapai melalui pelaksanaan ProKlim adalah:

  1. Menumbuhkan kemandirian masyarakat dalam melaksanakan adaptasi perubahan iklim, termasuk menjaga nilai-nilai kearifan tradisional atau lokal yang dapat mendukung upaya penanganan perubahan iklim dan pengendalian kerusakan lingkungan secara umum.
  2. Menjembatani kebutuhan masyarakat dan pihak-pihak yang dapat memberikan dukungan untuk pelaksanaan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
  3. Meningkatkan kerjasama seluruh pihak di tingkat nasional dan daerah dalam memperkuat kapasitas masyarakat untuk melaksanakan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
  4. Menumbuhkan gerakan nasional adaptasi dan mitigasi perubahan iklim melalui pelaksanaan kegiatan berbasis masyarakat yang bersifat aplikatif, adaptif dan berkelanjutan.
  5. Mengoptimalkan potensi pengembangan kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang dapat memberikan manfaat terhadap aspek ekologi, ekonomi dan pengurangan bencana iklim.
  6. Mendukung program nasional yang dapat memperkuat upaya penanganan perubahan iklim secara global seperti gerakan ketahanan pangan, ketahanan energi, peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pencapaian target penurunan emisi sebesar 26% pada tahun 2020 dibandingkan dengan jika tidak dilakukan upaya apapun.

Khusus

Tujuan Khusus Program Kampung Iklim adalah:

  1. Mengidentifikasi kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta potensi pengembangannya di tingkat lokal.
  2. Memberikan pengakuan terhadap aksi lokal yang telah dilakukan masyarakat untuk mendukung upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
  3. Mendorong penyebarluasan kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang telah berhasil dilaksanakan pada lokasi tertentu untuk dapat diterapkan di daerah lain sesuai dengan kondisi wilayah dan kebutuhan masyarakat setempat.

C. Manfaat

Manfaat Program Kampung Iklim meliputi:

  1. meningkatnya ketahanan masyarakat dalam menghadapi variabilitas iklim dan dampak perubahan iklim;
  2. terukurnya potensi dan kontribusi pengurangan emisi GRK suatu lokasi terhadap pencapaian target penurunan emisi GRK nasional;
  3. tersedianya data kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta potensi pengembangannya di tingkat lokal yang dapat menjadi bahan masukan dalam perumusan kebijakan, strategi dan program terkait perubahan iklim;
  4. tersosialisasinya kesadaran dan gaya hidup rendah karbon;
  5. meningkatnya kemampuan masyarakat di tingkat lokal untuk mengadopsi teknologi rendah karbon.

D. Ruang lingkup

Program Kampung Iklim dapat dilaksanakan di pedesaan maupun perkotaan, dengan memperhatikan tipologi wilayah seperti dataran tinggi, dataran rendah, pesisir dan pulau kecil. Program Kampung Iklim mencakup tinjauan terhadap pelaksanaan kegiatan dan aspek:

  1. Adaptasi Perubahan Iklim;
  2. Mitigasi Perubahan Iklim;
  3. Kelompok Masyarakat dan Dukungan Berkelanjutan.

Uraian kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh masyarakat dalam kerangka Program Kampung Iklim adalah sebagai berikut:

Adaptasi Perubahan Iklim

Pengendalian kekeringan, banjir, dan longsor

  • Pemanenan air hujan : embung, penampungan air hujan, lubang penampungan air.
  • Peresapan air : biopori, sumur resapan, Bangunan Terjunan Air (BTA), rorak, dan Saluran Pengelolaan Air (SPA).
  • Perlindungan dan pengelolaan mata air : penanaman, membuat aturan, bangunan pelindung.
  • Penghematan penggunaan air : penggunaan kembali air, pembatasan penggunaan air.
  • Penyediaan sarana dan prasarana pengendalian banjir : pembangunan dan pengaturan bendungan dan waduk banjir, tanggul banjir, palung sungai, pembagi atau pelimpah banjir, daerah retensi banjir, dan sistem polder.
  • Sistem peringatan dini (early warning system ) : Sistem Peringatan Banjir , jalur evakuasi, pelaporan hasil pemantauan, penyampaian informasi secara cepat dengan alat komunikasi tradisional maupun modern.
  • Rancang bangun yang adaptif : meninggikan struktur bangunan, rumah panggung atau rumah apung.
  • Terasering : yang dilengkapi saluran peresapan, saluran pembuangan air, serta tanaman penguat teras yang berfungsi sebagai pengendali erosi dan longsor.
  • Penanaman vegetasi.

Peningkatan ketahanan pangan

  • Sistem pola tanam : monokultur dan pola polikultur (tumpang sari, tumpang gilir, tanaman bersisipan tanaman campuran, dan tanaman bergiliran.
  • Sistem irigasi/drainase meliputi prasarana irigasi, air irigasi, manajemen irigasi, kelembagaan pengelolaan irigasi, dan sumber daya manusia. Membangun waduk, waduk lapangan, bendungan bendung, pompa, dan jaringan drainase yang memadai, mengendalikan mutu air, serta memanfaatkan kembali air drainase.
  • Pertanian terpadu (integrated farming/mix farming ) : menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan dan ilmu lain yang terkait dengan pertanian dalam satu lahan sehingga dapat meningkatkan produktifitas lahan dan memperkuat ketahanan pangan.
  • Pengelolaan potensi lokal : upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan tanaman dan hewan lokal yang dapat mendukung peningkatan ketahanan terutama yang memiliki potensi untuk beradaptasi terhadap kondisi iklim ekstrim.
  • Penganekaragaman tanaman pangan sehingga jika terjadi kegagalan panen pada jenis tertentu masih ada jenis tanaman lain yang dapat dipanen.
  • Sistem dan teknologi pengelolaan lahan dan pemupukan :
  • Padi hemat air (model irigasi berselang/bertahap (intermittent irigation ), dan tabela (tanam benih langsung/seeded rice).
  • Penggunaan pupuk unsur hara mikro misalnya Si.
  • Pengelolaan lahan tanpa bakar (seresah dimanfaatkan untuk pupuk organik dan mulsa.
  • Teknologi minapadi.
  • Precision farming (mengutamakan presisi (ketepatan), seperti tepat waktu, tepat dosis pupuk, dan tepat komoditas.
  • Padi apung.
  • Pertanian organik.
  • Teknologi pemuliaan tanaman dan hewan ternak (untuk memperoleh bibit yang secara genetik baik menyeleksi/hibridasi, mutasi genetic dan rekayasa genetik untuk menghasilkan varietas yang tahan terhadap cuaca ekstrim akibat perubahan iklim seperti panas yang terik, kekeringan, dan hujan angin).
  • Pemanfaatan lahan pekarangan.

Penanganan atau antisipasi kenaikan muka laut, rob, intrusi air laut, abrasi, ablasi atau erosi akibat angin, gelombang tinggi.

  • Struktur pelindung alamiah : penanaman vegetasi pantai (seperti ketapang cemara laut, mangrove, dan pohon kelapa), melindungi gumuk pasir serta pengelolaan terumbu karang.
  • Struktur perlindungan buatan : memperkuat pantai, mengubah laju transpor sedimen, mengurangi energi gelombang, reklamasi.
  • Struktur konstruksi bangunan : rumah panggung.
  • Penyediaan air bersih: sumur, hidran umum, kran umum dan terminal air.
  • Sistem pengelolaan pesisir terpadu : keterpaduan meliputi dimensi sektor, ekologis, hirarki pemerintahan, dan disiplin ilmu.
  • Mata pencaharian alternatif : budidaya kepiting dan penggantian spesies ikan yang adaptif terhadap perubahan iklim.

Pengendalian penyakit terkait iklim (demam berdarah, malaria, diare dan penyakit akibat vektor lainnya).

  • Pengendalian vektor : menurunkan populasi vektor serendah mungkin, menghindari kontak masyarakat dengan vector. 3M (menguras, menimbun,menutup) sarang nyamuk, pengendalian perindukan nyamuk dan tikus, memperbaiki lingkungan agar tidak ada genangan air), memasukkan ikan dalam kolam/pot tanaman membentuk Tim Jumantik.
  • Sistem kewaspadaan dini : mengantisipasi terjadinya penyakit terkait perubahan iklim seperti diare, malaria DBD.
  • Sanitasi dan air bersih : pasokan air yang bersih dan aman, pembuangan limbah dari hewan, manusia dan industri yang efisien, perlindungan makanan dari kontaminasi biologis dan kimia, udara yang bersih dan aman, rumah yang bersih dan aman.
  • Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) : mencuci tangan dengan sabun, menggunakan jamban sehat dan menggunakan air bersih.

Mitigasi Perubahan Iklim

Pengelolaan sampah dan limbah padat, berupa: pewadahan dan pengumpulan, pengolahan, pemanfaatan, penerapan konsep zero-waste.

Pengolahan dan pemanfaatan limbah cair, meliputi :

  • Domestik : tangki septik dilengkapi dengan instalasi penangkap metana, dan memanfaatkan gas metana sebagai sumber energi baru.
  • Industri rumah tangga : IPAL anaerob yang dilengkapi penangkap gas metana.

Penggunaan energi baru, terbarukan dan konservasi energi, berupa:

  • Teknologi rendah emisi gas rumah kaca (tungku hemat energi, kompor sekam padi, kompor berbahan bakar biji-bijian non-pangan, lampu biogas, dan briket sampah.
  • Energi baru terbarukan (panas bumi, bahan bakar nabati (biofuel)), aliran air sungai, panas surya, angin, biomassa, biogas.
  • Efisiensi energy: hemat listrik, menggunakan lampu hemat energi (non-pijar), dan memaksimalkan pencahayaan alami.

Pengelolaan budidaya pertanian : menggunakan pupuk organik, pengolahan biomasa menjadi pupuk, dan model irigasi berselang/bertahap (intermittent irigation), tidak membakar jerami di sawah dan menghindari proses pembusukan jerami akibat penggenangan sawah.

Peningkatan tutupan vegetasi : Penghijauan, Praktik wanatani/agroforestri.

Pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.

Kelompok Masyarakat dan Dukungan Berkelanjutan

  1. Kelompok Masyarakat diakui keberadaannya :Ada pPengurus, Struktur organisasi, Rencana/program kerja, Aturan (AD/ART, aturan adat, aturan kelompok, dll.), Sistem kaderisasi.
  2. Dukungan kebijakan : Kearifan lokal dan kebijakan kelompok, Kebijakan desa, Kebijakan kecamatan/ kabupaten/kota.
  3. Dinamika kemasyarakatan : Tingkat keswadayaan masyarakat, Sistem pendanaan, Partisipasi gender.
  4. Kapasitas masyarakat : Penyebarluasan kegiatan adaptasi dan mitigasi ke pihak lain, Tokoh atau pemimpin local, Keragaman teknologi, Tenaga local, Kemampuan masyarakat untuk membangun jejaring.
  5. Keterlibatan pemerintah Daerah, Propinsi, Pusat.
  6. Keterlibatan dunia usaha, LSM, dan perguruan tinggi.
  7. Pengembangan kegiatan : Konsistensi pelaksanaan kegiatan dan Penambahan kegiatan.
  8. Manfaat : ekonomi, lingkungann dan pengurangan dampak kejadian iklim ekstrim.

Profil Kampung Proklim Padukuhan Pendulan

Gambaran Umum

  • Padukuhan Pendulan terletak di Desa Sumberagung, Kecamatan Moyudan dengan luas area kurang lebih 6 Hektar. Jumlah penduduk 120 KK atau 545 jiwa, 90 % mempunyai mata pencaharian petani. Sumber air melimpah baik di musim hujan maupun kemarau dengan adanya saluran irigasi di kanan kiri jalan pemukiman.
  • Kegiatan yang berbasis lingkungan telah dilaksanakan oleh masyarakat Pendulan, antara lain pengelolaan sampah mandiri di tingkat rumah tangga, pemanfaatan lahan pekarangan, pemanenan air hujan, dan berbagai kegiatan lain yang mendukung pengelolaan lingkungan secara lestari.

Potensi Kerentanan Perubahan Iklim

  • Topografi Padukuhan Pendulan berupa dataran rendah, hampir tidak pernah mengalami kejadian banjir, longsor ataupun kekeringan. Resiko terjadinya perubahan pola hujan merupakan salah satu dampak perubahan iklim dapat menjadi ancaman bagi kegiatan pertanian/perkebunan yang merupakan mata pencaharian penduduk. Dari aspek mitigasi perubahan iklim, timbulan sampah yang awalnya tidak dikelola dengan baik merupakan salah satu sumber emisi Gas Rumah Kaca.

Adaptasi Perubahan Iklim

proklim1proklim2a

proklim5

Mitigasi

proklim3

Manfaat

  • Ketersediaan air di musim kemarau untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan kegiatan pertanian terjaga dengan baik.
  • Berkurangnya limbah domestik desa melalui penerapan pengelolaan sampah mandiri dan daur ulang serta pengolahan limbah cair dan faces dengan IPAL komunal.
  • Vegetasi di lingkungan desa terjaga dan ketahanan pangan terjaga melalui sistem pertanian yang baik dan tetap hijau intensifikasi lahan perkarangan untuk berbagai tanaman buah-buahan dan sayuran.

Leaflet tentang ProKlim

Leaflet ProKlim_FINAL_Page_1

Leaflet ProKlim_FINAL_Page_2

Semoga bermanfaat….

<@RochMadM>

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 2, 2017 in luasnya ilmu

 

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

PerMen ESDM No. 38 Tahun 2014 tentang Penerapan SMKP Minerba

budaya-web-581

Dunia tambang kini telah memiliki sistem manajemen keselamatan sendiri yang khas dan sesuai dengan karakteristiknya dalam industri pertambangan. Peraturan perundangan ini, pembuatannya pun melibatkan 3 pilar, yaitu pemerintah, pengusaha, dan masyarakat dimana banyak praktisi K3 tambang dari berbagai perusahaan pertambang­an dan perusahaan jasa pertambangan berkontribusi aktif dengan menyumbangkan tenaga, pikiran, dan semangat untuk memenuhi kaidah-kaidah dan alur sebuah sistem manajemen yang berlaku secara universal dan mendunia,  serta sekaligus menjawab tuntutan spesifik dari industri pertambangan.

Definisi dan Ruang Lingkup SMKP

Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan merupakan bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif (PP 50 / 2012, Pasal 1 angka 1).

Ruang lingkup SMKP meliputi beberapa aspek, yaitu kebijakan, perencanaan, organisasi dan personil, implementasi, evaluasi dan tindak lanjut, dokumentasi, serta tinjauan manajemen.

Dasar Pertimbangan Penerapan SMKP

  • Memenuhi ketentuan dalam Peraturan Perundang-undangan;
  • Menjamin pekerja tambang yang selamat dan sehat serta operasional tambang yang aman, efisien, dan produktif dalam pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan, perlu menerapkan sistem manajemen keselamatan pertambangan mineral dan batubara.

Rangkuman Isi SMKP Minerba

Bab I Ketentuan Umum

Pengertian (pasal 1)

  • Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan Mineral dan Batubara, yang selanjutnya disebut SMKP Minerba, adalah bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan dalam rangka pengendalian risiko keselamatan pertambangan yang terdiri atas keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan, dan keselamatan operasi pertambangan.
  • Keselamatan Pertambangan adalah segala kegiatan yang meliputi pengelolaan keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan dan keselamatan operasional pertambangan.
  • Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan (K3 Pertambangan) adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi pekerja tambang agar selamat dan sehat melalui upaya pengelolaan keselamatan kerja, kesehatan kerja, lingkungan kerja, dan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.
  • Keselamatan Operasi Pertambangan (KO Pertambangan) adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi operasional tambang yang aman, efisien, dan produktif melalui upaya, antara lain pengelolaan sistem dan pelaksanaan pemeliharaan/perawatan sarana, prasarana, pertambangan; pengaman instalasi; kelayakan sarana prasarana, instalasi dan peralatan pertambangan, kompetensi tenaga teknik, dan evaluasi laporan hasil kajian teknis.

Tujuan Penerapan SMKP Minerba (pasal 2)

  • meningkatkan efektifitas Keselamatan Pertambangan yang terencana, terukur, terstruktur, dan terintegrasi;
  • mencegah kecelakaan tambang, penyakit akibat kerja, dan kejadian berbahaya;
  • menciptakan kegiatan operasional tambang yang aman, efisien, dan produktif;
  • menciptakan tempat keja yang aman, sehat, nyaman, dan efisien untuk meningkatkan produktivitas.

Bab II Penerapan SMKP Minerba

Perusahaan wajib menerapkan SMKP Minerba (pasal 3)

  • Perusahaan Pertambangan, yaitu pemegang: IUP, IUPK, IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan/atau pemurnian, KK, dan PKP2B.
  • Perusahaan Jasa Pertambangan, yaitu pemegang: IUJP dan SKT.

Dalam Menerapkan SMKP Minerba (pasal 4)

  • Perusahaan Pertambangan wajib memiliki Kepala Teknik Tambang (KTT).
  • Perusahaan Jasa Pertambangan wajib memiliki Penanggung Jawab Operasional (PJO).

Bab III Elemen SMKP Minerba (pasal 5)

  1. Kebijakan (pasal 6)
  2. Perencanaan (pasal 7)
  3. Organisasi dan Personal (pasal 8)
  4. Implementasi (pasal 9)
  5. Evaluasi dan Tindak Lanjut (pasal 10)
  6. Dokumentasi (pasal 11)
  7. Tinjauan Manajemen (pasal 12)

Bab IV Pedoman Penerapan dan Audit SMKP Minerba (pasal 13 – 15)

  • Audit SMKP adalah pemeriksaan secara sistematis dan independen terhadap pemenuhan kriteria yang telah ditetapkan untuk mengukur suatu hasil kegiatan yang telah direncanakan dan dilaksanakan dalam penerapan SMKP Minerba oleh perusahaan.
  • Perusahaan WAJIB melakukan audit internal penerapan SMKP sekurang-kurangan 1 (satu) kali dalam setahun.
  • Audit eksternal penerapan SMKP Minerba dilaksanakan oleh lembaga audit independen yang terakreditasi dan telah mendapatkan persetujuan KAIT.
  • Dalam hal terjadi kecelakaan, kejadian berbahaya, penyakit akibat kerja, bencana, dan/atau dalam rangka kepentingan penilaian kinerja Keselamatan Pertambangan, KAIT dapat meminta kepada Perusahaan untuk melakukan audit eksternal penerapan SMKP Minerba.
  • Pelaksanaan audit internal dan/atau audit eksternal penerapan SMKP Minerba mengacu pada Pedoman Penilaian Penerapan SMKP Minerba sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri.
  • Hasil pelaksanaan audit internal dan/atau audit eksternal penerapan SMKP Minerba wajib disampaikan kepada KAIT dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak dinyatakan selesai sesuai dengan Format Laporan Audit Penerapan SMKP Minerba sebagaimana tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri.
  • Hasil pelaksanaan audit internal dan/atau audit eksternal penerapan SMKP Minerba dapat menjadi dasar bagi KAIT dalam menetapkan tingkat pencapaian penerapan SMKP Minerba dan memberikan rekomendasi dalam rangka mencapai tujuan penerapan SMKP Minerba.

Bab V Pembinaan dan Pengawasan (pasal 16 – 17)

  • Menteri, Gubernur atau Bupati/Walikota melakukan pembinaan dan pengawasan Penerapan SMKP Minerba sesuai kewenangannya.
  • Pembinaan dan pengawasan Penerapan SMKP Minerba dilaksanakan oleh Inspektur Tambang.
  • Gubernur dan Bupati/Walikota menyampaikan laporan pembinaan dan pengawasan Penerapan SMKP Minerba kepada Menteri.
  • Bupati/Walikota menyampaikan laporan pembinaan dan pengawasan Penerapan SMKP Minerba kepada Gubernur.

Bab VI Sanksi Administratif (pasal 18 – 21)

Dikenai Sanksi Administratif apabila:

  • Tidak Menerapkan SMKP Minerba,
  • Tidak punya KTT atau PJO,
  • Tidak menerapan SMKP Minerba sesuai Lampiran I,
  • Tidak melakukan audit Internal atau Eksternal,
  • Tidak melaksanakan audit sesuai Lampiran II,
  • Tidak menyampaikan hasil audit ke KAIT.

Bentuk Sanksi:

  • Peringatan Tertulis (berlaku 30 hari kalender);
  • Penghentian sementara sebagian atau seluruh (berlaku 90 hari)
  • Pencabutan IUP, IUPK, IUP OP Khusus, IUJP atau SKT.

Ketentuan Peralihan (pasal 22 – 23)

  • Perusahaan wajib menerapkan SMKP paling lambat 1 tahun sejak diberlakukan (30 Desember 2015).
  • Gubernur melakukan pembinaan dan pengawasan serta memberi sanksi kepada Perusahaan yang izinnya diterbitkan oleh Bupati/Walikota.

 Ketentuan Penutup (pasal 24)

  • Permen mulai berlaku pada tanggal diundangkan (30 Desember 2014).

Lampiran I Pedoman Penerapan SMKP Minerba

Lampiran II Pedoman Penilaian Penerapan SMKP Minerba

Lampiran III Format Laporan Audit Penerapan SMKP Minerba

(Disarikan dari Materi SosialisasiPermen ESDM No. 38 Tahun 2014 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP) Mineral dan Batubara” di Balikpapan, tanggal 05 – 07 Oktober 2015)

 
Leave a comment

Posted by on February 12, 2017 in ramainya tambang

 

Tags: , ,

TUNTUNAN RINGKAS SHALAT IDUL ADHA

shalat-idul-adha2Hukum Shalat Id

Menurut pendapat yang lebih kuat, hukum shalat id (Idul Fithri dan Idul Adha) adalah wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan yang dalam keadaan mukim. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, salah satu pendapat Imam Ahmad, dan pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam dan Ibnul Qoyim.

Dalil pendapat ini adalah sebagai berikut:

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus melakukannya.. Karena sejak shalat Id ini disyariatkan pada tahun kedua hijriyah, beliau senantiasa melaksanakannya sampai beliau meninggal.
  2. Kebiasaan para khulafa ar-Rosyidin setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini menunjukkan bahwa shalat Id merupakan ibadah yang sangat disyariatkan dalam Islam.
  3. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kaum muslimin untuk keluar rumah untuk menunaikan shalat id. Perintah untuk keluar rumah menunjukkan perintah untuk melaksanakan shalat id itu sendiri bagi orang yang tidak punya udzur. Di sini dikatakan wajib karena keluar rumah merupakan wasilah (jalan) menuju shalat. Jika wasilahnya saja diwajibkan, maka tujuannya (yaitu shalat) otomatis juga wajib.
  4. Adanya perintah menunjukkan bahwa itu wajib, karena hukum asal perintah adalah wajib.

Ada perintah dalam Al Qur’an, yaitu firman Allah Ta’ala,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2).

Maksud ayat ini adalah perintah untuk melaksanakan shalat id.

Hadits dari Ummu ‘Athiyah, beliau berkata,

أَمَرَنَا – تعْنِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- – أَنْ نُخْرِجَ فِى الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami pada saat shalat id (Idul Fithri ataupun Idul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru beanjak dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haidh. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haidh untuk menjauhi tempat shalat.” (HR. Muslim  no. 890, dari Muhammad, dari Ummu ‘Athiyah)

  1. Shalat jum’at menjadi gugur bagi orang yang telah melaksanakan shalat id jika kedua shalat tersebut bertemu pada hari id. Padahal sesuatu yang wajib hanya boleh digugurkan dengan yang wajib pula. Jika shalat jum’at itu wajib, demikian halnya dengan shalat id.
  2. Shalat Id merupakan salah satu syiar Islam yang paling besar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Pendapat yang menyatakan bahwa hukum shalat id adalah wajib bagi setiap muslim lebih kuat daripada yang menyatakan bahwa hukumnya adalah fardhu kifayah (wajib bagi sebagian orang saja). Adapun pendapat yang mengatakan bahwa hukum shalat id adalah sunnah (dianjurkan, bukan wajib), ini adalah pendapat yang lemah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memerintahkan untuk melakukan shalat ini. Lalu beliau sendiri dan para khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali), begitu pula kaum muslimin setelah mereka terus menerus melakukan Shalat Id. Dan tidak dikenal sama sekali kalau ada di satu negeri Islam ada yang meninggalkan shalat id. Shalat Id adalah salah satu syi’ar Islam yang terbesar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberi keringanan bagi wanita untuk meninggalkan Shalat Id, lantas bagaimana lagi dengan kaum pria?” (Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 24/183, Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H)

Larangan Berpuasa di Hari Raya

Dari Abu Sa’id al-Khudzri radliallahu ‘anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نهَى عَن صيَام يَومَينِ يَومِ الفِطرِ و يَومِ النَّحرِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang puasa pada dua hari: hari Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam an-Nawawi mengatakan: “Para ulama telah sepakat tentang haramnya puasa di dua hari raya sama sekali. Baik puasanya itu puasa nadzar, puasa sunah, puasa kaffarah, atau puasa yang lainnya. (Syarah Shahih Muslim karya an-Nawawi, 8/15)

Waktu Pelaksanaan Shalat Id

Dari Yazid bin Khumair, beliau mengatakan: suatu ketika Abdullah bin Busr, salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar bersama masyarakat menuju lapangan shalat Id. Kemudian beliau mengingkari keterlambatan imam. Beliau mengatakan:

إِنّا كُنّا قَد فرَغنَا سَاعَتنَا هَذه و ذلكَ حِينَ التَّسبِيح

Kami dulu telah selesai dari kegiatan ini (shalat Id) pada waktu dimana shalat sunah sudah dibolehkan.” (HR. Bukhari secara mu’allaq dan Abu Daud dengan sanad shahih)

Keterangan: maksud: “waktu dimana shalat sunah sudah dibolehkan”: setelah berlalunya waktu larangan untuk shalat, yaitu ketika matahari terbit.

Imam Ibnul Qoyim mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat Idul Fitri dan menyegerahkan shalat Idul Adha. Sementara Ibnu Umar -orang yang sangat antusias mengikuti sunah- tidak keluar menuju lapangan sampai matahari terbit. Beliau melantunkan takbir sejak dari rumah sampai tiba di lapangan. (Zadul Ma’ad, 1:425)

Syaikh Abu Bakr al-Jazairi mengatakan: Waktu mulainya shalat Id adalah sejak matahari naik setinggi tombak sampai tergelincir. Namun yang lebih utama adalah shalat Idul Adha dilaksanakan di awal waktu, sehingga memungkinkan bagi masyarakat menyelesaikan sembelihannya dan mengakhirkan pelaksanaan shalat Idul Fitri, sehingga memungkinkan bagi masyarakat untuk membagikan zakat fitrinya. (Minhajul Muslim, hal. 278)

Tempat Pelaksanaan Shalat Id

  1. Ketika di Mekah

Tempat pelaksanaan shalat Id di Mekah yang paling afdhal adalah di Masjidil Haram. Karena semua ulama senantiasa melaksanakan shalat Id di Masjidil Haram ketika di Mekah.

Imam an-Nawawi mengatakan: …ketika di Mekah, maka Masjidil Haram paling afdhal (untuk tempat shalat Id) tanpa ada perselisihan di kalangan ulama. (al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, 5:524)

  1. Di Luar Mekah

Tempat pelaksanaan shalat Id yang lebih utama dan sesuai sunah adalah di tanah lapangan atau lapangan, kecuali jika ada udzur/halangan seperti hujan atau halangan lainnya.

Dari Abu Sa’id al-Khudri,

كَانَ رَسُول الله -صلى الله عليه وسلم- يَخْرجُ يَومَ الفِطرِ و الأَضحَى إلَى المُصلَّى، فَأَوَّلُ شَىْءٍ يبْدَأ بِهِ الصَّلاةُ

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju lapangan ketika Idul Fitri dan Idul Adha. Pertama kali yang beliau lakukan adalah shalat Id.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnul Haj al-Makki mengatakan: “…sunah yang berlaku sejak dulu terkait shalat Id adalah dilaksanakan di lapangan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama dari pada seribu kali shalat di selain masjidku, kecuali masjidil Haram.” Meskipun memiliki keutamaan yang sangat besar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap keluar menuju lapangan dan meninggalkan masjid.” (al-Madkhal, 2:438)

Tuntunan Ketika Hendak Shalat Idul Adha

  1. Mandi sebelum berangkat Shalat Id

Dari Nafi’, beliau mengatakan

أن عبد الله بن عمر كان يغتسل يوم الفطر قبل أن يغدو إلى المصلى

Bahwa Ibnu Umar radliallahu ‘anhuma mandi pada hari Idul Fitri sebelum berangkat ke lapangan.” (HR. Malik dan asy-Syafi’i dan sanadnya shahih)

Al-Faryabi menyebutkan bahwa Said bin al-Musayyib mengatakan:

سنة الفطر ثلاث : المَشْي إِلى المُصَلى ، و الأَكل قَبل الخُروج، والإِغتِسال

Sunah ketika Idul Fitri ada tiga: berjalan menuju lapangan, makan sebelum keluar (menuju lapangan), dan mandi.” (Ahkamul Idain karya al-faryabi dan sanadnya dishahihkan al-Albani)

Catatan: Dibolehkan untuk memulai mandi hari raya sebelum atau sesudah subuh. Ini adalah pendapat yang kuat dalam Madzhab Syafi’i dan pendapat yang dinukil dari imam Ahmad. Allahu a’lam.

  1. Berhias diri dan memakai pakaian terbaik

Dari Ibnu Abbas, bahwa pada suatu saat di hari Jumat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ هَذَا يَومُ عِيدٍ جَعَلهُ الله لِلمُسلِمِينَ فمَن جاءَ إلى الجُمعةِ فَليَغتَسِل وَإِن كانَ عِندَه طِيبٌ فَليَمسَّ مِنهُ وَعَلَيكُم بِالسِّواكِ

Sesungguhnya hari ini adalah hari raya yang Allah jadikan untuk kaum muslimin. Barangsiapa yang hadir Jumatan, hendaknya dia mandi. Jika dia punya wewangian, hendaknya dia gunakan, dan kalian gosok gigi.” (HR. Ibn Majah dan dihasankan al-Albani)

Dari Jabir bin Abdillah, beliau mengatakan:

كانت للنبي -صلى الله عليه وسلم- جُبّة يَلبسُها فِي العِيدَين ، وَ يَوم الجُمعَة

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki jubah yang beliau gunakan ketika hari raya dan hari Jumat.” (HR. Ibn Khuzaimah dan kitab shahihnya)

Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar ketika shalat Idul Fithri dan Idul Adha dengan pakaiannya yang terbaik.” (Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khoiril ‘Ibad, 1/425)

  1. Tidak makan sampai pulang dari shalat Idul Adha

Dari Buraidah, beliau berkata:

لاَ يَخرجُ يَومَ الفِطرِ حَتَّى يَطعَمَ ولاَ يَطعَمُ يَومَ الأَضْحَى حَتَّى يُصلِّىَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat menuju shalat Idul Fitri sampai beliau makan terlebih dahulu, dan ketika Idul Adha, beliau tidak makan sampai shalat dahulu.” (HR. At Turmudzi, Ibn Majah, dan dishahihkan al-Albani)

Hikmah dianjurkan makan sebelum berangkat shalat Idul Fithri adalah agar tidak disangka bahwa hari tersebut masih hari berpuasa. Sedangkan untuk shalat Idul Adha dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu adalah agar daging qurban bisa segera disembelih dan dinikmati setelah shalat id. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/602)

  1. Berjalan menuju tempat shalat dengan penuh ketenangan dan ketundukan

Dari sa’d radliallahu ‘anhu,

أنَّ النَّبىَّ -صلى الله عليه وسلم- كانَ يَخْرج إلَى العِيد مَاشِيًا وَيَرجِعُ مَاشِيًا

Bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju lapangan dengan berjalan kaki dan beliau pulang juga dengan berjalan.” (HR. Ibn majah dan dishahihkan al-Albani)

  1. Dianjurkan bagi makmum untuk datang di lapangan lebih awal.

Adapun imam, dianjurkan untuk datang agak akhir sampai waktu shalat akan dimulai. Karena imam itu ditunggu bukan menunggu. Demikianlah yang terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat.

  1. Bertakbir ketika keluar hendak Shalat Id.

Termasuk sunah, bertakbir di jalan menuju lapangan dengan mengangkat suara. Adapun para wanita maka dianjurkan tidak mengeraskannya, sehingga tidak didengar laki-laki.

Beberapa dalil di antaranya:

Dalam suatu riwayat disebutkan,

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يوْمَ الفِطْرِ فيُكَبِّر حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْر

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar hendak shalat pada hari raya Idul Fithri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.” (Dikeluarkan dalam As Silsilahh Ash Shahihah no. 171. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih)

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berangkat shalat id (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Al Fadhl bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin’Abbas, ‘Ali, Ja’far, Al Hasan, Al Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Ayman bin Ummi Ayman, mereka mengangkat suara membaca tahlil (laa ilaha illallah) dan takbir (Allahu Akbar).” (Dikeluarkan oleh Al Baihaqi (3/279). Hadits ini hasan. Lihat Al Irwa’ (3/123))

Dari Nafi’, ia berkata,

كان ابنُ عُمر يـخرج يوم العيد إلى المصلى فيكبر ويرفع صوته حتى يَأتِي الإمام

Bahwa Ibnu Umar -beliau mengeraskan bacaan takbir pada saat Idul Fitri dan Idul Adha ketika menuju lapangan, sampai imam datang.” (HR. ad-Daruquthni dan al-Faryabi dan dishahihkan al-Albani)

Tata cara takbir ketika berangkat shalat id:

  • Disyari’atkan dilakukan oleh setiap orang dengan menjahrkan (mengeraskan) bacaan takbir. Ini berdasarkan kesepakatan empat ulama madzhab.
  • Di antara lafazh takbir adalah,

اللَّهُ أَكْبرُ اللَّهُ أَكْبرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبرُ اللَّهُ أَكْبرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala pujian hanya untuk-Nya)”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa lafazh ini dinukil dari banyak sahabat, bahkan ada riwayat yang menyatakan bahwa lafazh ini marfu’ yaitu sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaikhul Islam juga menerangkan bahwa jika seseorang mengucapkan “Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu akbar”, itu juga diperbolehkan.

(Lihat Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 24/220, Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H)

  1. Menyuruh wanita dan anak kecil untuk berangkat shalat id.

Hadits dari Ummu ‘Athiyah, beliau berkata,

أَمَرَنَا – تعْنِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- – أَنْ نُخْرِجَ فِى الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami pada saat shalat id (Idul Fithri ataupun Idul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru beanjak dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haidh. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haidh untuk menjauhi tempat shalat.” (HR. Muslim  no. 890, dari Muhammad, dari Ummu ‘Athiyah)

Sedangkan dalil mengenai anak kecil, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas –yang ketika itu masih kecil- pernah ditanya, “Apakah engkau pernah menghadiri shalat id bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Ia menjawab,

نعَمْ ، وَلَوْلاَ مَكَانِى مِنَ الصِّغَرِ مَا شَهِدْتُهُ

Iya, aku menghadirinya. Seandainya bukan karena kedudukanku yang termasuk sahabat-sahabat junior, tentu aku tidak akan menghadirinya.” (HR. Bukhari no. 977)

  1. Melewati jalan pergi dan pulang yang berbeda.

Dari Jabir, beliau mengatakan,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا كَانَ يوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat id, beliau lewat jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.” (HR. Bukhari no. 986)

  1. Dianjurkan berjalan kaki sampai ke tempat shalat dan tidak memakai kendaraan kecuali jika ada hajat.

Dari Ibnu ‘Umar, beliau mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيرْجِعُ مَاشِيًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat id dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang dengan berjalan kaki.” (HR. Ibnu Majah no. 1295. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

  1. Tidak boleh membawa senjata, kecuali terpaksa.

Dari Said bin Jubair, beliau mengatakan:

Kami bersama Ibnu Umar, tiba-tiba dia terkena ujung tombak di bagian telapak kakinya. Maka aku pun turun dari kendaraan dan banyak orang menjenguknya. Ada orang yang bertanya: Bolehkah kami tau, siapa yang melukaimu? Ibnu Umar menunjuk orang itu: Kamu yang melukaiku. Karena kamu membawa senjata di hari yang tidak boleh membawa senjata.” (HR. Bukhari)

Al-Hasan al-Bashri mengatakan: Mereka dilarang untuk membawa senjata di hari raya, kecuali jika mereka takut ada musuh. (HR. Bukhari secara mu’allaq)

Wanita Dianjurkan Berangkat ke Tempat Shalat

Disyariatkan bagi wanita untuk berangkat menuju ke tempat shalat ketika hari raya dengan memperhatikan adab-adab berikut:

  1. Memakai jilbab sempurna (hijab).

Dari Ummu ‘Athiyah radliallahu ‘anha mengatakan:

أمرنا رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أن نخرجهن في الفطر والأضحى: العواتق، والحيض، وذوات الخدور، فأما الحيض فيعتزلن الصلاة، ويشهدن الخير ودعوة المسلمين

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk mengajak keluar gadis yang baru baligh, gadis-gadis pingitan, dan orang-orang haid untuk menghadiri shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Saya bertanya: Ya Rasulullah, ada yang tidak memiliki jilbab? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya saudarinya meminjamkan jilbabnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Tidak memakai minyak wangi dan pakaian yang mengundang perhatian.

Dari zaid bin Kholid Al Juhani radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تمنَعوا إماءَ الله المسَاجدَ، و ليَخرُجنَ تَفلاَتٍ

“Janganlah kalian melarang para wanita untuk ke masjid. Dan hendaknya mereka keluar dalam keadaan tafilaat.” (HR. Ahmad, Abu daud dan dishahihkan al-Albani)

Keterangan: Makna “tafilaat” adalah tidak memakai winyak wangi dan tidak menampakkan aurat.

  1. Tidak boleh bercampur dengan laki-laki.

Ummu Athiyah mengatakan:

فليكن خلف الناس يكبرنّ مع الناس

Hendaknya mereka berjalan di belakang laki-laki dan bertakbir bersama mereka.” (HR. Muslim)

Tidak ada adzan dan qamat ketika hendak shalat

Dari Jabir bin Samuroh, ia berkata,

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْعِيدَيْنِ غَيرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ

Aku pernah melaksanakan shalat id (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya sekali atau dua kali, ketika itu tidak ada adzan maupun iqomah.” (HR. Muslim no. 887)

Tidak ada shalat sunah qabliyah dan ba’diyah di lapangan

Dari Ibn abbas,

أَنَّ النَّبِىّ -صلى الله عليه وسلم- خَرجَ يَومَ الفِطرِ، فَصلَّى رَكعَتَينِ لَـم يُصَلّ قَبلَهَا و لا بَعدَهَا و مَعَهُ بِلاَلٌ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar pada hari Idul Adha atau Idul Fithri, lalu beliau mengerjakan shalat id dua raka’at, namun beliau tidak mengerjakan shalat qobliyah maupun ba’diyah. Dan beliau bersama Bilal.” (HR. Bukhari no. 964 dan Muslim no. 884)

Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabat, tidaklah melakukan shalat apapun setelah mereka sampai di lapangan. Baik sebelum shalat Id maupun sesudahnya. Yang termasuk ajaran Nabi adalah tidak melakukan hal-hal semacam tadi.” (Zadul Ma’ad, 1/425)

Catatan:

  1. Dibolehkan untuk melaksanakan shalat sunah setelah tiba di rumah.

Dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melaksanakan shalat sunah apapun sebelum shalat Id. Setelah pulang ke rumah, beliau shalat dua rakaat.” (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan Al Albani)

  1. Orang yang shalat Id di masjid, tetap disyariatkan untuk melaksanakan shalat tahiyatul masjid, mengingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين

Apabila kalian masuk masjid maka jangan duduk sampai shalat dua rakaat.”

Demikian penjelasan Syaikh Abdul Aziz bin Baz (Shalatul idain karya Sa’id al-Qohthoni)

Mengambil sutrah (pembatas shalat) bagi imam

Dari Ibnu Umar radliallahu ‘anhuma,

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menuju lapangan pada hari raya, beliau perintahkan untuk menancapkan bayonet di depan beliau, kemudian beliau shalat menghadap ke benda tersebut.” (HR. Bukhari)

Tata Cara Shalat Id

Jumlah raka’at shalat Idul Fithri dan Idul Adha adalah dua raka’at serta dilaksanakan sebelum khutbah sebagaimana dalil dari hadits berikut:

Umar bin Khotob mengatakan:

صلاة الجمعة ركعتان، وصلاة الفطر ركعتان،وصلاة الأضحى ركعتان

Shalat Jumat dua rakaat, shalat Idul Fitri dua rakaat, shalat Idul Adha dua rakaat.” (HR. Ahmad, an-Nasa’i dan dishahihkan al-Albani)

Dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

Saya mengikuti shalat Id bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu bakar, Umar, dan Utsman radliallahu ‘anhum, mereka semua melaksanakan shalat sebelum khhutbah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun tata caranya adalah sebagai berikut:

  1. Memulai dengan takbiratul ihrom di rakaat pertama, sebagaimana shalat-shalat pada umumnya.
  2. Lalu membaca do’a iftitah.
  3. Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak 7 (tujuh) kali pada rakaat pertama dan 5 (lima) kali pada rakaat kedua.

Dari Aisyah radliallahu ‘anha,

Bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir ketika Idul Fitri dan Idul Adha, di rakaat pertama: 7 kali takbir dan 5 kali takbir di rakaat kedua, selain takbir rukuk di masing-masing rakaat.” (HR. Abu daud dan Ibn Majah dan dishahihkan al-Albani)

Al-Baghawi mengatakan: Ini adalah pendapat mayoritas ulama dari kalangan shabat maupun orang-orang setelahnya. Mereka bertakbir ketika shalat Id: di rakaat pertama tujuh kali selain takbiratul ihram dan di rakaat kedua lima kali selain takbir bangkit dari sujud. Pendapat ini diriwayatkan dari Abu bakar, Umar, dan Ali radliallahu ‘anhum. (Syarhus Sunah, 4:309. dinukil dari Ahkamul Idain karya Syaikh Ali al-Halabi)

Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi mengatakan: Tidak terdapat riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mengangkat kedua tangan setiap takbir-takbir shalat Id. (Ahkamul Idain, hal. 20)

Namun boleh mengangkat tangan ketika takbir-takbir tersebut sebagaimana dicontohkan oleh Ibnu ‘Umar. Ibnul Qayyim mengatakan, “Ibnu ‘Umar yang dikenal sangat meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengangkat tangannya dalam setiap takbir. (Zadul Maad, 1/425)

Al-Faryabi menyebutkan riwayat dari al-Walid bin Muslim, bahwa beliau bertanya kepada Imam malik tentang mengangkat tangan ketika takbir-takbir tambahan. Imam malik menjawab: ya, angkatlah kedua tanganmu setiap takbir tambahan. (Riwayat al-Faryabi dan sanadnya dishahihkan al-Albani)

  1. Membaca dzikir di sela-sela takbir tambahan.

Syaikh Ali bin Hasan Al halabi mengatakan: Tidak terdapat riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dzikir tertentu di sela-sela takbir tambahan. (Ahkamul Idain, hal. 21)

Namun terdapat riwayat yang shahih dari Ibnu Mas’ud radliallahu ‘anhu, beliau menjelaskan tentang shalat Id:

بين كل تكبيرتين حمد لله و ثناء على الله

Di setiap sela-sela takbir tambahan dianjurkan membaca tahmid dan pujian kepada Allah.” (HR. al-Baihaqi dan dishahihkan al-Albani)

Ibnul Qoyim mengatakan: “Disebutkan dari Ibnu Mas’ud bahwa beliau menajelaskan: (di setiap sela-sela takbir, dianjurkan) membaca hamdalah, memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Zadul Maad, 1/425)

  1. Kemudian membaca Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surat lainnya

Surat yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah surat Qaaf pada raka’at pertama dan surat Al Qomar pada raka’at kedua.

Ada riwayat bahwa ‘Umar bin Al Khattab pernah menanyakan pada Waqid Al Laitsiy mengenai surat apa yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat Idul Adha dan Idul Fithri. Ia pun menjawab,

كَانَ يقْرَأُ فِيهِمَا بِ (ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ) وَ (اقْترَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ)

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca “Qaaf, wal qur’anil majiid” (surat Qaaf) dan “Iqtarobatis saa’atu wan syaqqol qomar” (surat Al Qomar).” (HR. Muslim no. 891)

Boleh juga membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua. Dan jika hari id jatuh pada hari Jum’at, dianjurkan pula membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua, pada shalat id maupun shalat Jum’at.

Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يوْمٍ وَاحِدٍ يقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتيْنِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam shalat id maupun shalat Jum’at “Sabbihisma robbikal a’la” (surat Al A’laa)dan “Hal ataka haditsul ghosiyah” (surat Al Ghosiyah).” (HR. Muslim no. 878)

An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari id bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.

  1. Setelah membaca surat, kemudian melakukan gerakan shalat seperti biasa (ruku, i’tidal, sujud, dst.), sama dengan shalat lainnya dan tidak ada perbedaan sedikit pun (Ahkamul Idain, hal. 22).

Orang yang Ketinggalan Shalat Id

Orang yang ketinggalan shalat Id berjamaah, maka ia shalat dua rakaat, sebagaimana disebutkan dalam hadits,

Atha’ bin Abi Rabah mengatakan:

إذا فاته العيد صلى ركعتين

Apabila ketinggalan shalat Id, maka shalat dua rakaat.” (HR. Bukhari)

Khutbah Shalat Id

  1. Dilaksanakan setelah shalat Id dan hanya satu kali (bukan dua kali seperti Khutbah Jumát)

Dari Ibnu ‘Umar, ia mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ – رضى الله عنهما – يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قبْلَ الْخُطْبَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr, begitu pula ‘Umar biasa melaksanakan shalat id sebelum khutbah.” (HR. Bukhari no. 963 dan Muslim no. 888)

Dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan:

شهدت العيد مع رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، وأبي بكر، وعمر، وعثمان رضى الله عنهم، فكلهم كانوا يصلون قبل الخطبة

Saya mengikuti shalat Id bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu bakar, Umar, dan Utsman radliallahu ‘anhum, mereka semua melaksanakan shalat sebelum khutbah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Khatib berdiri menghadap jamaah

Dari Abu sa’id al-Khudri radliallahu ‘anhu,

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju lapangan shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Pertama kali yang beliau lakukan adalah shalat, kemudian beliau berbalik, berdiri menghadap jama’ah. Sementara para jamaah tetap duduk di barisan-barisan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Imam berkhutbah di tempat yang tinggi tanpa mimbar

Dalam hadis jabir disebutkan:

قام النبي -صلى الله عليه وسلم- يوم الفطر، فصلى، فبدأ بالصلاة، ثم خطب، فلما فرغ نزل فأتى النساء فذكرهن

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ketika Idul Fitri, beliau mulai dengan shalat kemudian berkhutbah. Setelah selesai beliau turun kemudian mendatangi jamaah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Bukhari mengatakan: bab, datang di lapangan (hari raya) tanpa membawa mimbar. (shahih Al bukhari)

Imam Ibnul Qoyim mengatakan: Tidak diragukan, bahwa mimbar tidak dibawa dari masjid (ke lapangan). Orang yang pertama kali mengeluarkan mimbar ke masjid adalah Marwan bin Hakam, dan perbuatan beliau diingkari. (Zadul Maad, 1:425)

  1. Khatib berceramah dengan memegang tongkat atau semacamnya

Dari Barra bin Azib radliallahu ‘anhu,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نُووِل يَوم العيد قَوساً فَخَطَب عليه

Bahwa kami memberikan busur panah kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari raya dan beliau berkhutbah dengan memegangnya.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan al-Albani)

  1. Khutbah dimulai dengan membaca tahmid

Imam Ibnul Qoyim mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai semua khutbahnya dengan membaca tahmid. Dan tidak diriwayatkan dalam satu hadits pun bahwa beliau memulai khutbahnya pada dua hari raya dengan melantunkan takbir. Namun beliau memang sering mengucapkan takbir di tengah-tengah khutbah. Hal ini tidak menunjukkan bahwa beliau selalu memulai khutbah idnya dengan bacaan takbir. (Zadul Maad, 1:425)

Syaikhul Islam mengatakan: Tidak diriwayatkan dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memulai khutbahnya dengan selain tahmid, baik khutbah id, khutbah istisqa’, maupun khutbah lainnya. (Majmu’ al-fatawa, 22/393)

  1. Isi khutbah disesuaikan

Ketika Idul Adha, maka khatib menyampaikan tentang Idul Adha dan rincian hukumnya, mengingatkan keutamaan 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah, memerintahkan untuk bertakwa, dan menjaga ketaatan lainnya.

Tidak selayaknya, kesempatan khutbah ini digunakan untuk mencela pemerintah atau ulama, menuduh mereka kafir atau fasiq, atau tema-tema khutbah lainnya yang dapat membangkitkan emosi masyarakat dan memicu kerusuhan.

Keringanan Untuk Tidak Mengikuti Khotbah

Dari Abdullah bin saib radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Saya mengikuti shalat Id bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah selesai khutbah beliau bersabda:

إِنَّا نَخطُب فَمَن أحَبَّ أَن يَجلسَ للخُطْبةِ  فليَجلِسْ و مَن أَحَبّ أَن يَذهَب فليَذْهَب

Saya akan menyampaikan khutbah. Siapa yang ingin tetap duduk untuk mendengarkan khutbah, silahkan dia duduk, dan siapa yang ingin pergi silakan pergi.” (HR. Abu Daud no. 1155 dan Ibnu Majah no. 1290. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ibnul Qoyim mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan bagi orang yang mengikuti hari raya untuk duduk mendengarkan khutbah atau pulang. (Zadul Maad, 1/425)

Ucapan Selamat

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Adapun tentang ucapan selamat (tah-niah) ketika hari id seperti sebagian orang mengatakan pada yang lainnya ketika berjumpa setelah shalat id, “Taqobbalallahu minna wa minkum wa ahaalallahu ‘alaika” dan semacamnya, maka seperti ini telah diriwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka biasa mengucapkan semacam itu dan para imam juga memberikan keringanan dalam melakukan hal ini sebagaimana Imam Ahmad dan lainnya.

Akan tetapi, Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak mau mendahului mengucapkan selamat hari raya pada seorang pun. Namun kalau ada yang mengucapkan selamat padaku, aku akan membalasnya”. Imam Ahmad melakukan semacam ini karena menjawab ucapan selamat adalah wajib, sedangkan memulai mengucapkannya bukanlah sesuatu yang dianjurkan. Intinya, barangsiapa ingin  mengucapkan selamat, maka ia memiliki qudwah (contoh), dan barangsiapa meninggalkannya, ia pun memiliki qudwah (contoh).”

Bila Shalat Id Bertepatan dengan Hari Jum’at

Bila hari id jatuh pada hari Jum’at, maka bagi orang yang telah melaksanakan shalat id, ia punya pilihan untuk menghadiri shalat Jum’at atau tidak. Namun imam masjid dianjurkan untuk tetap melaksanakan shalat Jum’at agar orang-orang yang punya keinginan menunaikan shalat Jum’at bisa hadir, begitu pula orang yang tidak shalat id bisa turut hadir. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama Hambali. Dan pendapat ini terdapat riwayat dari ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Az Zubair.

Dalil dari hal ini adalah:

  1. Diriwayatkan dari Iyas bin Abi Romlah Asy Syamiy, ia berkata, “Aku pernah menemani Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ia bertanya pada Zaid bin Arqom,

أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِى يوْمٍ قَالَ نعَمْ. قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فقَالَ « مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فلْيُصَلِّ ».

Apakah engkau pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan dua id (hari Idul Fithri atau Idul Adha bertemu dengan hari Jum’at) dalam satu hari?” “Iya”, jawab Zaid. Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi, “Apa yang beliau lakukan ketika itu?” “Beliau melaksanakan shalat id dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at”, jawab Zaid lagi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mau shalat Jum’at, maka silakan melaksanakannya.”

(HR. Abu Daud no. 1070, Ibnu Majah no. 1310. Asy Syaukani dalam As Sailul Jaror (1/304)  mengatakan bahwa hadits ini memiliki syahid (riwayat penguat). An Nawawi dalam Al Majmu’ (4/492) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (antara shahih dan hasan, pen). ‘Abdul Haq Asy Syubaili dalam Al Ahkam Ash Shugro (321) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. ‘Ali Al Madini dalam Al Istidzkar (2/373) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (antara shahih dan hasan, pen). Syaikh Al Albani dalam Al Ajwibah An Nafi’ah (49) mengatakan bahwa hadits ini shahih.  Intinya, hadits ini bisa digunakan sebagai hujjah atau dalil)

  1. Dari ‘Atho’, ia berkata,

Ibnu Az Zubair ketika hari id yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat id bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thoif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan sunnah (ajaran Nabi) [ashobas sunnah].” (HR. Abu Daud no. 1071. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

  1. Diceritakan pula bahwa ‘Umar bin Al Khottob melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Ibnu Az Zubair. Begitu pula Ibnu ‘Umar tidak menyalahkan perbuatan Ibnu Az Zubair. Begitu pula ‘Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan bahwa siapa yang telah menunaikan shalat id maka ia boleh tidak menunaikan shalat Jum’at. Dan tidak diketahui ada pendapat sahabat lain yang menyelisihi pendapat mereka-mereka ini. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/596, Al Maktabah At Taufiqiyah)

Catatan:

Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at atau yang tidak shalat id bisa menghadirinya.

Dalil dari hal ini adalah dari An Nu’man bin Basyir, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam shalat id dan shalat Jum’at “sabbihisma robbikal a’la” dan “hal ataka haditsul ghosiyah”.” (HR. Muslim no. 878)

An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari id bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat. Karena imam dianjurkan membaca dua surat tersebut pada shalat Jum’at yang bertepatan dengan hari id, ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at dianjurkan untuk dilaksanakan oleh imam masjid.

Siapa saja yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan telah menghadiri shalat id –baik pria maupun wanita- maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat Zhuhur (4 raka’at) sebagai ganti karena tidak menghadiri shalat Jum’at. (Lihat Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyah wal Ifta’, 8/182-183)

Demikian beberapa penjelasan ringkas mengenai tuntunan shalat Idul Adha. Semoga bermanfaat. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Sumber:

  1. https://konsultasisyariah.com/
  2. https://rumaysho.com/
 
Leave a comment

Posted by on August 23, 2016 in mutiaranya dakwah

 

Tags: , ,

KEUTAMAAN 10 HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH DAN AMALAN YANG DISYARIATKAN

imagesKeutamaan beramal di sepuluh hari pertama Dzulhijjah sebagaimana diterangkan dalam qur’an maupun hadits berikut:

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».

Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu: Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya: Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ? Beliau menjawab: Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”. [HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim]

Dari Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ما من أيام أعظم ولا احب إلى الله العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid”. [HR. Ahmad dan Sanadnya dishahihkan Syekh Ahmad Syakir]

Dalil lain yang menunjukkan keutamaan 10 hari pertama Dzulhijah adalah firman Allah Ta’ala,

وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Dan demi malam yang sepuluh.” [QS. Al Fajr: 2].

Di sini Allah menggunakan kalimat sumpah. Ini menunjukkan keutamaan sesuatu yang disebutkan dalam sumpah. Makna ayat ini, ada empat tafsiran dari para ulama yaitu: sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Ramadhan dan sepuluh hari pertama bulan Muharram. Malam (lail) kadang juga digunakan untuk menyebut hari (yaum), sehingga ayat tersebut bisa dimaknakan sepuluh hari Dzulhijah. Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan bahwa tafsiran yang menyebut sepuluh hari Dzulhijah, itulah yang lebih tepat. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas pakar tafsir dari para salaf dan selain mereka, juga menjadi pendapat Ibnu ‘Abbas.

AMALAN UTAMA YANG DISYARIATKAN

1. Melaksanakan Ibadah Haji dan Umrah.

Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Dari ‘Aisyah -ummul Mukminin- radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ : لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ

Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur”, jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [HR. Bukhari no. 1520]

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” [HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349]

An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud, ‘tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga’, bahwasanya haji mabrur tidak cukup jika pelakunya dihapuskan sebagian kesalahannya. Bahkan ia memang pantas untuk masuk surga.” [Syarh Shahih Muslim, 9/119]

‘Aisyah berkata,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ قَالَ « نَعَمْ عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ ».

Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya. Dia wajib berjihad tanpa ada peperangan di dalamnya, yaitu dengan haji dan ‘umroh.” (HR. Ibnu Majah no. 2901, hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani).

2. Berpuasa Awal Dzulhijjah.

Disunnahkan untuk memperbanyak puasa dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong kita untuk beramal sholeh ketika itu dan puasa adalah sebaik-baiknya amalan sholeh.

Yang lebih utama dari sepuluh pertama Dzulhijjah adalah puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah disesuaikan dengan hilal di negeri masing-masing tidak mesti sesuai dengan wukuf di Arafah (sebagaimana keterangan dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin).

Abu Qatadah radliallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفّر السنة التي قبله ، والسنة التي بعده

“…puasa hari arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai penebus (dosa, pen.) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya..”. [HR. Ahmad dan Muslim]

Dari Ummul Mukminin, Hafshah Radliallahu ‘anha, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa asyura, sembilan hari pertama Dzulhijjah, dan tiga hari tiap bulan. [HR. An Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, dan disahihkan Al-Albani]

Di antara alasan kenapa dianjurkan berpuasa karena amalan tersebut ada kekhususan di mana Allah melipatgandakan pahalanya, amalan tersebut hanya untuk Allah dan Dia yang akan membalasnya. Keutamaan tersebut disebutkan dalam hadits berikut,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى

Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku...” [HR. Muslim no. 1151]

Dalam riwayat lain dikatakan,

قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”.” [HR. Bukhari no. 1904]

Dalil yang mendukung anjuran puasa di 10 hari pertama Dzulhijjah adalah hadits dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْر.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya (hijriyah), …” [HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]

Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah ‘Abdullah bin ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma-. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. [Lihat Lathoif Al Ma’arif, hal. 461]

3. Memperbanyak Dzikir.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

“…. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …”. [al-Hajj/22 : 28].

Ayyam ma’lumaat’ menurut salah satu penafsiran adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Pendapat ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama di antaranya Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Al Hasan Al Bashri, ‘Atho’, Mujahid, ‘Ikrimah, Qotadah dan An Nakho’i, termasuk pula pendapat Abu Hanifah, Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad (pendapat yang masyhur dari beliau). [Lihat perkataan Ibnu Rajab Al Hambali dalam Lathoif Al Ma’arif, hal. 462 dan 471]

Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma,

فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid”. [Hadits Riwayat Ahmad].

Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan,

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِى أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ ، وَالأَيَّامُ الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ . وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا . وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِىٍّ خَلْفَ النَّافِلَةِ .

Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10  hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah. [Dikeluarkan oleh Bukhari tanpa sanad (mu’allaq), pada Bab “Keutamaan beramal di hari tasyriq”]

Takbir yang dimaksudkan dalam penjelasan di atas adalah sifatnya muthlaq, artinya tidak dikaitkan pada waktu dan tempat tertentu. Jadi boleh dilakukan di pasar, masjid, dan saat berjalan. Takbir tersebut dilakukan dengan mengeraskan suara khusus bagi laki-laki.

Sedangkan ada juga takbir yang sifatnya muqoyyad, artinya dikaitkan dengan waktu tertentu yaitu dilakukan setelah shalat wajib berjama’ah.

Takbir muqoyyad bagi orang yang tidak berhaji dilakukan mulai dari shalat Shubuh pada hari ‘Arofah (9 Dzulhijah) hingga waktu ‘Ashar pada hari tasyriq yang terakhir. Adapun bagi orang yang berhaji dimulai dari shalat Zhuhur hari Nahr (10 Dzulhijah) hingga hari tasyriq yang terakhir.

Ishaq Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha, tabiin bahwa pada hari-hari tersebut mengucapkan :

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر ولله الحمد

(Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu)

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.

4. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa.

Termasuk yang ditekankan pula di awal Dzulhijah adalah bertaubat dari berbagai dosa dan maksiat serta meninggalkan tindak zholim terhadap sesama, sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta’atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.

Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ان الله يغار وغيرة الله أن يأتي المرء ما حرم الله علي

Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya” [Hadits Muttafaqun ‘Alaihi].

5. Memperbanyak Beramal Shalih

Dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tidak ada hari dimana suatu amal salih lebih dicintai Allah melebihi amal salih yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah, pen.).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satupun yang kembali (mati dan hartanya diambil musuh, pen.).” [HR. Bukhari, Ahmad, dan At-Turmudzi]

Hadits ini menunjukkan kita dianjurkan memperbanyak amal soleh selama 10 hari pertama dzulhijjah. Apapun bentuk amalnya, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menentukan amal ibadah khusus selain takbiran dan puasa arafah.

Amal shalih secara umum dapat berupa ibadah sunat seperti: shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

6. Melaksanakan Shalat Idul Adha.

Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

قدم رسول الله -صلى الله عليه وسلم- المدينة ولهم يومان يلعبون فيهما فقال « ما هذان اليومان ». قالوا كنا نلعب فيهما فى الجاهلية. فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- « إن الله قد أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الأضحى ويوم الفطر ».

Bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, masyarakat Madinah memiliki dua hari yang mereka rayakan dengan bermain. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Dua hari apakah ini?” Mereka menjawab, “Kami merayakannya dengan bermain di dua hari ini ketika zaman jahiliyah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah memberikan ganti kepada kalian dengan dua hari yang lebih baik: Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. An-Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, dan disahihkan al-Albani).

Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan, dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.

7. Menyembelih Hewan Kurban

Allah berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Laksanakanlah salat untuk Rab-mu dan sembelihlah kurban.” [QS. Al-Kautsar: 2]

Ibadah qurban memiliki nilai sangat penting, sehingga bagi yang mampu, agar jangan sampai meninggalkannya. Anda bisa perhatikan hadis ini,

Dari Abu Hurairah Radliallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من كان له سعة ولم يضح فلا يقربن مصلانا

“Siapa yang memililki kelapangan namun dia tidak berkurban maka jangan mendekat ke masjid kami.” [HR. Ahmad dan Ibnu Majah. Dihasankan Al-Albani]

Catatan: Bagi orang yang hendak berkurban, dilarang memotong kuku dan juga rambutnya (bukan kuku dan bulu hewannya) ketika sudah masuk tanggal 1 Dzulhijjah sampai dia memotong hewan kurbannya.

Dari Umu salamah Radliallahu ‘anha, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

مَن كانَ لَهُ ذِبحٌ يَذبَـحُه فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ

“Barangsiapa yang memiliki hewan yang hendak dia sembelih (di hari raya), jika sudah masuk tanggal 1 Dzulhijjah maka janganlah dia memotong rambutnya dan kukunya sedikitpun, sampai dia menyembelih hewan kurbannya.” [HR. Muslim]

Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وقد ثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم ضحى بكبشين أملحين أقرنين ذبحهما بيده وسمى وكبّر ووضع رجله على صفاحهما

Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu”. [Muttafaqun ‘Alaihi].

Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah Taála,

وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّه

“….. dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan…”. [al-Baqarah/2 : 196].

Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosok-nya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.

8. Selain Hal-Hal di Atas.

Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.

Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya dan menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Dan shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan para sahabatnya.

Sumber:

 
Leave a comment

Posted by on August 22, 2016 in mutiaranya dakwah

 

Tags: , , , , ,

*Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1437 H*

تقبل الله منا ومنكم
Taqabbalallaahu Minnaa Wa Minkum
Semoga Allah menerima amal kami dan Anda

كل عام وأنتم بخير
Kullu ‘Aamin Wa Antum Bikhair
Semoga Anda berada dalam kebaikan sepanjang tahun

Mohon maaf lahir & batin…

( Rochmad & keluarga )

#iedmubarok #idhulfithri #lebaran #bådå #maafmaafan

View on Path

 
Leave a comment

Posted by on July 6, 2016 in ceritanya gambar

 

MENYAMBUT DATANGNYA RAMADHAN

ramadhan-mubarakTinggal menunggu hitungan hari kita akan segera memasuki bulan penuh barokah, Ramadhan mubarok. Hendaknya kita mengetahui bahwa salah satu nikmat yang banyak disyukuri meski oleh seorang yang lalai adalah nikmat ditundanya ajal dan sampainya kita di bulan Ramadhan. Tentunya jika diri ini menyadari tingginya tumpukan dosa yang menggunung, maka pastilah kita sangat berharap untuk dapat menjumpai bulan Ramadhan dan mereguk berbagai manfaat di dalamnya.

Bersyukurlah atas nikmat ini. Betapa Allah ta’ala senantiasa melihat kemaksiatan kita sepanjang tahun, tetapi Dia menutupi aib kita, memaafkan, dan menunda kematian kita sampai bisa berjumpa kembali dengan Ramadhan.

Ketidaksiapan yang Berbuah Pahit

Imam Abu Bakr Az Zur’i rahimahullah memaparkan dua perkara yang wajib kita waspadai. Salah satunya adalah kewajiban telah datang tetapi kita tidak siap untuk menjalankannya. Ketidaksiapan tersebut salah satu bentuk meremehkan perintah. Akibatnya pun sangat besar, yaitu kelemahan untuk menjalankan kewajiban tersebut dan terhalang dari ridha-Nya. Kedua dampak tersebut merupakan hukuman atas ketidaksiapan dalam menjalankan kewajiban yang telah nampak di depan mata. (Badai’ul Fawaid 3/699)

Abu Bakr Az Zur’i menyitir firman Allah ta’ala berikut,

quran1

“Maka jika Allah mengembalikanmu kepada suatu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), Maka katakanlah: “Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. karena itu duduklah bersama orang-orang yang tidak ikut berperang.” (At Taubah: 83).

Allah ta’ala tidak menyukai keberangkatan mereka dan Dia lemahkan mereka, karena tidak ada persiapan dan niat yang tidak lurus. Namun, bila seorang bersiap untuk menunaikan suatu amal dan bangkit menghadap Allah dengan kerelaan hati, maka Allah terlalu mulia untuk menolak hamba yang datang menghadap-Nya. Berhati-hatilah dari mengalami nasib menjadi orang yang tidak layak menjalankan perintah Allah ta’ala yang penuh berkah. Seringnya kita mengikuti hawa nafsu, menyebabkan kita tertimpa hukuman berupa tertutupnya hati dari hidayah.

Allah ta’ala berfirman,

quran2

“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (Al An’am: 110).

Berbekallah dengan Ilmu

Bekal ilmu ini amatlah utama agar ibadah kita menuai manfaat, berfaedah, dan tidak asal-asalan.

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata, “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.”  (Al Amru bil Ma’ruf, hal. 15).

Puasa memiliki keutamaan yang besar. Bulan Ramadhan pun demikian adalah bulan yang penuh kemuliaan. Untuk memasuki bulan yang mulia ini, tentu kita harus punya persiapan yang matang. Bekal utama yang mesti ada adalah bekal ilmu.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Orang yang beramal tanpa ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang berjalan tanpa penuntun akan mendapatkan kesulitan dan sulit untuk selamat. Taruhlah ia bisa selamat, namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak dipuji bahkan dapat celaan.”

Guru dari Ibnul Qayyim yaitu Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata,

“Siapa yang terpisah dari penuntun jalannya, maka tentu ia akan tersesat. Tidak ada penuntun yang terbaik bagi kita selain dengan mengikuti ajaran Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.”

Sedangkan Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan,

“Orang yang beramal tanpa ilmu seperti orang yang berjalan bukan pada jalan yang sebenarnya. Orang yang beramal tanpa ilmu hanya membuat banyak kerusakan dibanding mendatangkan kebaikan. Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh, namun jangan sampai meninggalkan ibadah. Gemarlah pula beribadah, namun jangan sampai meninggalkan ilmu. Karena ada segolongan orang yang rajin ibadah, namun meninggalkan belajar.”

(Miftah Daris Sa’adah, 1: 299-300)

Amalan yang bisa diterima hanyalah dari orang yang bertakwa. Sifat takwa hanya bisa diraih dengan belajar agama. Allah Ta’ala berfirman,

quran3

“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Maidah: 27).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tafsiran yang paling bagus mengenai ayat ini bahwasanya amalan yang diterima hanyalah dari orang yang bertakwa. Yang disebut bertakwa adalah bila beramal karena mengharap wajah Allah dan sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu saja ini hanya didasari dengan ilmu.”

(Miftah Daris Sa’adah, 1 : 299 )

Tidak tahu akan hukum puasa, bisa jadi puasa kita rusak. Tidak tahu apa saja hal-hal yang disunnahkan saat puasa, kita bisa kehilangan pahala yang banyak. Tidak tahu jika maksiat bisa mengurangi pahala puasa, kita bisa jadi hanya dapat lapar dan dahaga saja saat puasa.

Ingatlah syarat diterimanya ibadah bukan hanya ikhlas. Ibadah bisa diterima jika mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, alias ada dalilnya.

Ilmu apa saja yang mesti disiapkan sebelum Ramadhan menghampiri kita? Yang utama adalah ilmu yang bisa membuat puasa kita sah, yang bila tidak dipahami bisa jadi ada kewajiban yang kita tinggalkan atau larangan yang kita terjang. Lalu dilengkapi dengan ilmu yang membuat puasa kita semakin sempurna. Juga bisa ditambahkan dengan ilmu mengenai amalan-amalan utama di bulan Ramadhan, ilmu tentang zakat, juga mengenai aktifitas sebagian kaum muslimin menjelang dan saat Idul Fithri, begitu pula setelahnya.

Persiapkan Amal Shalih dalam Menyambut Ramadhan

Bila kita menginginkan kebebasan dari neraka di bulan Ramadhan, diterima amalnya serta dihapus segala dosanya, maka harus ada bekal yang dipersiapkan.

Allah ta’ala berfirman,

quran4

“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (At Taubah: 46).

Dengan demikian, tersingkaplah ketidakjujuran orang-orang yang tidak mempersiapkan bekal untuk berangkat menyambut Ramadhan. Oleh sebab itu, dalam ayat di atas mereka dihukum dengan berbagai bentuk kelemahan dan kehinaan disebabkan keengganan mereka untuk melakukan persiapan.

Memperbanyak Ibadah Puasa (Shaum) di Bulan Sya’ban

Disunnahkan untuk melakukan shaum (puasa) di bulan Sya’ban. Seseorang yang ingin melakukan ibadah shaum di bulan Sya’ban bisa hanya berpuasa sehari atau beberapa hari. Boleh juga berpuasa mayoritas hari di bulan itu, atau bahkan seluruh hari. Hal itu pernah dilakukan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Beliau tidak terlihat lebih banyak berpuasa di satu bulan melebihi puasanya di bulan Sya’ban, dan beliau tidak menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan.

hadits2

“Dari Aisyah radhiyallahu anha beliau berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melakukan shoum hingga kami berkata: beliau tidak berbuka. Dan beliau berbuka hingga kami mengatakan: beliau tidak shoum. Tidaklah aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (selalu) menyempurnakan puasa sebulan seluruhnya kecuali Ramadhan. Tidaklah aku melihat beliau paling banyak melakukan shoum (selain Ramadhan) dibandingkan di bulan Sya’ban.” (HR alBukhari no. 1833 dan Muslim no. 1956).

hadits3

“Dari Aisyah radhiyallahu anha beliau berkata: Aku tidak pernah melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam lebih banyak berpuasa dibandingkan di bulan Sya’ban. Beliau (pernah) berpuasa seluruhnya kecuali hanya sedikit. Bahkan beliau (pernah) berpuasa seluruhnya.” (HR atTirmidzi, anNasaai, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albany)

Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amalan tahunan menuju Allah Azza Wa Jalla, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,

hadits4

“Dari Usamah bin Zaid beliau berkata: Wahai Rasulullah aku tidak pernah melihat anda banyak berpuasa (sunnah) di suatu bulan kecuali pada bulan Sya’ban. Nabi bersabda: Itu adalah bulan yang manusia banyak lalai. Ia berada di antara Rajab dan Ramadhan. Itu adalah bulan yang amalan-amalan diangkat menuju Tuhan semesta alam. Maka aku suka pada saat amalanku diangkat dalam keadaan berpuasa.” (HR anNasaai, dihasankan Syaikh al-Albany).

Namun, bagi seseorang yang tidak memulai puasa Sunnah Sya’ban sebelum tengah bulan (tanggal 15 Sya’ban), makruh baginya untuk memulai berpuasa setelah lewat tanggal 15 Sya’ban, sesuai hadits:

hadits5

“Jika telah masuk pertengahan Sya’ban, janganlah (mulai) berpuasa (sunnah).” (HR Abu Dawud, atTirmidzi, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan al-Albany)

Generasi emas umat ini, generasi salafush shalih, mereka selalu mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Sebagian ulama salaf mengatakan, ”Mereka (para sahabat) berdo’a kepada Allah selama 6 bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadlan.”

Tindakan mereka ini merupakan perwujudan kerinduan akan datangnya bulan Ramadhan, permohonan dan bentuk ketawakkalan mereka kepada-Nya. Tentunya, mereka tidak hanya berdo’a, namun persiapan menyambut Ramadhan mereka iringi dengan berbagai amal ibadah.

Abu Bakr al Warraq al Balkhi rahimahullah mengatakan dalam Lathaaiful Ma’arif, “Rajab adalah bulan untuk menanam, Sya’ban adalah bulan untuk mengairi dan Ramadhan adalah bulan untuk memanen.”

Sebagian ulama yang lain mengatakan, “Waktu setahun itu laksana sebuah pohon. Bulan Rajab adalah waktu menumbuhkan daun, Syaban adalah waktu untuk menumbuhkan dahan, dan Ramadhan adalah bulan memanen, pemanennya adalah kaum mukminin. (Oleh karena itu), mereka yang “menghitamkan” catatan amal mereka hendaklah bergegas “memutihkannya” dengan taubat di bulan-bulan ini, sedang mereka yang telah menyia-nyiakan umurnya dalam kelalaian, hendaklah memanfaatkan sisa umur sebaik-baiknya (dengan mengerjakan ketaatan) di waktu tersebut.”

Agar buah bisa dipetik di bulan Ramadhan, harus ada benih yang disemai, dan ia harus diairi. Puasa, qiyamullail, bersedekah, dan berbagai amal shalih di bulan Rajab dan Sya’ban, semua itu untuk menanam amal shalih di bulan Rajab dan diairi di bulan Sya’ban. Tujuannya agar kita bisa memanen kelezatan puasa dan beramal shalih di bulan Ramadhan, karena lezatnya Ramadhan hanya bisa dirasakan dengan kesabaran, perjuangan, dan tidak datang begitu saja. Hari-hari Ramadhan tidaklah banyak, perjalanan hari-hari itu begitu cepat. Oleh sebab itu, harus ada persiapan sebaik-baiknya.

Menyelesaikan Tanggungan Puasa Ramadhan Tahun Sebelumnya

Jika seseorang memiliki tanggungan puasa Ramadhan di tahun sebelumnya, maka ia harus segera menunaikannya sebelum masuk Ramadhan berikutnya. Tanggungan puasa wajib haruslah didahulukan sebelum mengerjakan puasa-puasa Sunnah. Tanggungan puasa itu adalah karena udzur seperti sakit, safar, atau haid pada wanita.

Aisyah radhiyallahu anha juga mengqodho’ (mengganti) tanggungan puasa wajib di Ramadhan sebelumnya pada bulan Sya’ban. Karena kesibukan beliau bersama Rasulullah shollallahu alaihi wasallam beliau baru bisa menggantinya di bulan Sya’ban.

hadits6

“Dari Aisyah radhiyallahu anha beliau berkata: Salah satu dari kami (istri-istri Nabi) berbuka (tidak berpuasa karena udzur) di zaman Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Ia tidak bisa menggantinya bersama Rasulullah shollallahu alaihi wasallam hingga datangnya Sya’ban.” (HR Muslim no. 1934)

Perbanyak Taubat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi: 2499)

Taubat menunjukkan tanda totalitas seorang dalam menghadapi Ramadhan. Dia ingin memasuki Ramadhan tanpa adanya sekat-sekat penghalang yang akan memperkeruh perjalanan selama mengarungi Ramadhan.

Allah memerintahkan para hamba-Nya untuk bertaubat, karena taubat wajib dilakukan setiap saat. Allah ta’ala berfirman,

quran5

“Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An Nuur: 31).

Taubat yang dibutuhkan bukanlah seperti taubat yang sering kita kerjakan. Kita bertaubat, lidah kita mengucapkan, “Saya memohon ampun kepada Allah”, akan tetapi hati kita lalai, akan tetapi setelah ucapan tersebut, dosa itu kembali terulang. Namun, yang dibutuhkan adalah totalitas dan kejujuran taubat. Jangan pula taubat tersebut hanya dilakukan di bulan Ramadhan sementara di luar Ramadhan kemaksiatan kembali digalakkan. Ramadhan merupakan momentum ketaatan sekaligus madrasah untuk membiasakan diri beramal shalih sehingga jiwa terdidik untuk melaksanakan ketaatan-ketaatan di sebelas bulan lainnya.

Sebelum memasuki bulan Ramadhan, perbanyaklah taubat dan istighfar. Semoga di bulan Ramadhan kita bisa menjadi lebih baik. Kejelekan dahulu hendaklah kita tinggalkan dan ganti dengan kebaikan di bulan Ramadhan. Ingatlah bahwa syarat taubat yang dijelaskan oleh para ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir rahimahullah, “Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya / mengembalikannya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14:61).

Inilah yang disebut dengan taubat nashuha, taubat yang tulus dan murni. Semoga Allah menerima taubat-taubat kita sebelum memasuki waktu barokah di bulan Ramadhan sehingga kita pun akan mudah melaksanakan kebaikan.

Di antara do’a untuk meminta segala ampunan dari Allah adalah do’a berikut ini:

doa1

[“Allahummagh-firlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa anta a’lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa khotho-i wa ‘amdii, wa kullu dzalika ‘indii”]

(Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan) (HR Bukhari no. 6398 dan Muslim no. 2719).

Perbanyak Memohon Kemudahan dari Allah

Selain dua hal di atas, kita juga harus pahami bahwa untuk mudah melakukan kebaikan di bulan Ramadhan, itu semua atas kemudahan dari Allah. Jika kita terus pasrahkan pada diri sendiri, maka ibadah akan menjadi sulit untuk dijalani. Karena diri ini sebenarnya begitu lemah. Oleh karena itu, hendaklah kita banyak bergantung dan tawakkal pada Allah dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Terus memohon do’a pada Allah agar kita mudah menjalankan berbagai bentuk ibadah baik shalat malam, ibadah puasa itu sendiri, banyak berderma, mengkhatamkan atau mengulang hafalan Qur’an dan kebaikan lainnya.

Do’a yang bisa kita panjatkan untuk memohon kemudahan dari Allah adalah sebagai berikut.

doa2

[“Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa”]

(Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah) (Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya 3:255.

Dikeluarkan pula oleh Ibnu Abi ‘Umar, Ibnus Suni dalam ‘Amal Yaum wal Lailah).

doa3

[“Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaroot.”]

(Ya Allah, aku memohon pada-Mu agar mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran) (HR Tirmidzi no. 3233, shahih menurut Syaikh Al Albani).

Larangan Mendahului Puasa Ramadhan Sehari atau Dua Hari Sebelumnya Karena Keragu-raguan

Bagi yang tidak biasa berpuasa Sunnah, tidak boleh mendahului masuknya Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya dengan alasan berhati-hati (khawatir sudah masuk Ramadhan).

hadits7

“Janganlah mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari (sebelumnya) kecuali seseorang yang biasa berpuasa (Sunnah), (kemudian bertepatan dengan hari itu), silakan berpuasa.” (HR Muslim no. 1812)

hadits8

“Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang manusia ragu padanya (sudah masuk Ramadhan atau belum), maka ia telah bermaksiat kepada Abul Qosim (Nabi Muhammad) shollallahu alaihi wasallam.” (HR Abu Dawud, atTirmidzi, anNasaai, Ibnu Majah, dishahihkan oleh al-Hakim dan al-Albany)

Menentukan Masuknya Ramadhan

Penentuan masuknya Ramadhan adalah dengan melihat hilal. Jika terlihat hilal bulan Ramadhan, maka itu adalah waktu untuk berpuasa. Atau jika tidak nampak hilal, maka menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.

hadits9

“Berpuasalah dengan melihatnya (hilal) dan berbukalah dengan melihatnya. Jika kalian terhalangi oleh awan, maka hitunglah (sempurnakan Sya’ban) menjadi 30 (hari).” (HR alBukhari dan Muslim, lafadz berdasarkan riwayat Muslim)

Namun, persaksian itu perlu diputuskan oleh pemerintah muslim. Di masa Nabi, para sahabat yang mengaku menyaksikan hilal, menyampaikan kepada Nabi. Jika diterima persaksiannya, maka pada saat itu diumumkan datangnya Ramadhan.

Karena itu, keputusan masuknya Ramadhan di suatu negara diputuskan oleh pemerintah muslim. Jika diputuskan masuk Ramadhan, maka pada saat itulah semua kaum muslimin di wilayah itu juga berpuasa.

hadits10

“(Hari) berpuasa adalah pada saat kalian (bersama-sama) berpuasa. Dan (hari) berbuka adalah pada saat kalian sama-sama berbuka. Dan (hari) penyembelihan kalian adalah saat kalian (bersama-sama) menyembelih.” (HR atTirmidzi)

Semoga Allah menjadikan Ramadhan kita lebih baik dari sebelumnya. Marilah kita menyambut Ramadhan mubarok dengan suka cita, diiringi ilmu, taubat dan perbanyak do’a kemudahan.

Referensi:

https://rumaysho.com/1875-3-bekal-menyambut-ramadhan.html

https://muslim.or.id/4150-persiapkan-diri-menyambut-ramadhan.html

https://pustakahudaya.wordpress.com/2015/05/09/buku-ramadhan-bertabur-berkah/

https://rumaysho.com/11061-buku-panduan-ramadhan-1436-h-download-gratis-versi-e-book.html

 
Leave a comment

Posted by on May 20, 2016 in mutiaranya dakwah

 

Tags: , , ,

Monumen Batubara

1470116_10206091600270376_4841340395740414674_n

2 onggok batubara hitam bergerigi. Ndeprok di pinggir kali. Jadilah prasasti di Lagup Citi. Sebelum rontok dimakan ilusi… ‪#‎prasasti‬ ‪#monumenbatubara #‎tugubatubara‬‪#‎asalbunyi‬ ‪#‎pagisesayap‬ ‪#‎northborneo‬ ‪#‎edisimakaryo‬

 
 
%d bloggers like this: